LILY

LILY
pria bertopeng.



Lily sedang menunggu tukang ojek yang harusnya menjemputnya, tak lama pria tua itu datang dengan senyum.


"maaf mbak saya telat karena ketiduran," kata Lily membaca tulisan di ponsel pria itu.


"iya gak papa pak, sekarang lebih baik tolong antar saya pulang ya, soalnya saya sudah lelah, terlebih satu hati ini pelajarannya cukup menyulitkan, seandainya kak Adit disini,"kata Lily yang naik ke atas jok motor.


pria tua itu pun tersenyum sekilas, perjalanan menuju ke rumah juragan Arkan tak butuh waktu lama.


saat sampai, Lily memberikan uang sepuluh ribu dan pria itu bergegas pergi.


"semoga bapak terus di beri kesehatan," kata Lily melihat pria tua itu.


karena sudah sore, Lily pun memutuskan untuk mandi, "assalamualaikum..." salam Lily saat masuk rumah


"waalaikum salam, mbak sudah pulang, cepat mandi papi dan mami ada acara di desa sebelah jadi kita di rumah cuma berdua," kata Linga.


"baiklah, tapi ada makanan kan, aku sudah lahir nih," kata Lily yang menaruh tas dan langsung ke dapur.


"ada kok," jawab Linga yang tersenyum jail.


Lily pun dengan semangat ke dapur tapi saat membuka tudung saji, dia kesal, pasalnya semuanya kosong.


"Linga kamu menghabiskan Semuanya!!" marah Lily.


"maaf habis enak, mbak masak saja, toh bisa masakkan?" jawab Linga tertawa.


"menjengkelkan!!" kesal Lily.


dia pun mengambil ayam di dalam kulkas dan mulai memasaknya menjadi ayam goreng tepung dan juga tak lupa melihat nasi.


ternyata nasi masih ada jadi dia membuat nasi daun jeruk, dan itu sangat enak.


setelah semua masakannya matang, Lily pun langsung menikmati makanan itu sendiri.


tapi tiba-tiba sebuah gambaran muncul, dan membuatnya menangis.


"jangan menangis cantik, kakak akan selalu melindungimu," bisik suara itu lembut di telinga Lily.


mendengar itu, Lily langsung menghapus air matanya dan mencari sosok itu di sekelilingnya.


tapi sialnya dia malah ketahuan oleh Linga yang tak sengaja melihat ke kolong meja.


Adit pun memberikan isyarat untuk diam, kemudian meminta Linga untuk membuat Lily menjauh.


Linga pun mengangguk dan langsung mengambil makanan Lily dan pergi.


"hei bocah bakal kembalikan!!" teriak Lily yang langsung mengejar adiknya itu.


Adit pun langsung menghilang, Lily berhasil mendapatkan makanan miliknya, sedang Linga tak melihat sosok Adit lagi.


"dasar tukang bohong," kesal Linga yang kecewa.


tapi saat melihat buku gambar miliknya ada sebuah tulisan, "nanti malam aku akan menemui mu, tapi jangan sampai Lily tau," tulisan itu.


melihat itu Linga begitu senang dan langsung membereskan semua bukunya.


dia pun langsung membersihkan kamarnya, "akhirnya aku akan melihat kak Adit," gumamnya senang.


Lily yang merasa aneh pun tak peduli, toh bocah itu selalu aneh menurutnya.


Adit berjalan menuju ke rumahnya, tak sengaja Anand yang lewat dan ingin ke rumah Lily melihat sosoknya.


dia langsung menghentikan motornya dan menoleh ke belakang, tapi sayang dia tak menemukan siapapun disana.


"apa aku berhalusinasi, aku sepertinya ia tadi melihat Adit, tapi pria busuk itu sedang di Singapura, kadang aku tak mengerti kenapa mereka rela mengeluarkan uang banyak demi pria yang akan segera mati," gumamnya yang kemudian pergi.


Anand pun mengendarai motornya agar segera sampai demi memberikan kue kesukaan Lily.


"permintaan berat, sekarang aku ingin lihat siapa yang akan mati duluan, aku atau kamu anand, dan kita lihat siapa yang akan di lihat oleh Lily nantinya," kata Adit yang menyeringai di balik lebatnya pohon tebu di sekitarnya.


tapi memang dasar Adit, saat dia bersembunyi, bisa-bisanya dia melihat tebu telur.


karena hal itu, dia bergegas mengambilnya, "wah beruntung sekali, setidaknya aku bisa membuat makanan kesukaan dari Linga, yang memang menyukai telur ikan,"


dia pun bergegas mengambil sayuran itu, dan setelah dapat sekitar dua puluh batang tebu telur dia pun pulang.


"mas Tama dari mana, kok bawa rumput segala?" tanya salah satu warga kampung Adit.


"tentu mas, ayo saya kasih tumpangan hingga selamat di tujuan," jawab pria itu.


