
"kamu ingin membantu siapa, arwah lagi, kamu tak kapok ternyata," kesal Anand.
"hanya menemukan kuburan saja kok,lagi pula nanti aku minta bantuan om Nino dan yang pasti ayah kecil, karena ini terjadi di sekolah ini," kata Lily yang membuat Anand kaget.
"apa? memang di sekolah ini ada pembunuhan?" bingungnya.
Lily pun langsung membekap mulut pria itu, "pelan-pelan... ih... kamu bisa membuat kita dalam masalah," kesalnya.
"khem.. ada apa ini kalian masih di sini," Tegur salah satu guru.
"maafkan kami pak, permisi.." panik keduanya.
mereka pun berlari menuju ke tempat mereka melakukan kegiatan belajar mengajar.
pukul setengah dua belas siang, Shafa dan Linga menunggu jemputan sambil duduk di teras masjid.
"kalian belum di jemput?" tanya Anand.
"belum kak, kata umi tadi Abi yang berangkat menjemput ku," jawab Shafa.
"kita dong, kenapa cuma kamu, kan aku bilang mau main ke pondok!" protes Linga.
"iya iya maaf sih, jangan marah dong," kata Shafa yang melihat Linga mengerucutkan bibirnya kesal.
tapi yang mereka lihat malah sosok dari Anna yang masuk ke ruang guru sambil menggandeng tangan dari Marwah.
"mas Linga... sepertinya bude marah," kata Shafa takut.
"tidak usah takut, aku yang salah bukan kamu," kata Linga.
Anna langsung menampar pipi dari wali kelas putrinya itu, "kamu buta ya, melihat murid mu yang terluka seperti ini dan membiarkan mereka bebas berkeliaran, apa ini sikap seorang pengajar hah!!" marah wanita itu.
"tapi putri anda dari tadi saat di kelas tak mengatakan apapun, jadi saya juga bingung," jawab wali kelas itu.
"seharusnya kamu peka, atau hanya karena dia anak dari keluarga yayasan kalian tak berani," kata Anna.
"baiklah Bu, jika anda terus marah seperti ini dan tak menjelaskan, Bagaimana kami tau apa yang sebenarnya terjadi," kata guru BK yang menenangkan wanita itu.
"lihat ini, putriku terluka karena murid kalian,dan aku tak bisa hanya diam," kata Anna.
"Marwah, kamu bisa terluka seperti ini karena siapa? coba bilang biar ibu panggil dan kita tanyakan," kata guru BK itu.
"apa di tanyakan, murid itu perlu di hukum, dia telah berani melukai putriku," kata Anna yang masih tak terima.
"sakit bunda, tadi kami sedang main terus Shafa datang ingin ikut, tapi saat aku menolaknya dia menangis dan membuat kak Linga marah dan menyakitiku," kata marwah.
"ya Tuhan bocah itu lagi," kesal Anna yang tau.
"dia bohong, Marwah dia bohong, karena aku tak menyentuh atau melukainya sedikitpun," kata Linga yang berdiri di depan pintu bersama Shafa.
terlihat gadis kecil itu terus ketakutan melihat Anna, wanita itu ingin mendekat tapi Linga tak gentar sedikitpun.
"Shafa, Linga ada apa ini? kenapa kalian disini dan tak menunggu ayah," kata ustadz Faraz yang datang.
"kebetulan ustadz Faraz yang sangat baik dan hebat, anda datang putri anda dan keponakan kesayangan anda ini telah melakukan hal yang tak sepatutnya, pasalnya dia melukai putriku lihat ini," marah Anna menantang ustadz Faraz.
"kalau begitu lihat buktinya, karena sekolah ini setiap kelas di pasangi CCTV, jadi kita bisa tau siapa yang salah." kata ustadz Faraz enteng
Marwah pun baru ingat dan dia pun memegang tangan dari bundanya itu, Anna pun tau jika mungkin ini kebohongan putrinya.
"tak perlu lagi, karena kalian ini sama-sama menyebalkan, bahkan gadis kecil itu persis seperti ibunya, tukang rebut semua yang seharusnya jadi milikku, jadi aku tak mau berurusan dengan mu lagi, permisi.." kata Anna yang mengajak Marwah putrinya itu pergi.
ustadz Faraz pun hanya bisa menghela nafas panjang, dia juga tak tau harus bagaimana lagi menghadapi sikap dari kakak iparnya itu.
