LILY

LILY
cari mati



Adit mengantarkan Linga pulang, "mas hati-hati di jalan ya," kata Linga dengan senang hati.


"iya," jawab Adit yang bersiap pergi.


Adit pun putar balik dan bergegas pergi, karena memakai masker dan topi semua orang tak ada yang mengenali Adit.


tak sengaja motornya juga berpapasan dengan motor milik Riya yang sedang mengantarkan Lily pulang.


"ya Tuhan mereka itu tak berubah," gumamnya melihat gadis gadis itu bonceng tiga.


pasalnya Lily benar-benar menolak untuk di antarkan oleh Anand, "mampir dulu yuk," ajak Lily pada ketiga temannya.


"tidak ah, tapi nanti malam kami kesini lagi ya, kita mau ke pasar malam di lapangan, dekat dari rumah mu," ajak Uci.


"baiklah, nanti aku izin ayah, tapi biasanya aku harus mengajak adek ku," jawab lily.


"tak masalah toh Linga bocah baik dan tak resek," Jawab Riya.


"baiklah sampai ketemu nanti malam," jawab Lily.


setelah kedua temannya pergi,dia pun masuk kedalam rumah,karena sudah cukup sore.


ternyata Linga sedang membersihkan rumah dengan alat penyedot debu.


"mbak tumben baru pulang sekolah?" tanya Linga.


"iya nih, tadi ekstrakulikulernya molor," jawab Lily yang terlihat lelah.


"coba lihat di kulkas deh, aku tadi beli jus buah saat pulang," kata Linga.


"eh tumben baik kamu,terima kasih asik ganteng..." kata Lily mengacak rambut adiknya.


lily pun mengambil jus berwarna merah itu, ternyata jus itu rasanya mirip dengan semangka.


"dek ini jus apa?" tanya Lily yang memang sudah lama tak merasakan rasa itu.


"itu jus semangka lemon kak," jawab Linga.


mendengar itu Lily berbalik dan menemui adiknya, "kamu beli dimana, apa kamu ketemu kak Adit, Linga jawab!" teriak Lily


"tidak kak, itu aku beli di perjalanan pulang, kebetulan aku juga beli jeruk peras kalau mau," jawab Linga berbohong.


"tapi jus ini kesukaan ku dan kak Adit... aku merindukannya," kata Lily sedih.


"dari pada mbak nangis, mending sholat dan doakan mas Adit, lagian mbak juga belum mandi kan," kata Linga.


"baiklah.." jawab Lily.


Linga pun hampir keceplosan tadi, tapi untunglah semuanya aman. fan Lily tak curiga.


Tasya masuk kedalam rumah saat pekerjaannya selesai, Arkan juga pulang setelah mengawasi penggilingan yang lain.


setelah makan malam, Linga dan Lily sudah siap untuk jalan-jalan di pasar malam.


"kalian yakin cuma pergi berdua saja, biarkan Oma atau mami kalian ikut," tegur tuan Alan.


"tenang Opa, kami pasti akan baik-baik saja, oh ya jangan terlalu cemas karena kami tak akan melakukan hal yang aneh kok," jawab gadis muda.


"baiklah, silahkan pergi,Arkan ingat untuk memberikan pengawasan pada kedua anaknya.


setelah membaca tahlil,Adit sudah pamit akan pergi dan hampir seluruh warga desa sudah sembuh.


Lily, Riya, Uci dan Linga sudah berangkat ke tempat acara pasar malam yang sedang berlangsung.


"kita ngapain dulu ini, aku bingung melihat semua permainan yang begitu banyak," kata Lily dengan nada suara tak semangat.


"kak ayo naik itu kak kincir angin,aku belum pernah menaikinya," kata Linga menyeret kakaknya.


sedang Lily menarik kedua temannya juga, pasalnya dia tak ingin merasakan adrenalin itu sendiri.


akhirnya mereka berempat pun naik wahana itu, dari jauh ada tiga pria yang mengawasi keempatnya.


tapi mereka tak sadar jika ada maut lain yang menunggu mereka jika berani melakukan hal yang kurang ajar.


saat Lily turun, Erland menarik Lily menjauh dengan sedang Anand membekap mulut Linga.


sedang Dimas menarik kedua gadis lain yaitu Uci dan Riya. tanpa mereka sadari semakin lama maut semakin mendekati mereka.


"lepaskan aku pria gila, kenapa kamu menarik diriku bajingan!" marah Lily mendorong Erland.


"wah kamu benar-benar ganas ya, hei Anand urus ini.." kata Erland.


pemuda itu mendorong tubuh lily ke arah anand, "apa kamu gila, lepaskan!!" teriak Lily.


"memang kenapa,aku hanya ingin berbincang dengan mu, kamu berubah Lily, aku hanya ingin melindungi mu," kata Anand.


tiga buah batu terbang ke arah kepala Anand dan teman-temannya dengan sangat cepat, dan dan tepat mengenai kepala Anand.


"siapa itu?" kata Anand yang merasa kesakitan karena pukulan itu sangat kencang.


"aku adalah maut untuk mu, yang berani menyakiti dan melecehkan wanita," kata pria di balik kegelapan itu.


"kamu siapa, kalau berani tolong tunjukkan siapa dirimu brengsek," marah Anand.


tanpa di duga sebuah tangan menarik Dimas masuk kedalam perkebunan jagung.


"hei brengsek," teriak Erland dan Anand.


mereka berdua pun langsung berlari mencari Dimas, karena jika pemuda itu kenapa-kenapa maka mereka berdua yang akan dalam masalah besar.


mereka berdua mengunakan lampu flash dari ponsel dalam mencari sahabatnya itu.


pria bertopeng itu pun melompat ke depan ketiga gadis itu, "kenapa masih di sini, cepat pulang," marah pria itu.


"tapi mereka," tanya Uci khawatir.


"jika kalian tak ingin pergi ku pastikan mereka akan menjadi badan tanpa nyawa, cepat pergi terutama dirimu nona," kata pria itu menunjuk kearah Lily.


Linga langsung menarik kakaknya itu, terlebih Lily yang malah bengong melihat sosok itu.


"sudah ayo pulang kak," kata Linga


pria itu pun menghilang di balik kegelapan malam, dia pun menyeret Dimas dan menggantungnya di sebuah pohon besar di desa.


"ini baru pelajaran untukmu, jika kamu masih berani berulah aku akan membunuhmu, bahkan polisi dan keluarga mu tak akan bisa mengenalimu ku jamin itu," kata pria itu mengancam Dimas.


"tolong maafkan aku, aku hanya di mintai tolong oleh teman ku, aku tak mengira dia ingin menyakiti gadis itu, terlebih gadis itu adalah cintanya," kata Dimas memohon.


"bilang pada temannya itu, kalau begitu tantang kakak dari gadis itu, jika dia bisa mengalahkannya, maka dia bisa mendekati gadis itu," kata pria bertopeng itu yang sempat menampar pipi Dimas.