
melihat apa yang terjadi pada Lily, Kong sudah tak bisa melihat Keduanya terpisah lagi.
dia pun memutuskan untuk pergi menemui pemuda itu dan melakukan pekerjaannya yang terakhir.
Arkan bisa merasakan ada arwah gadis yang tersesat di sekolah ini dan aura dendam yang sangat kuat.
"besok lakukan pengajian selama seminggu setiap pagi, untuk menjaga semua murid," perintah Arkan pada wakil kepala sekolah, di bidang kesiswaan.
"baik pak Arkan, sekarang aku akan membawa putriku ini pulang," kata arkan.
"iya pak," jawab semua guru.
Uci sudah mengambilkan tas milik Lily,dan gadis itu pun di gendong oleh Arkan.
"apa yang sebenarnya kamu lakukan Aryan, jangan membuatku marah dengan melalui kesalahan yang bisa mencemarkan yayasan yang di buat oleh kakek kita," gumam Arkan mulai marah.
akhirnya dua pun membawa Lily pulang, "oh... sepertinya besok ayah akan dapat ceramah besar dari dua saudaranya, calon enak woy... besok buat brownies coklat, lumayan buat nenangin calon suami!!" teriak anand.
"gak usah teriak, aku disini," ketus Uci.
Anand dan Riya hanya tertawa saja melihat tingkah laku dari Uci yang pasti semangat, "oke, kita besok bersiap-siap makan brownies gagal nih," ledek Riya.
"ih... kok gitu," kesel Uci.
"habis kamu itu paling lemah kalau di suruh buat kue, benar tidak, ayolah kita semua tau siapa dari Kuta bertiga yang tak bisa membuat kue," kata Riya makin menjadi.
"kenapa bingung, kan ada brownies instan bestie," kata Uci merangkul Riya.
"aduh ketahuan nih, aku bisa bilang ayah jika brownis buatan Uci dari kue instan, ha-ha-ha-ha," ledek Anand.
"diamlah, kamu menyebalkan juga Anand," kata Uci.
sedang mereka pun kembali ke kelasnya, sedang Lily sudah sampai di rumah dan di bawa ke ruang tengah.
Tasya pun mencoba menyadarkan putrinya itu, "Lily ... sayang bangun yuk, jangan membuat mami khawatir,"
Lily pun perlahan mulai membuka mata, dan melihat Tasya yang ada di depannya.
"mami...." tangis gadis itu sesenggukan.
"kenapa sayang, kamu kenapa bisa menjadi seperti ini, padahal mami sudah pesan untuk tidak membantu arwah yang bisa membahayakan mu," kata Tasya.
"aku kasihan mami, terlebih dia mati di sekolah dan tubuhnya di buang di tempat sampah, tapi setelah itu aku tak tau lagi," terang Lily.
"jangan bohong Lily, apalagi yang kamu lihat, karena tadi kamu sempat ingin lari dan memanggil nama Adit," kata Aryan dengan datar.
"aku hanya melihat semuanya, ketika kak Adit terluka karena aku, dan sekarang bagaimana kondisinya, papi dan mami tak boleh bohong padaku, jujur Pi... mi... aku mohon," kata Lily.
"bukan kami tak mau jujur Lily, tapi dia uang tak mau membuatmu khawatir, jadi kami memilih untuk menyembunyikan semuanya," terang Tasya.
"mami... kalian begitu jahat, kenapa kalian tega padaku," tangis Lily yang begitu emosional.
"dia terluka parah, racun yang dia seram sekarang sulit di hilangkan, dan dia hanya bisa seperti mayat hidup, jadi berhenti menyia-nyiakan hidup kedua mu Lily,dan mulai sekarang kamu harus memperkuat dirimu lagi jika ingin membantu para arwah itu pergi," kata Arkan.
"apa .... tapi kenapa bisa, kak Adit," tangis Lily.
"ada apa?" tanya Linga yang merasa aneh.
