
hari mulai berganti, perlahan semua kembali seperti apa yang di harapkan oleh Arkan dan Adit.
pagi ini Adit akan berangkat ke sawah bersama dengan mas Imin, ya dia di berikan sawah yang sempat di beli oleh Arkan untuk di garap.
tentunya bukan di tanami seperti biasa karena Adit memiliki ilmu dan semua kepintaran.
saat melewati rumah dari mas Afifi, ada banyak orang di sana, "loh mas Imin itu ada apa kok rumahnya mas Afifi ramai sekali?"
"saya juga kurang tau mas, semalam kata tetangga mas Afifi kesakitan dan suaranya sangat keras saat berteriak, setelah terdengar suara buk.. terus diam mas," jawab mas Imin.
"loh, kenapa baru bilang," kata Adit.
mereka berdua pun bergegas berlari ke rumah pria itu untuk melihatnya, ternyata benar.
pria itu sudah terkapar sambil kejang-kejang, Adit pun tau jika pria itu mengalami sakaratul mautnya.
"kenapa tidak ada yang membisikkan nama Allah, dan hanya diam melihatnya," tanya Adit heran.
"dia akan berteriak saat kami membisikkan nama Allah mas," jawab salah satu warga yang sudah sadar.
Adit pun mendekat dan duduk di samping telinga dari pria itu, "kenapa belum mati, katanya jawara hebat, baru merasakan siksaan kecil saja kamu sudah akan bertemu dengan Tuhan," bidik pria itu tersenyum.
mas Afifi pun langsung mati karena kaget, sedang Adit langsung menutup mata pria itu.
"innalilahi wa inna ilaihi Raji'un..."
semua orang pun sekarang mengakui Adit yang begitu sakti di antara yang lain.
terlebih pria yang paling menentangnya juga sudah mati, "silahkan di makamkan, tugas saya selesai di sini,"
"tunggu mas, tolong bantu kami untuk memakamkan kakak saya," mohon seorang gadis.
"maaf tapi kakakmu sangat membenci diriku, jika dia tau aku menyentuh jenazahnya dia bisa menghantuiku selamanya, dan aku tak ingin itu," jawab Adit.
"mas Tama kami mohon, kami sekarang sudah yakin jika mas Tama memang bisa menyembuhkan kami semua, kami sudah tak ingin merasakan sakit mas, terlebih semalam rasa sakit ini sudah sangat menjadi-jadi," mohon salah satu warga.
"baiklah jika itu keinginan kalian, tapi ingat jika kalian saat sembuh dati penyakit ini, tapi malah melupakan Allah, maaf aku tak bisa membantu kalian lagi," kata Adit.
"baiklah mas," jawab semua orang.
Adit pun membantu pemakaman dari Afifi, dan jiwa pria itu sudah di bawa pergi ke tempat yang seharusnya.
Adit hanya tersenyum saja, ternyata apa yang di katakan oleh arkan benar, dia bisa membunuh orang tanpa harus meninggalkan jejak apapun.
di depan gapura desa kembali di ikat sebuah kain putih,Arkan yang kebetulan baru pulang mengantarkan Lily dan Linga sekolah melihat itu.
dia pun berhenti dan bertanya pada warga yang ada di sana, "maaf pak, siapa yang meninggal," tanya Arkan.
"itu pak Arkan, mas Afifi," jawab pria itu.
mendengar nama itu yang di sebut, Arkan malah tersenyum sekilas, "Adit... sepertinya mantra mu lebih sakti dari milikku,"
Arkan pun memutuskan pulang, sedang Adit terus menjauh selama pemakaman Kate a dia ingin lihat bagaimana cara warga desa itu melakukan pemakaman.
Adit pun hanya duduk di pinggir sungai sambil melihat-lihat ikan yang berenang.
