LILY

LILY
perubahan yang baik



para warga pun sudah datang ke area rumah yang sudah di tinggalkan lama itu.


terlihat area rumah itu begitu terang, dan gentong berisikan air itu pun perlahan mulai mendidih.


"pak tolong ambilkan air lagi beberapa timba ya, karena kalian semua harus mandi dengan air ini satu gayung." perintah Adit.


"tapi mas, itu airnya mendidih," kaget salah satu warga.


"bismilah saja pak, asalkan bapak yakin jika air ini bisa membawa kesembuhan, insyaallah tidak akan terasa panas, tapi ingat terus berdoa dan minta kesembuhan dari Allah, karena saya hanya perantaraan saja," jawab Adit dengan tersenyum.


mereka pun duduk bersila setelah menyiapkan semua yang di minta oleh Adit.


"sekarang tolong semuanya baca ayat kursi sebanyak tujuh kali dan juga alfatihah tujuh kali, setelah itu satu persatu datang menghampiri saya," perintah Adit.


dia memimpin para warga mulai membaca surat-surat yang di perintahkan.


ada sebagian warga yang tak percaya dan tak mau mengikuti Adit, karena mereka tak percaya tuhan bisa menyembuhkan mereka.


setelah itu, Adit memanggil satu persatu orang dan menyiramkan air yang mendidih dari dalam gentong yang sudah bercampur dengan ramuan khusus.


terlebih dia juga tadi menambahkan beberapa kayu-kayuan lain yang tak di ketahui eh para warga.


seorang pria merasa was-was karena air di gentong itu terus mendidih.


"yakin pada Allah ya pak, bismilah baca tasbih," kata Adit yang mulai menyiramkan air itu.


pria itu pun merasa air itu dingin, tapi mata semua warga tak percaya dengan apa yang mereka lihat.


jika tadi semua luka belum bisa sembuh langsung, tapi pria itu bisa langsung mengelupas semua kulit yang terluka itu.


bahkan perlahan luka itu tertutup dengan sangat baik, "jika anda memiliki Anam naik dan sholat yang baik, maka anda akan segera merasakan hal yang anda inginkan, tolong tetap jaga sholatnya ya pak," kata Adit pada pria itu.


"iya mas, ya Allah terima kasih atas nikmat kesembuhan mu," kata pria itu dengan begitu senang.


sedang para warga yang sebelumnya juga sembuh tapi harus mandi di samping sumur itu.


warga yang tak percaya ikut duduk berbaris, mereka tak tau jika Adit tau jika mereka menyatu dengan yang lain.


mereka hanya belum tau apa yang kan mereka dapatkan, Adit pun memanggil satu persatu orang untuk datang.


kini terlihat giliran para warga yang tadi tak percaya, "sebelum saya lanjutkan, saya ingin bilang jika anda yang tidak percaya dengan Tuhan, maka kalian tak akan pernah bisa sembuh," kata Adit.


tapi mereka nampak tak peduli, Adit pun tersenyum dan kembali mulai menyiramkan air panas itu.


benar saja satu orang langsung berteriak kesakitan, "panas!!!" teriaknya membuat semu warga heran.


"karena Anda tak percaya jika tuhan bisa menyelamatkan dan menyembuhkan anda," kata Adit yang tiba-tiba gentong itu pecah sendiri dan air itu pun terserap ke dalam tanah.


"baik semuanya, besok semua harus ke mushola untuk sholat subuh, jadi kalian bisa istirahat."


Adit pun mengangguk dan kemudian masuk kedalam rumah, semua warga yang sudah sembuh tak menyangka akan merasakan hal ini.


kutukan yang di terima karena para orang tua, kini sudah lenyap dan mereka pun sudah sehat kembali.


Adit pun memilih mandi sebelum tidur, pukul empat pagi Adit baru bangun dan bergegas ke Mushola.


ternyata pria yang semalam sembuh paling cepat sudah ada di Mushola tengah membersihkan tempat ibadah itu.


