
Arkan pun kaget melihat ketiga gadis itu yang pulang dengan tergesa-gesa.
bahkan Linga langsung tergletak kelelahan, "kalian kenapa malah seperti di kejar maling begitu," kata Arkan.
"ini karena kak anand gila, dia hampir melecehkan mbak Lily, bahkan dia mengajak dua temannya," kata Linga dengan wajah kesal.
"apa yang di lakukan oleh Anand padamu?" tanya Aryan yang baru keluar dari dalam rumah.
"halo yayangnya aku..." kata Uci dengan nafas terputus-putus.
Arkan melihat saudaranya itu, "kalian pacaran?" sambil menunjuk ke arah Uci dan Aryan.
"kamu gila, dia saja selalu ngomong gak jelas, apa yang di lakukan oleh anand pada kalian, jawab Lily?" tanya Aryan yang terlihat sudah marah.
"kak anand ingin menjadi kekasih kak Lily, dia bilang jika tidak mau mereka akan menyakiti kami," kata Linga.
"aduh ini bocah nyahut Mulu," kata Arkan mengeleng melihat putranya itu.
"dia benar-benar sudah gila ternyata, sebenarnya apa yang dia inginkan, aku bahkan tak pernah mengajarinya berperilaku seperti itu," kata Aryan.
"sudahlah kita pikirkan cara agar remaja labil itu sedikit berubah," kata Arkan.
"kalian semua masuk dulu saja, tadi mami sudah membeli martabak telor dan terang bulan, ayo masuk Riya, Uci," panggil Tasya yang datang dari dalam rumah.
"baik mami... sayangnya aku tak ikut masuk," kata Uci.
"sudah jangan membuat kami kesal juga Uci, ayo masuk ..." tarik Lily.
"dasar gadis aneh," kata Aryan merasa lelah dengan sikap Uci.
kedua pria itu berdiri di depan rumah, "ayo kita cari bocah itu dan aku harusnya bersikap tegas,"
"tidak perlu, sebentar lagi dia akan datang mencari kita, karena dia mungkin akan-" perkataan Arkan terputus oleh suara dari panggilan sesuatu.
"ayah ... ayah besar, tolong kami, dimas hilang dan aku tak bisa menemukan teman ku itu, dia itu cucu juragan Suroso," kata Anand yang datang dengan panik.
bukan jawaban, tapi sebuah tamparan keras dia terima dari ayahnya.
anand pun tersungkur dengan keras, "aku tak pernah mengajarimu jadi bajingan seperti ini anand, jangan meniru semua sifat buruk ibumu, berhenti berulah!" marah Aryan.
"hentikan Aryan, kita bahas nanti, sekarang kita cari dulu pemuda itu," kata Arkan memisahkan mereka.
tapi tak terduga Linga keluar dari dalam rumah, "kalian tak akan menemukan dia sampai besok pagi, karena kak Anand sudah membuat marah penjaga mbak Lily, jadi selamat menikmati Omelan juragan Suroso, ha-ha-ha," kata bocah kecil itu.
Anand pun kaget, "apa maksud mu Linga,"
"kamu dengar, penjaga Lily itu adalah hal yang tak mudah di hadapi, karena kalian sudah membuatnya marah, maka aku juga tak bisa melakukan apapun," kata Arkan.
mendengar hal itu, dia pun langsung jatuh terduduk, apa yang harus dia jelaskan pada keluarga Dimas.
"kenapa kamu kaget begitu, kamu tentu tau benar jika kedua anak dari ayah besar mu ini punya khodam penjaga, dan kamu sudah membuat salah satunya marah, maka rasakan akibatnya, dan ayah kecewa padamu Anand," kata Aryan yang langsung meninggalkan rumah Arkan.
"ayah, aku mohon dengarkan permintaan ku dan penjelasan ku,
dulu ayah!!!" kata Anand yang hampir frustasi.
dia pun memilih pulang ke rumahnya, ya dia sudah meninggalkan rumah keluarga Faraz.
"ayah besar,aku harus bagaimana, aku tau jika perasaan ku salah, tapi kenapa ayah memperlakukan aku seperti orang lain?" marah Anand.