"sudahlah... maafkan keluarga kami ya Bu, anda bisa berobat dan nanti saya akan menggantinya, ayo anak-anak kita pulang,"ajak ustadz Faraz
mereka pun pergi dengan mengunakan mobil, di dalam mobil terlihat jika Linga sangat marah.
"tentu mami mengajarkan itu padaku, tapi aku tak suka dengan kebohongan yang di buat oleh Marwah, padahal dia tadi di kelas hampir menyiramkan air pada Shafa, tapi kenapa malah membalik fakta itu," suara Linga dengan keras.
"astaghfirullah... Shafa apa tak ingin mondok saja, biar Abi yang pilihkan tempat yang baik untuk mu," kata ustadz Faraz.
"kok ayah besar gitu, terus nanti Linga main sama siapa kalau Shafa pindah," kata Linga terlihat sedih.
"tapi Shafa lelah kak," lirih gadis itu.
"hentikan mobilnya, Linga mau turun dan pulang, aku tak jadi mau main ke pondok ayah besar," kata Linga.
"jangan, ini masih jauh dari rumah, kamu bisa di culik orang," kata ustadz Faraz.
"berhenti atau Linda lompat," teriak bocah itu kecewa.
"jangan Linga, biar ayah besar antar sampai ke rumah oke," kata ustadz Faraz mencoba membujuknya.
sesampainya di rumah Linga langsung turun dan lari kedalam rumah, Arkan bahkan kaget melihat putranya itu.
"eh kenapa bocah? gak ada sopan-sopannya main masuk sampek papinya gak di sapa," kata Arkan tertawa.
"sepertinya dia kecewa saat aku ingin mengirim Shafa ke pondok," kata ustadz Faraz.
"pantes, ayo masuk dulu,Shafa bujuk adik mu itu ya, dia bisa mogok makan seminggu kalau marah begitu, oh ya tadi mami juga ada hadiah untuk mu juga sepertinya," kata Arkan.
"iya ayah Arkan," jawab Shafa yang juga terlihat sedih.
"aduh anak-anak jaman sekarang," kata Arkan melihat Shafa yang juga sepertinya belum siap.
di sekolah, Lily sedang di kantin bersama Riya karena mereka tak ikut sholat.
"mau makan apa ini, aku bingung dan bosan..." gumam Lily sedih.
"sana nih, masak tiap hari itu-itu terus, gak ada yang jual apa gitu," gumam Riya.
"ini non es jeruknya, tumben gak makan?" tanya mang Udin penjaga kantin di sekolah.
"lagi malas nih mang, sudah kami ke kelas dulu ya," kata Lily yang pergi setelah membayar.
mereka berdua kini memilih duduk di pos satpam sekolah yang sedang di tinggal istirahat.
bukan apa, mereka biasa duduk di sana sambil menunggu penjual cilok lewat.
tiba-tiba ada penjual kerupuk asin yang berjalan kaki, melihat itu Lily pun langsung memberhentikan penjual itu.
"Mbah beli lima ribu, terus sambelnya yang banyak ya," pesan Lily.
"aku juga mau dong Lina ribu juga," kata Riya.
Keduanya pun duduk di pos satpam sambil menunggu, tapi Lily salah fokus melihat arwah yang dari tadi mengikutinya itu.
"embah..." lirih arwah gadis itu.
"Mbah kok gak pernah lihat lewat sini sih?" tanya Riya.
"iya neng,habis Mbah kangen dengan cucu yang juga sekolah di sini, sudah dua bulan ini dia gak ke rumah saya," jawab pria itu sambil memberikan cemilan itu pada kedua gadis itu.
"wah kalau boleh tau siapa nama dari cucu Mbah itu, biar saya panggilkan," kata Riya.
"Mbah... Lulu kangen Mbah, Lulu kedinginan dan semua badan kuku sakit, Mbah Lulu ingin pulang...." kata Lily yang tanpa sadar sudah kerasukan.
Riya yang sadar pun bingung, "tolong ini Lily kerasukan!" teriak gadis itu memanggil semua orang.
"Mbah ji... Lulu kangen..." kata Lily yang terus menangis sambil terus melihat pria itu sambil memukul gerbang sekolah.