LILY

LILY
tidak bisa menyebrang.



Ustadz Faraz pun datang dan membantu saudaranya itu, mereka baru juga menginjak kaki di pelataran rumah itu.


tiba-tiba ruang itu retak dan mulai terasa guncangan, ustadz Faraz melihat adiknya itu yang sudah membaca mantra.


para penghuni rumah pun keluar dengan kocar-kacir, dan meninggalkan kedua orang itu di dalam rumah.


ustadz Faraz dan Arkan langsung berlari masuk kedalam rumah, dan setelah itu seluruh pintu dan jendela di ruang itu seperti terkunci dengan rapat.


"lihatlah Nyai Ageng pengging sendiri yang menyambut kedatangan kita," kata Arkan dengan senyum yang merekah.


"dari begitu banyak manusia yang pernah aku lihat dan aku temui, hanya kamu orang paling tengil, bahan ayahmu saja tak seberani dirimu," kata nyai Ageng pengging.


"terima kasih atas pujiannya," jawab arkan tersenyum saja.


"dasar cah edan,"


ustadz Faraz mulai membacakan doa, "kamu mau apa Faraz, kamu ingat perjanjian kita dulu tak boleh saling menganggu,"


"itu benar, tapi jika anda menyiksanya seperti ini, bukankah Anda telah melanggar semua poin perjanjian kita," jawab ustadz Faraz tanpa takut.


"kalian ini memang benar-benar ya, aku akan membawa mereka pergi ke alam ku untuk menjadikan keduanya abdi di istana ku," kata Nyai Ageng pengging.


"kalau begitu tolong cepatlah, jangan menyiksa lagi, bahkan pocong di luar itu saja masih belum bisa nyebrang juga," kata ustadz Faraz yang tak memberikan kelonggaran sedikit pun.


"baiklah aku mengerti, ku beri kalian waktu tiga hari untuk mereka berpamitan pada keluarganya.


tapi setelah itu mereka milikku dan tak ada yang boleh ganggu gugat, terlebih kamu tole," kata Nyai Ageng pengging menunjuk Arkan


di hanya tertawa saja mendapat ultimatum dari sosok itu, dan akhirnya rumah itu akhirnya terlihat bisa saja.


keduanya keluar dengan tatapan dingin, bahkan Keduanya nampak kontras.


saat ustadz Faraz mengenakan baju Koko dan sarung serta peci dan terlihat begitu adem.


sosok Arkan malah mengenakan sebuah ikat kepala berwarna hitam, dan juga baju serba hitam.


tapi bagi yang belum tau Arkan sering di panggil Mbah dukun, padahal dia juga mengerjakan sholat dan yang lainnya.


sama seperti ustadz Faraz, "silahkan lihat orang tua kalian, mereka sudah tak apa-apa, kami pamit kalau begitu," kata ustadz Faraz.


Arkan melihat sosok pocong Andi yang berdiri di depan rumah itu, pocong itu pun mengingat semua kenangan indah bersama dengan orang tuanya.


bagaimana dia yang sedang belajar bermain sepeda dengan sang bapak, dan ibu yang selalu tersenyum kearahnya.


"ayo Andi, anak ibu hebat!!!" suara ibunya yang begitu lembut dan penuh kasih.


pocong Andi pun tak bisa menahan air matanya, Arkan berdiri samping pria itu.


"sudah masuk dan lihat orang tuamu, dan maafkan mereka, siapa yang tau mungkin kamu bisa menyebrang setelah ini," bisik Arkan.


"terima kasih om..." kata pocong itu melompat.


di Singapura, Tasya pun memberikan tasbih ke tangan Adit yang baru saja sadar.


"besok Nani pamit pulang ya Adit, maafkan mami... tapi Lily mulai curiga karena kepergian mami, kami sebisa mungkin menjaga Lily sesuai permintaan mu, agar dia tak sedih dan menyalahkan dirinya sendiri," kata Tasya dengan suara gemetar.