"tak ku kira sungai ini masih sangat bersih, padahal sungai di sekitar sudah sangat tercemar," gumamnya.
pemakaman pun selesai, dia memutuskan untuk tak jadi ke sawah karena sudah terlanjur tak minat.
di sekolah Lily pun masih heran memikirkan pocong yang semalam datang ke rumahnya dan hilang begitu saja.
Uci datang membawa es jeruk untuk Lily, "bengong saja non?"
"gak kok, cuma lagi memikirkan sesuatu yang penting, kalian lama sekali pesan bakso doang?" tanya Lily.
"lihat noh antriannya bejibun," kata Riya.
"aku sedang tak ingin dia mengikuti diriku, aku mau hidup seperti diriku yang bebas tanpa ada yang mengekang ku," jawab Lily.
Riya dan Uci pun saling pandang, mereka heran mendengar ucapan dari temannya itu.
padahal selama ini, Lily terus bersama Anand bahkan seperti pasangan yang tak terpisahkan.
sedang Anand juga hanya bisa melihat gadis itu dari kejauhan, dia tak bisa untuk mendekat kearah Lily.
"kalian marahan, ya elah kalian kan sudah bersama sejak kecil jadi jangan beginilah," kata Dimas pada sahabatnya itu.
"tidak, aku baru bersamanya, yang bersamanya dari kecil itu bukan aku tapi kakaknya angkatnya, tapi demi melindungi Lily, pria itu mungkin sekarang mari," kata Anand.
"apa? siapa dia?" tanya Dimas.
"Aditama..."
pria itu menyeringai saat dia di kira sudah mati oleh anand, "tapi sayangnya keinginan mu belum terwujud," gumamnya.
"kie bakso ne di pangan disek, Ojo ngomong bae,(ini baksonya di makan dulu, jangan ngomong saja)" kata pria baru yang bergigi tonggos itu.
"mas orang mana kok bahasanya terdengar lucu," tanya Dimas yang memang orang pindahan dari Surabaya.
"lah keprimen cah Iki, Inyong kan wong Tegal, Nok kene Iki ngolek nafkah cung, (lah bagaimana bocah ini, saya kan orang Tegal, di siniini cari nafkah nak)" jawab pria itu.
"sapa jeneng e?" tanya anand.
"gimantik cung," jawab pria itu.
"gimantik?" bingung anand.
"gigi maju sitik," jawab pria itu.
Anand dan Dimas pun tertawa mendengar pria itu, "mas lucu deh, orang di tanya bener-bener malah nglawak," jawab Dimas
"Giman," jawab pria itu.
"terima kasih mas Giman," jawab Anand yang tertawa.
sedang saat Lily dan teman-temannya akan masuk kedalam kelas karena selesai makan.
pria itu tak sengaja menemukan gantungan ponsel milik gadis itu yang terjatuh.
"neng, Iki gandul hape be jeblok, (mbak ini gantungan ponselnya jatuh,)" panggil pria itu memberikan benda kecil itu.
"wah terima kasih ya mas, sepertinya mas orang baru ya, bantu di bagian kantin?" tanya Lily dengan sopan.
"inggeh neng," jawab pria itu yang kemudian pergi.
Giman pun mulai ke area kantin lagi untuk membereskan semua bekas anak-anak makan.
karena ini adalah jam istirahat kedua, dan setelah ini tak akan ada istirahat lagi.
"mas bisa pulang, ini upahnya," kata ibu Ninuk yang menjadi bos dari giman.
"makasih buk, Inyong pulang disek ya," pamit pria itu yang langsung pergi. dia pun naik sepeda pancal menuju ke rumahnya.
mas Imin sedang di warung saat melihat Adit yang akan lewat mengunakan sepedanya.
"mampir dulu mas," panggil mas Imin.
"iya mas, wah pada ngopi-ngopi nih, kok nyantai sekali?" tanya Adit tersenyum.
"iya mas, habis dari sawah jadi ngaso dulu, dari pada di rumah dengerin istri ngomel bikin sakit kepala," jawab salah seorang bapak-bapak.