LILY

LILY
kelakuan Linga



Nino dan dua anak buahnya pergi setelah menerima keterangan dari Arkan.


terlebih lagi mereka tak memiliki banyak bukti, saksi juga tak memberatkan pria itu.


"aku tak yakin, jika begal itu mati begitu saja, pasti ada yang aneh," kata Ferlan pada Nino.


"sudah tak perlu pusing, toh dia juga sudah mati ini, terlebih dia juga seorang buronan jadi meringankan beban polisi bukan," kata Nino enteng.


tapi tidak dengan Ferlan, dari kamar Linga membaca mantra untuk mengerjai Ferlan.


"kamu berani menghina ayah ku, jagi sekarang kamu harus tau rasanya," kata Linga tertawa.


dia memberi kode pada sen-sen yang langsung melompat ke wajah Ferlan dan mengacak-acak wajah pria itu.


bahkan cakaran hewan itu cukup membuat pria itu terluka, "dasar kucing aneh!!" teriak Ferlan marah.


kucing hitam itu berlari ke arah Linga yang sudah duduk di teras sambil memegang boneka.


Linga mengambil darah di kuku kucing hitam itu, "om Nino, aku akan main dengan anak buah ku ya," kata Linga menunjukkan bonekanya.


"Linga jangan ya nak ganteng..." mohon Nino


pasalnya dia tau jika bocah itu bisa melakukan hal mengerikan persis seperti ayahnya.


"tadi pria busuk itu menunjukkan keangkuhan pada papi bukan, sekarang kita lihat apa dia bisa sombong," kata Linga memelintir tangan boneka itu.


dan dari tangan Ferlan terdengar suara gemeretak tulang patah, bahkan tangan pria itu sudah berputar tiga ratus enam puluh derajat dan di jamin patah.


"he-he-he, bagaimana rasanya om, kesombongan ku, atau anda mau juga Briptu Fano?" tanya Linga.


"tidak nak, aku mah baik-baik, lebih baik minta maaf Ferlan," kata pria di samping pria itu yang kesakitan.


"Arkan tolong putra mu!!" panggil Nino yang kasihan melihat anak buahnya itu.


lingga pun tertawa dan kini malah meremas perut boneka itu, dan seketika Ferlan berteriak kesakitan.


"kamu tak percaya, ini buktinya, kamu mau apa sekarang?" tantang Linga.


"maafkan aku, aku salah..." mohon Ferlan.


Linga pun meniup boneka itu dan kemudian terbakar begitu saja, kondisi Ferlan pun berangsur-angsur membaik.


"sudah lihat, kamu tak bisa membuatnya masuk penjara, jadi mulai sekarang jaga omongan mu," kata Arkan yang muncul dari balik tubuh mereka.


"Allahuakbar!!" kaget ketiganya.


"ya Tuhan, anak sama bapaknya suka sekali main kaget-kagetan," kata Nino yang pasti dapat hal baru seperti ini.


"Yo, sen-sen ayo masuk kita bobok besok sekolah, Tante Kunti ikuti mereka, takutnya di jalan kena begal gak bisa melawan," kata Linga sebelum masuk rumah.


"hi-hi-hi..." ketiga orang itu merinding mendengar suara tawa dari atas pohon mangga di depan rumah.


"jangan deh Tante, kami ini polisi jadi gak usah di jaga Tante, Arkan kami pamit dulu, maaf mengganggumu," kata Nino yang paling anti dengan setan wanita itu.


Arkan pun hanya menggeleng pelan, yang di lakukan oleh Linga bukanlah santet, melainkan hanya permainan trik sederhana.


karena yang sebenarnya yang membantu bocah itu adalah Ki Sesnag, yang kini sedang tersenyum ke arah Arkan.


keesokan harinya, Arkan sudah berangkat ke bandara pukul lima pagi untuk menjemput istri dan mertuanya.


"loh Oma, papi kemana kok di kamar tidak ada?" tanya Lily yang heran tak menemukan pria itu.