Adit hanya diam dan hanya bisa meneteskan air mata saja, "tenang Tasya, aku akan menjaganya untuk kalian semua, Daddy tolong jaga dia," pesan logan.


di rumah keluarga Arkan, Lily yang sedang duduk termenung sambil bersandar di punggung Kong.


bisa merasakan jika makhluk itu sedang sedih, bahkan Kong beberapa kali mengusap air mata


"aku tak tau jika ada siluman seperti mu yang bisa seperti ini menangis tersedu-sedu," ledek Lily.


"bagaimana pun aku punya perasaan,bukan batu yang hanya diam tak menunjukkan reaksi apapun," kata Kong kesal.


motor yang di bawa Arkan sampai di rumah, tapi tubuh pria itu penuh dengan darah, bahkan sampai langkahnya saja membekas di lantai.


"papi kenapa!!!" panggil Lily yang kaget.


tapi dia memilih mengambil alat pel untuk membersihkan bekas lantai, sedang Arkan memilih mandi.


tak lama ada rombongan Nino yang datang bersama beberapa polisi. "stop!! sebelum masuk kelas sepatu, jika tidak aku akan menghajar kalian semua," ancam Lily.


Nino yang tau Lily yang keras kepala dan tak kenal takut pun memilih melepas sepatunya.


tapi salah satu anak buah Nino yang tak peduli langsung naik ke tangga rumah yang batu di pel oleh Lily.


dan benar saja, akhirnya alat pel itu melayang ke wajah polisi itu, "mau muka ku yang aku pel, atau lepas sepatumu," kata Lily.


"sudah lepas saja, dari pada masa depan kalian semua hilang karena alat pel," kata Nino yang langsung masuk.


Lily pun membiarkan teman papinya itu, setelah kedua pria itu melepas sepatu Lily baru membiarkan mereka masuk.


Arkan sedang duduk menikmati rokok yang batu di nyalakan di ruang tamu.


Oma utami datang membawa minuman untuk semua tamu, "Monggo silahkan di minum, pasti haus kan terlebih dapat cobaan besar,"


"terima kasih ibu," kata Nino sopan.


"jadi aku harus masuk penjara atau gimana?" tanya Arkan dengan santai.


"tidak perlu, semua saksi meringankan dirimu, tapi lain kali kamu tak harus membunuhnya," kata Nino.


"memang ada bukti aku menyentuh mereka, sidik jariku ada di tubuh mereka, tidak bisa kamu membuktikan jika aku yang membunuh mereka," kata Arkan santai.


"tapi mereka mati setelah mengambil sepeda motor mu dan milik seorang gadis yang lewat," kata salah satu polisi yang datang bersama dengan Nino.


"memang apa buktinya jika aku membunuh mereka, tidak ada bukan, jadi kalian tentu tak bisa membuktikan apapun, lagi pula kesaksian semua orang pasti tau jika mereka mengorok leher masing-masing, dan aku hanya langsung mengambil sepeda motorku begitu mereka mari, kalian sampai datang kemari, dan jika kalian berani bilang aku mengambil barang bukti, aku bisa membuat kalian semua menyesal," kata arkan yang sedang dalam suasana hati yang buruk.


"om Nino lebih baik pulang, aura papi sudah merah pekat, jika kalian tidak ingin terkena lemparan santet mending jangan ganggu papi," kata Linga yang mengendong sebuah kucing hitam.


"dasar anak kecil, kamu tak perlu ikut campur," marah polisi bernama Ferlan itu.


tak terduga Linga membisikkan sesuatu pada kucing hitam miliknya, dan kucing itu langsung dalam mode menyerang dan menatap polisi yang berani membentak Linga.


saat kucing itu melompat, Lily menangkapnya dan langsung melemparkannya ke luar rumah.


"sudah ku bilang jangan biarkan kucing itu berkeliaran di dalam rumah!!"


"mbak jahat, meski sen-sen tak bisa melukainya, aku pastikan dia tetap akan celaka karena berani bersikap kurang ajar," kata Linga tersenyum dengan wajah jahat.


Nino saja merinding melihat reaksi putra temennya itu, "dasar bocah prik," kata Ferlan.