LILY

LILY
semua butuh proses



Adit pun melihat gentong itu dan meminta para warga untuk meletakkan gentong itu di atas perapian yang sudah siap buat.


"maaf mas tolong ambilkan air dan isi gentong itu dengan penuh tapi kalian harus ambil air dari sumur di samping timah ini," perintah Adit.


mereka pun menurut dan gotong royong untuk membantu mengisi gentong besar itu.


sedang Adit mengambil beberapa ratus lembar daun sirih, daun kelor dan juga kunyit yang sengaja tadi dia beli.


tak hanya itu dia juga menyiapkan garam kasar dan juga beberapa bunga yang tak pernah mereka lihat.


saat gentong hampir penuh, Adit mulai menaburkan semua bahan yang dia siapkan.


dan mulai menyalakan api dengan sangat besar untuk mendidihkan air yang akan di gunakan untuk mereka mandi.


"sekarang kalian tolong pulang dan panggil semua warga yang ingin sembuh, tapi ingat setelah ini kalian semua harus lebih mendekatkan diri pada Allah dan meminta kesembuhan," kata Adit.


"baik mas." jawab semua orang yang bergegas pulang.


Adit pun mengambil titik bala kutukan yang ditanam oleh Arkan saat itu.


di rumahnya, pria itu merasakan ada sesuatu yang bisa mencabut pusaka yang dia tanam.


dia tak panik karena dia tau hanya satu orang yang bisa melakukan itu yaitu Aditama.


"ada apa papi?"


"tidak ada mami, sudah tidurlah," kata Arkan yang memang sedang mencoba beristirahat bersama istrinya.


sedang Lily merasa aneh karena tak melihat Kong dari siang tadi, dia pun melihat kearah belakang rumah.


"kong kemana sih, kok gak ada, apa gua lupa jika aku terus membutuhkannya," kesal Lily.


"mungkin dia kabur karena tak tahan menghadapi mu," kata Linga yang tiba-tiba muncul dari belakang tubuh gadis itu.


mendengar suara itu Lily kaget, pasalnya ini sudah jam dua belas malam.


"kamu mengejutkan ku, dasar bocah ini..." kesal Lily menjewer kuping adiknya itu.


"habis kakak ngapain kayak maling gitu," kata Linga mengosok telinganya.


"kakak sedang mencari Kong, siluman itu kemana sih," kesal Lily.


"kalian masih bangun,dan belum tidur," tegur Arkan pada kedua anaknya.


"ah papi... aku sedang lapar, jadi aku ke dapur dan menghangatkan pasta buatan mami, kalau kakak lagi rindu Kong," adu Linga.


"ya Tuhan Lily, dia sepertinya sedang melakukan tapa Brata, jadi jamu mungkin tak akan melihatnya beberapa tahun, jadi belajar untuk tidur sendiri," kata Arkan.


"iya papi, aku akan mencoba untuk tidur," kata Lily.


sedang Arkan melihat putranya yang satu lagi, "kaku ini juga, bukannya tidur malah makan Mulu, besok minum obat cacing gih, masak makan banyak gak gemuk-gemuk,"


"papi..." kata Linga yang juga sudah di minta untuk tidur.


Arkan pun mengambilkan sebuah jaket yang tadi di tinggalkan Adit pada Tasya.


dia tau jika putrinya itu tak bisa tidur jika tak merasakan kehadiran Adit di sekitarnya.


"coba peluk ini, siapa tau kamu bisa tidur,dan ingat berdoa dulu sebelum. tidur," kata Arkan memberikan jaket itu.


mungkin itu adalah hadiah yang di bawa Tasya yang sengaja dia siapkan.


Lily pun langsung lelap tidur, Arkan pun mulai memperkuat pagar ghaib rumahnya.


tak hanya itu dia pun masuk kedalam kamar dan melihat istrinya yang masih telihat cantik.


dia pun mengusap dan mencium kening Tasya dengan lembut, "papi... kalau mau ibadah, aku siap kok, karena aku juga rindu ingin melakukannya," kata Tasya yang masih menutup matanya.