"mas menyukai sayur itu, padahal di desa kita itu sangat banyak dan tak ada orang yang tau itu sayur apa loh," kata pak pak Usman.


"benarkah pak,kalau boleh antarkan saya ke tempat itu, karena saya sudah lama tak makan sayur beginian."jawab Adit begitu senang.


ternyata motor pak Usman benar-benar sampai di gapura desa.


tak sengaja saat akan turun di sebuah lahan kosong yang cukup jauh di bawah karena do samping gapura itu.


adalah sungai yang cukup dalam dan sangat deras, adit malah melihat sebuah potongan ingatan.


dia melihat dua mobil yang sedang berkejaran dengan sangat panik, di dalam mobil ada dua orang dan juga seorang balita.


"papa... cepat kita harus pergi dari sini, jika tidak adikmu itu bisa menghabisi putra kita," kata wanita itu.


"kalau begitu lompatlah, mumpung mobil mereka masih jauh dari kita," kata pria itu yang memerintahkan kepada istrinya itu.


"tidak, aku ingin bersamamu,jika kamu mati kita akan mati bersama," kata wanita itu.


"lompat!!" bentaknya.


wanita itu pun melompat dan mengelinding jatuh ke pinggiran sungai yang ada di bawah sana.


tubuhnya penuh luka, tapi dia tak melepaskan bayinya, wanita itu pun berusaha untuk bangkit dan membawa bayi itu ke daerah terdekat untuk meminta pertolongan.


dia sebisa mungkin berjalan dengan tertatih, tapi sayangnya dia melihat mobil yang mengejar mobil suaminya tadi.


dia pun bergegas menyembunyikan bayinya itu, "semoga kamu bisa selamat, jika bisa tolong jadilah anak yang berguna ya nak, kami sangat menyayangimu, dan kamu adalah pewaris kami yang akan melanjutkan perjuangan kami," kata wanita itu menutupi bayinya dengan jerami.


setelah itu dia memancing para pria itu menjauh, sebisa mungkin dia tak memancing mereka menemukan bayinya.


dia berlari ke arah perkampungan terdekat, tapi sebuah tombak melesat menembus jantung dan tubuhnya.


dia pun terduduk sambil muntah darah, mobil itu pun berhenti dan seorang pria datang sambil membawa kepala dari suaminya.


Adit menatap kepala terpenggal itu, dia kaget bukan main, pasalnya wajah pria itu mirip dengannya.


"kamu memilih mati bukan dari pada menyerah dan bergabung bersama keluarga Cokro Hadikusumo, jadi kalian akan ku kirim ke akhirat untuk menemui para leluhur kita, dan ucapkan salam pada mereka ya," kata pria yang langsung memenggal kepala wanita itu dengan sekali tebas.


bahkan kepala itu mengelinding ke arah kaki Adit, arwah Adit terduduk syok melihat itu.


"siapa mereka, kenapa aku melihat bayangan dari ingatan siapa ini!!" kata Adit yang mulai panik.


pak Usman langsung menguncang tubuh pria itu agar sadar, pasalnya Adit jatuh ke area samping sungai dan kepalanya terbentur batu.


"siapapun tolong!!!" teriak pria itu panik.


beruntung ada cak Rejo dan cak nur yang lewat karena akan mengirimkan bebek ke pengepul.


mendengar itu mereka pun segera membawa tubuh lemah dari Adit ke klinik terdekat.


Adit pun langsung mendapatkan perawatan dari dokter jaga, tapi suster kaget saat melihat alamat yang di tulis oleh pak Usman.


"bapak dari desa babaksari?" tanya suster tak percaya.


"iya suster, sudah tolong bantu pemuda itu dulu," panik pak Usman.


pasalnya Adit cukup banyak kehilangan darah, sedang di tempat Adit jatuh itu.


ada seekor siluman ular putih yang tersenyum, "semoga kamu lekas sadar saudaraku, dan kita harus segera membalaskan dendam kita," gumamnya yang kemudia pergi dari sana.


Arkan yang sedang berada di desa tetangga langsung mengajak Tasya pulang.


pasalnya mereka khawatir pada Adit, karena putranya itu sangat lemah, terlebih setelah kejadian yang terus menimpa pemuda itu berturut-turut.


sesampainya di klinik mereka langsung bergegas masuk dan memeluk Adit yang baru sadar.


"bagaimana kamu begitu ceroboh,kamu itu baru sembuh," marah Arkan.


"maaf papi... tadi aku ingin mengambil telur tebu eh malah jatuh kepleset hingga membentur batu," jawab Adit sambil tersenyum.


"tenang pak, putra anda baik-baik saja, tapi apa kalian semua dari desa babaksari yang terkena penyakit aneh itu? bagaimana kalian bisa sembuh," tanya dokter yang memang mengetahui semua cerita yang beredar.


"jika aku katakan pun, Anda tak akan percaya," jawab Arkan.