"waalaikum salam mas Tama, Monggo silahkan masuk, saya juga sudah selesai membersihkan mushola," kata mas Imin


"Alhamdulillah, kalau boleh tau mas Imin usianya berapa?" tanya Adit.


"usia saya tiga puluh lima tahun mas, tapi karena penyakit kemarin jadi tak ada wanita yang mau dengan saya, jadi masih jomblo sampai sekarang," kata mas Imin tertawa.


"berdoa saja, saya yakin setiap manusia itu di ciptakan berpasangan, siapa tau jodoh mas Imin masih di jalan, sudah mas biar saya adzan, mas Imin tolong ambil air wudhu ya," kata Adit.


"inggeh mas," jawabnya.


beruntung toa Mushola itu masih berfungsi dengan baik, Adit pun mulai adzan.


tak lama warga pun berbondong-bondong datang ke musholla sesuai janji mereka.


Adit pun bersyukur dan mulai menjadi imam sholat subuh, setelah sholat subuh mereka tak diizinkan pulang karena Adit akan memberikan sedikit ilmu pemahaman tentang agama.


Adit benar-benar mengamalkan apa yang dia pelajari dari Arkan dan saudara yang lain.


"baiklah bapak-bapak dan ibu-ibu nanti setelah sholat magrib Monggo kita lakukan tahlilan dan kirim doa,siapapun yang ingin membawa makanan silahkan,sekalian kita menunggu sholat isya'," kata Adit.


"baik mas Tama," jawab semua warga.


sedang di rumah Arkan, seperti setiap pagi kehebohan selalu datang di rumah itu, pasalnya Lily yang terus menganggu Linga.


"ya Allah Lily, berhenti menganggu adikmu," tegur Tasya.


"dia duluan Nami yang menganggu diriku, jadi rasakan biarkan saja dia tak bisa berangkat ke sekolah, wlek..." kata Lily sambil menjulurkan lidahnya.


"memang kalian ingin di hukum karena tak mau sekolah," kata Arkan dingin yang datang setelah siap.


"gak kok papi, kami hanya bercanda," kata Lily memberikan tas ransel milik Linga.


"dasar mbak tukang ganggu adiknya," kata Linga yang langsung duduk di samping Arkan.


"ayo sarapan Lily, kamu bisa telat, dan hari ini papi mungkin seharian di sekolah bersama Faraz dan Aryan, jadi mami tolong nanti antarkan makan siang ya," kata Arkan melihat istrinya itu.


"siap papi, sekalian nanti mami jemput Linga, Lily bisa pulang bareng Anand ya," kata Tasya tersenyum menggoda putrinya itu.


"tidak mau, aku bisa menunggu papi pulang," kata Lily yang masih kesal.


"tak perlu, nanti ada tukang ojek yang akan menjemput Lily dan mengantarkannya pulang," kata Arkan.


"itu lebih baik, terutama tukang ojeknya harus perempuan ya papi," kata Lily.


"itu bisa di atur, toh tukang ojeknya kenalan mami," jawab Arkan yang sedang sarapan.


Tasya hanya tersenyum saja, akhirnya mereka bertiga pun pamit berangkat.


sedang Tasya langsung menuju ke area penggilingan beras karena sekarang dia yang melanjutkan usaha milik keluarga suaminya itu.


karena Arkan fokus pada beberapa usaha yang lain yang mengharuskan dia beberapa kali ke luar kota.


belum lagi bertemu dengan para investor yang tak bisa Tasya lakukan karena larangan dari Arkan, yang tak ingin istrinya itu bertemu dengan lawan jenis yang bukan muhrimnya.


ustadz Faraz dan Shafa juga sudah siap berangkat, dan tadi umi Kalila juga sudah menghubungi sepupunya yang akan datang nanti malam bersama keluarganya juga.