
"Wah, paman. Ibukota ini sangat besar dibandingkan dengan kota kelahiran paman" ucap Lily sambil mengamati pemandangan Ibukota Jade Air.
"Iya. Mana bisa Ibukota dibandingkan Kota Angin Berkabut, Lily" ucap Panglima Darma sambil menggelengkan kepala karna ucapan Lily.
"Hehehe" Lily hanya bisa cengengesan dengan ucapannya.
Ketika akan memasuki Ibukota, para penjaga gerbang memberhentikan kereta Lily.
"Maaf kalian belum bisa lewat sebelum pemeriksaan" ucap salah satu penjaga gerbang.
"Hahaha Sam, apakah akan tetap ada pemeriksaan untukku" ucap Panglima Darma sambil keluar dari dalam kereta.
Prajurit yang bernama Sam itu terkejut dengan kehadiran Panglima Darma segera memberi hormat begitu juga dengan prajurit yang lainnya.
"Hormat kepada Panglima" ucap Sam dan prajurit lainnya serentak.
"Berdirilah" ucap Panglima Darma.
"Maaf Panglima, saya tidak tahu bahwa kereta ini adalah milik anda" ucap Sam meminta maaf.
"Hahaha tidak apa-apa" jawab Panglima Darma.
"Paman, kenapa kita berhenti?" ucap Lily yang tiba-tiba juga ikut keluar kereta karena penasaran kenapa kereta mereka tidak jalan-jalan juga.
Sesaat Sam dan prajurit lainnya terpesona dengan kecantikan Lily yang lembut berbalut gaun berwarna pink pudar yang dicampur dengan warna putih.
"Hahaha tidak ada apa-apa Putri, hanya beberapa pemeriksaan sebelum masuk kedalam Ibukota" jawab Panglima Darma.
'Putri. Panglima memanggilnya dengan sebutan Putri. Jangan-jangan...' seakan tahu Sam dan prajurit itu membungkuk dan memberi hormat kepada Lily.
"Hormat kepada Putri Lily, maafkan kami yang tidak mengenali anda" ucap Sam dan prajurit lainnya.
"Tidak apa-apa. Jangan membungkuk cepatlah berdiri" ucap Lily lembut diiringi senyuman manis.
Sam dan prajurit itu lalu berdiri walau sempat terpana dengan senyuman Lily hingga mereka sadar bahwa yang mereka kagumi itu adalah Putri kerajaan mereka sendiri.
"Panglima jangan bercanda. Tentu saja pemeriksaan itu sudah tidak ada" ucap Sam memelas karena candaan sang Panglima.
"Hahaha baiklah. Kalo begitu saya dan Putri pamit dulu" ucap Panglima Darma.
"Mari Putri" sambungnya mengajak Lily masuk ke kereta.
"Semoga perjalanan Panglima dan Putri lancar sampai di istana" ucap Sam.
"Terima kasih ya kak prajurit" ucap Lily kembali tersenyum dan masuk kereta tanpa menyadari bahwa Sam dan prajurit lainnya kembali terpana dengan senyuman Lily dan panggilannya kepada mereka.
Setelah kereta rombongan Lily masuk, Sam dan Al baru mengembalikan kesadaran mereka.
"Ternyata Putri Lily sangat baik dan ceria. Dia bahkan memanggil kita kak prajurit, oh betapa bahagianya" ucap Sam.
"Iya" jawab Al singkat tapi tidak ada yang tahu apa yang dipikirkannya.
"Ayo kembali fokus" ucap Sam yang diangguki Al.
Perjalanan dari gerbang ke istana berjalan lancar tanpa ada hambatan. Setiba di gerbang istana mereka kembali diberhentikan tapi dengan adanya Panglima Darma, perjalanan mereka kembali berlanjut.
Mereka tiba ditempat penitipan kereta yang singgah di istana. Setelah Lean dan Lein mengurus kereta, rombongan mereka masuk ke istana.
Setibanya dipintu masuk Istana, sudah ada beberapa pelayan yang menunggu kedatangan Lily dengan berbagai kelengkapannya.
"Putri, mari ikut kami dulu untuk mengganti pakaian" ucap salah satu pelayan.
"Baiklah" ucap Lily yang sadar bahwa dia tidak mungkin masuk keruang singgasana dengan pakaian biasa.
Lily mengikuti pelayan itu masuk kedalam sebuah kamar yang diikuti pelayan lainnya. Tak butuh waktu lama, Lily keluar dari kamar dengan gaun berwarna putih yang dilingkari warna hijau pada lengan, kerah leher, bagian bawah gauh dan lingkaran kecil dipinggang. Gaun itu agak berada dibawah lutut Lily dikombinasikan dengan sepatu berwarna hijau membuat Lily yang sudah cantik bertambah lagi nilai cantiknya. Sedangkan rambut Lily sendiri dirangkai dengan sebuah pita berwarna putih yang senada dengan rambut hitamnya.
Bahkan Panglima Darma yang sudah lama bersama Lily sempat terpana dengan kecantikan Lily saat ini, begitu juga dengan yang lainnya.