
Keesokan paginya, Lily bangun dan merasa segar. Mungkin karena suasananya sangat damai pada malam hari membuat tidur Lily menjadi sangat nyenyak.
'Aku merasa ada seseorang yang datang semalam. Tapi... ah mungkin itu hanya mimpi' batin Lily lalu keluar tenda dan mendapati Lean yang sedang berjaga.
"Kak Lean, apa semalam kamu tidak tidur?" Tanya Lily yang mengagetkan Lean.
"Ah Putri anda membuat saya terkejut" ucap Lean.
"Hahaha, maaf aku terlalu bersemangat" ucap Lily sambil memberikan cengiran kearah Lean.
"Jadi apa kak Lean berjaga sepanjang jalan?" Tanya Lily lagi.
Lean menggelengkan kepalanya, "Saya bergantian dengan Lein, putri" jawab Lean.
"Ooh begitu. Jadi kak Lein dimana?" Tanya Lily.
"Dia masih tidur, mungkin dia lelah berjaga semalam" ucap Lean.
"Oh yasudah kalo gitu aku ingin pergi ke sungai untuk mandi dan membersihkan wajahku" ucap Lily sambil berlalu tapi Lean menghentikannya.
"Putri anda lupa apa yang dikatakan Panglima, bahwa jika anda pergi keluar harus ada seorang yang menjaga anda dan meminta izin padanya dulu" ucap Lean.
"Uhh baiklah. Sekarang paman ada dimana?" Ucap Lily.
"Panglima ada di tendanya Putri" jawab Lean.
"Ayo kita kesana" ucap Lily berlalu pergi ke tenda Panglima Darma dan diikuti oleh Lean.
"Paman.. Paman.." teriak Lily sesampainya mereka didepan tenda Panglima Darma.
"Ada apa Putri?" Ucap Panglima Darma sambil keluar dari dalam tenda.
"Aku ingin mandi dan cuci muka di sungai itu, boleh ya paman?" Ucap Lily memohon.
"Iya boleh tapi harus ditemani Lean, oke" jawab Panglima Darma.
"Tapi paman.." ucapan Lily terhenti karena Panglima Darma menyelanya.
"Jika tidak anda tidak boleh kesana" sambung Panglima Darma.
"Hmm baiklah" ucap Lily setuju.
Lily kemudian berjalan ke sungai diikuti Lean yang berada dibelakangnya. Selama diperjalanan kesana, Lily banyak bercerita kepada Lean bagaimana perhatian berlebih Panglima Darma walau dia menyukainya. Sedangkan Lean hanya bisa tersenyum dengan ucapan Lily yang banyak menyinggung Panglima Darma.
Sesampainya di sungai, Lily segera masuk kedalam sungai sedangkan Lean menunggu agak jauh.
Butuh 15 menit lebih untuk Lily mandi karena dia tidak hanya mandi tapi juga bermain-main disegarnya air sungai pagi ini dan jernihnya air membuat suasana menjadi tenang.
Setelah berganti pakaian, Lily menghampiri Lean yang menunggunya dibawah sebuah pohon.
"Kak Lean ayo kembali ketenda" ucap Lily.
Lean yang sedang makan apel dari pohon tersebut lalu berdiri.
"Baiklah Putri. Anda mau Putri?" Tanya Lean sambil mengarahkan sebuah apel merah kearah Lily.
"Mau" jawab Lily sambil mengambil apel itu.
"Yasudah ayo kita kembali Putri" ucap Lean yang hanya dibalas anggukan oleh Lily karena dia sibuk memakan apel yang diberikan Lean padanya. Lean yang melihat itu hanya bisa tersenyum karena Lily seperti kesusahan memakan apel itu dikarenakan ukurannya yang lumayan besar.
"Ayo Putri" ucap Lean lalu berjalan diikuti Lily yang masih sibuk dengan apelnya.
Sepanjang jalan tidak ada pembicaraan karena Lily masih setia makan apel yang katanya sangat enak dan manis.
Sesampainya diperkemahan sudah tersedia makana untuk sarapan pagi dan tenda yang sebelumnya ada sudah dibereskan.
"Putri mari makan" ucap Siera.
"Umm tapi aku sudah makan apel yang besar tadi" ucap Lily mengeluh karena sarapan pagi saat ini adalah salah satu kesukaannya yaitu daging kecap.
"Yasudah kalo begitu biar kami yang menghabiskan" ucap Siera ingin menjahili Lily.
"Eh jangan aku juga akan ikut makan" ucap Lily bergegas mengambil bagiannya dan yang lainnya hanya tertawa dengan tingkah Lily.
Setelah menyelesaikan sarapan pagi, mereka melanjutkan perjalanan yang hanya menempuh waktu setengah hari menuju ibukota Jade Air.
Dalam perjalanan Lily melihat banyaknya hamparan sawah dan perkebunan. Menurut Panglima Darma, raja membuat banyak sawah dan kebun diluar ibukota agar aman.
Menjelang makan siang mereka sudah bisa melihat Ibukota Jade Air yang dengan megah berdiri. Didepan gerbang tertulis IBUKOTA JADE AIR.