"papi mu kan orang sibuk kak, sudah cepat sarapan dan berangkat sekolah, ini uang saku untuk kalian bertiga, dan untuk mu Linga tidak boleh naik sepeda sendiri,jadi ikut kak Lily dan kak Anand," kata Oma utami memberikan uang saku pada ketiganya.


"minta antar siapapun yang menjemput Shafa, kan beres, atau kamu bisa main di sana dan nanti minta jemput saat mbak pulang sekolah, tapi izin oke," kata Lily.


"baiklah mbak, Oma kalau gitu uang sakunya kurang, kan di sekitar pondok pesantren milik ayah besar banyak yang jualan," kata Linga.


"baiklah ini untukmu," kata Oma utami yang memberikan uang dua puluh ribu lagi.


"terima kasih Oma, Oma baik deh," kata Linga begitu senang


"Lily juga mau dong," mohon Lily.


"tidak boleh, uang kamu sudah banyak kan, terlebih kamu sudah pegang ATM dari mami kalian kan," kata Oma utami yang di balas senyum oleh Lily.


"baiklah Oma, kami pergi dulu, karena sudah siang, assalamualaikum..." kata anand yang harus menyeret dua orang itu.


mereka membawa motor untuk menuju ke sekolah, tadi pagi Anand juga sudah berbincang dengan ayahnya yang memperbolehkan dia menginap di rumah pakdenya itu.


ya setidaknya Aryan merasa aman karena putranya itu ada yang mengawasi dan tak akan macem-macem.


sesampainya di sekolah, Linga langsung berlari ke area Sekolah dasar, dan terlihat Shafa juga batu di antar oleh umi Kalila.


"umi... nanti Linga boleh main ke pondok ya, habis kalau nunggu mbak lily pulang kelamaan," izin bocah itu.


"baiklah, tapi nanti kalau di pondok kalian tak boleh menganggu Abi ya, terutama kamu Linga," kata umi Kalila mengingatkan.


"siap umi, ayo Shafa masuk kedalam sekolah yuk," ajak Linga mengenggam tangan saudaranya itu dengan erat.


umi Kalila pun merasa tenang, setidaknya Linga bisa melindungi Shafa selama di sekolah.


Lily sudah masuk kedalam kelas, dia heran melihat Uci yang menaruh wajahnya di meja.


"ya elah neng, masih pagi udah galau aja," ledek Lily.


"habis pagi ini masih belum bisa melihat om duda ganteng," jawab Uci.


"hei anand, hibur nih calon emak tirimu, kasihan masih muda udah tergila-gila sama duda," kata Lily meledek.


"besok orangnya juga pulang, mending besok kirimkan kue kesukaannya saat dia masuk," saut anand yang memang tak keberatan dengan siapapun yang ingin mendekati ayahnya.


"wah benarkah, berarti besok aku akan masak, uh... gak sabar aku..." kata uci berteriak senang.


Riya memukul kepala temannya itu dengan buku tulis, "sebelum itu, kerjain tuh tugas dari guru killer, atau kamu mau di suruh lari lima kali mengitari lapangan,"


"hah gila!! aku lupa karena terlalu teraryan-Aryan," kata Uci yang memang ceplas-ceplos.


Lily tertawa, tapi saat dia melihat ke plafon kelas, tiba-tiba tawanya hilang seketika.


Anand yang mengerti langsung melempari gadis itu dengan stipo, tapi gadis itu tak bergerak.


"Lilyana!!" teriak anand cukup keras hingga mengejutkan gadis itu dan seluruh kelas.


"kamu gila ya anand, masih pagi sudah teriak-teriak," kesal Dimas karena kupingnya berdeging.


tiba-tiba semua kaca di ruang kelas itu pecah, seluruh siswa yang ada di dalam jelas kaget.


Lily sudah terlihat berkaca-kaca, Anand pun langsung mengenggam tangan gadis itu dan menariknya keluar.


tapi tubuh gadis itu kaku dan tak bisa bergerak, yang tak terduga Linga datang dan langsung melempari kakak perempuannya itu dengan garam kasar.


"ya Allah!!" kaget semuanya.


Shafa terus membaca ayat kursi saat bisa melihat sosok yang menjauh dari kelas itu sambil tersenyum seram.