"apa jamu menyalahkan ayah mu,coba kamu ingat betul-betul apa dia pernah melakukan hal yang membuat mu menjadi orang asing, tidak akan Anand, karena kamu adalah hidupnya, jika dia memikirkan dirinya sendiri, mungkin kamu akan di berikan pada ibu mu dan dia menikmati hidupnya, apa itu yang di lakukan ayah mu, kamu tak buta dan bisa berpikir, jadi renungkan apa dia memikirkan kebahagiaannya saja, atau kamu yang tak pernah puas dengan semua keinginan mu," saut Arkan yang mulai terpancing emosi.
anand terdiam, dia pun merasa jika yang di katakan oleh ayah besarnya itu benar.
Aryan selama ini hanya melakukan pekerjaan dan juga merawatnya hingga sebesar ini, dan sekarang hanya demi perasaannya dia membuat ayahnya malu pada saudara-saudaranya.
Aryan menangis sepanjang jalan, dia kadang meras lelah, dia menuju ke rumah sendiri di desa sebelah, dan tak terlalu jauh dari desa Arkan saat ini.
dia merasa jika hidupnya berantakan sekarang, Anand yang makin tak bisa di kendalikan.
dan juga pekerjaan yang semakin semakin menyita waktu, dan belum lagi kegiatan sekolah dan tingkah Uci yang kadang sering membuatnya hampir kehabisan kesabarannya.
"aku lelah!!" teriaknya frustasi.
tanpa di duga anand sayang fan langsung memeluk ayahnya itu, "maafkan aku ayah..."
tapi tak terduga Aryan melepaskan pelukan dari putranya itu, "apa yang sudah ayah berikan kurang Anand, tolong untuk sekarang jangan ganggu ayah, ayah butuh waktu sendirian dulu,"
Aryan pun langsung masuk kedalam kamar miliknya, Anand pun hanya bisa menangis, bahkan Erland yang tau jika temannya itu tak memiliki ibu pun kaget melihat rumah itu.
pasalnya meski tak ada wanita, rumah itu sangat bersih dan rapi, "wah ternyata pak kepsek dan anand kaya juga ya," batinnya.
Erland pun mengajak Anand untuk duduk di kursi, "lebih baik kalian menenangkan diri terlebih dahulu, nanti biar aku yang bilang ke keluarga Dimas jika pria itu sedang menginap di rumahku, dan aku yakin besok Dimas pasti ketemukan,"
"baiklah,kamu bisa membawa sepeda motorku untuk pulang," tawar anand yang tak ingin temannya itu berjalan kaki.
"tidak usah, aku bisa membawa motor Dimas," jawab Erland yang kemudian pamit pulang.
Anand tak mengira jika perasaannya begitu melukai sang ayah, dia tau jika rasa ini salah.
dia pun berdiri di kamar mandi dan mengetuk pintu kamar itu, "ayah... aku minta maaf, aku tau ini perasaan yang salah, jadi bisakah ayah mengirimkan aku ke luar negeri untuk belajar, semoga dengan begitu aku bisa melupakan Lily, aku sadar kebersamaan kami yang terlalu intens setahun ini membuat ku lupa siapa gadis yang selalu bersamaku, jadi aku ingin minta maaf ayah..."
"itu akan ayah pikirkan, lebih baik kamu tidur dahulu," saut Aryan yang sedang duduk sambil melihat foto lama keluarganya.
"kau puas Nayla, seandainya kami bisa saja bersyukur atas apa yang kamu miliki, aku tak akan harus melihat hari ini, bahkan putra kita tak akan menjadi pria dengan perilaku kasar," gumamnya menangis sampai pagi.
Uci dan Riya memutuskan untuk pulang, di perjalanan kedua gadis itu saling diam membisu.
"sampai ketemu besok pagi di sekolah ya," kata Uci yang mengantarkan Riya.
"iya, terima kasih atas tumpangannya," kata Riya.
Uci pun pamit pulang, Riya adalah tetangga dari anand dan Aryan, pria itu selama itu memang terkenal dingin.
tapi hari ini dia merasa iba pada pria yang selalu telihat tegar itu. rumah itu akhirnya gelap gulita.
"apa pak Aryan dan Anand baik-baik saja," gumam Riya yang khawatir.