"itu ada kera besar itu, dan juga hantu yang tadi pagi," kata Shafa.
kenapa kalian ini datang kesini," tanya Arkan yang mendengar ucapan dari gadis kecil itu.
"aku mau melihatnya, tolong papi..."
"tidak bisa Lily, dia tak boleh di lihat seseorang, dan nanti saat nanti dia sembuh dia sendiri yang akan pulang ke rumah, jadi kamu harus fokus dalam pelajaran dan pelatihan mu, karena sekarang tak ada siapapun yang bisa melindungi mu," kata Arkan.
Kong yang merasa kasihan pun memilih untuk menemui Adit yang sedang berobat.
Dengan teleportasi, kong dengan satu lompatan sudah berhasil datang ke ruangan rawat Adit.
separuh tubuh pria itu masih membiru, racun itu jika tak di keluarkan pada dua bulan purnama terakhir.
maka saat itu Adit akan kehilangan kesehatannya selamanya, "aku datang untuk menolong mu?"
"kena.. pa... bukan... kah kamu ingin... melin.. dungi.. Lily..." lirih Adit dengan nafas yang tersengal-sengal.
"aku sudah capek bro, mending aku menyembuhkan mu dan membuat mu menjadi pelindungnya, karena aku tak bisa lagi berada di sampingnya, dan jika kamu tak melakukannya dengan baik, tapi kamu harus tau jika anand itu menyimpan rasa pada Lily dan sekarang mereka makin dekat," kata Kong.
"aku sudah pasrah, lebih baik kamu yang berada di spring lily, karena aku terlalu lemah," kata Adit lirih.
Kong langsung mengigit kaki dari Adit, dan mulai menghisap racun yang tersisa.
saat dia menghisap racun, dia juga mengalirkan kekuatannya pada Adit, bahkan Kong juga membuat kutukan si pahit lidah juga bilang.
perlahan warna biru di setengah bagian tubuh Adit pun perlahan hilang, dan mulai seperti tubuh biasa.
kong pun tersenyum, perlahan tubuhnya sudah transparan, "kamu kenapa melakukan itu, kamu adalah raja kera putih,"
"Aku hanya makhluk tuhan,dan aku sudah terlalu lama di dunia ini, jadi aku sudah lelah dan memilih tenang untuk menyebrang, dan tolong ingat untuk selalu menjaga Lily oke," kata Kong yang menghilang.
"baiklah aku janji padamu, dan terima kasih atas segalanya," kata Adit mengangguk patuh.
kong pun berubah menjadi butiran debu, sedang Adit pun hanya bisa merasa sedih melihat mahkluk yang menemaninya tumbuh dari kecil.
Arkan kini berada di pondok untuk membicarakan hal uang di maksud oleh Lily.
karena dia tak ingin yayasan yang sudah di bangun dari nol oleh kakek mereka harus hancur.
"jadi ada apa Bung, dan kenapa putriku tidak kamu ajak pulang juga," kata ustadz Faraz yang tak melihat Shafa.
"kenapa kamu ngomong begitu, dia juga putriku jadi biarin dong kalau mau nginep, toh besok libur juga," kata arkan cuek.
"terserah kamu deh, terlebih putramu tadi sudah membuat drama, dan kamu tau reaksi istriku tadi, biarkan saja Abi, mungkin mereka memang belum bisa di pisahkan. dan aku pun tak bisa jawab apa pun," kata ustadz Faraz.
Arkan pun tertawa, "sudah jangan bahas anak-anak, sekarang kita bahas ada hantu gentayangan di sekolah, Lily sudah hampir bahaya karena arwah itu, sepertinya kita harus melakukan pembersihan sekarang,"
"kalau begitu nanti malam saja, kebetulan aku juga sedang kosong, benarkan umi?" tanya ustadz Faraz pada istrinya.
"iya Abi, baiklah kalau begitu Abi boleh pergi kok," kata umi Kalila.