"kamu yakin, kalau nanti kamu hamil lagi gimana?" tanya Arkan menggoda istrinya itu.


"tenang... aku kan sudah memakai alat kontrasepsi paling aman jadi tak akan terjadi apa-apa," kata Tasya yang membuka matanya.


Arkan pun tersenyum dan mulai mencumbu istrinya itu, tapi Tasya meminta Arkan berdoa terlebih dahulu, itu di lakukan untuk meyakini jika itu benar-benar suaminya.


sedang di yayasan pondok pesantren, ustadz Faraz sedang duduk termenung.


umi Kalila pun duduk di sebelah suaminya kemudian menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya.


"kita harus bagaimana dek,aku lelah harus terus menghadapi kecemburuan dari kakakmu, terlebih aku tak bisa terus menerus menahan diriku, kamu tau jika aku bukan pria sesabar itu," kata ustadz Faraz sambil mengusap kepala istrinya.


"aku juga lelah Abi, aku ingin kita hidup normal seperti keluarga lainnya, seandainya jika bukan karena wasiat dari Abi untuk mu mengurus pesantren, aku tak ingin hidup seperti ini," gumamnya.


"apa sebaiknya kita melakukan sholat istikharah, karena sesungguhnya aku masih sangat kekurangan ilmu jika di panggil kiai," kata ustadz Faraz.


"baiklah mas, sebenarnya dulu Abi Arifin pernah bilang jika bukan suami kami yang mengurusnya, Abi ingin sepupu kami yang mengurus pondok, tapi tetap dalam pengawasan kami, karena pondok ini tidak boleh berubah menjadi lahan uang, tapi harus tetap mengedepankan mencari anak murid yang membutuhkan ilmu dan menjadikannya sebagai orang yang berilmu," terang umi Kalila.


"baiklah umi ku tersayang, kalau begitu tolong besok hubungi sepupumu itu dan minta dia datang, dan aku akan berusaha untuk mencari jawaban ya sayang," kata ustadz Faraz.


"iya Abi," jawab umi Kalila.


ustadz Faraz yang melihat istrinya pun mengendong wanita itu dan mengajaknya ke kamar untuk memulai ibadah pasangan suami istri.


mereka juga terus berdoa agar bisa segera di beri kepercayaan untuk mendapatkan momongan lagi terlebih Shafa juga sudah cukup besar.


di kantor polisi, Nino baru datang dari rumah sakit, dia segera masuk ke kantor dan ingin membuat kopi.


kantor cukup sepi karena semua anak buahnya melakukan sidak dan penjagaan malam, untuk meminimalisir terjadinya hal yang tak di inginkan terutama kriminal di area kantor polisi.


dia sedang mengaduk kopi saat dari kejauhan nampak seorang wanita berdiri dengan gaun merah di kejauhan


dia pun penasaran, karena malam-malam ada wanita yang berdiri sendirian.


dia ingin keluar kantor dan menghampiri wanita itu, tapi dia ingat dengan ucapan dari Linga.


"jangan bilang itu mbak Kunti, emm... bisa gawat kalau aku pingsan di sini," gumamnya.


seseorang menepuk bahu dari Nino hingga membuat pria terkejut, "hati lagi lihatin apa sih?"


"kampret bikin jantung copot saja, aku tak sedang melihat apapun,kenapa masih disini, bukannya tugas mu sudah selesai dari sore ya," kata Nino.


"ah iya sih, tapi aku lupa jika ada beberapa berkas yang besok harus di setor ke kejaksaan, jadi aku menyelesaikannya malam ini, terus melihat mu duduk sendirian sambil bengong," kata teman Nino itu.


"kalau gitu temenin aku ya, dan besok aku traktir makan siang semua mu deh, boleh ya," kata Nino yang makin merinding.


sedang wanita di sebrang jalan itu tiba-tiba sudah hilang entah kemana, dan Nino yakin jika itu bukan wanita biasa tapi wanita jadi-jadian.