LILY

LILY
bukan salah kami



jam pulang sekolah pun datang, anak-anak sekolah dasar sudah berebut pulang.


semua orang tua sudah siap menjemput putra putri mereka, Arkan melihat semua anak-anak berlarian.


dia pun tersenyum membayangkan masa kecilnya, tapi ada pemandangan yang membuat dirinya heran.


Linga yang sedang berjalan dengan wajah marah, "aih bocah ini kenapa lagi?" gumamnya.


dari kejauhan terlihat Shafa yang sedang menunduk berjalan, gadis itu sesekali mengusap matanya.


Arkan yang gemas pun tak ingin menyapa atau melakukan apapun, sepertinya Shafa melakukan sesuatu yang tak di sukai Linga.


putranya itu duduk di pelataran masjid, Tasya datang untuk mengantarkan makan siang dan juga menjemput putranya.


"assalamualaikum papi, ada apa?" tanya Tasya.


"lihatlah mami, putra mu sedang marah sepertinya, bahkan dia membuat Shafa harus membujuknya lagi," kata Arkan


"benarkah, ya Tuhan bocah itu ya,kadang aku heran, dia itu sebenarnya menurun sikap dari siapa ya," kata Tasya tersenyum.


"menurut aku begitu," kata Arkan yang langsung membuat Tasya tertawa dan memeluk suaminya itu.


"sudah pergi sana, jika kamu tak ingin bermain dengan ku, tapi jangan memaksaku untuk bermain dengan Marwah,aku akan main dengan teman yang aku sukai," ketus Linga dengan wajah marah.


bahkan bocah itu tak mau melihat Shafa sedikit pun, "aku mohon maaf ya kak Linga, bukan begitu, tolong jangan marah dong, aku hanya ingin kita semua itu bisa bermain bersama,toh tadi kak Linga lihat kan jika dia minta maaf terlebih dahulu," kata Shafa meyakinkan Linga.


"kamu jangan lupa bagaimana dia melukaimu Shafa, dan apa kamu tak tau jika dia terus menjelekkan mu pada semua teman kelas kalian, itulah kenapa tadi saat dia minta maaf, kamu malah yang di cap sebagai gadis sombong dan angkuh, sudah ku bilang kamu tak perlu berurusan dengan gadis seperti itu, cukup dengan ku, aku akan menjagamu," kata Linga.


Shafa pun hanya bisa menangis, "loh kenapa Shafa menangis, dan Linga kenapa memarahi gadis secantik ini sih putra ganteng mami," kata Tasya.


"habis Shafa terlalu baik jadi orang, dia terus si sakiti tapi malah memaafkan orang itu begitu saja," jawab Linga.


"ya sudah tak apa, kita sebagai manusia memang hanya bisa memaafkan dan tak boleh menghardik seseorang, sudah ayo pulang, karena mami tadi bawa kue, kita makan di rumah umi yuk," ajak Tasya.


"iya mami," jawab Linga.


bocah laki-laki itu akan pergi, "Linga... ayo ngomong apa dulu," kata Tasya pada putranya itu.


Linga pun berbalik dan memeluk Shafa, "maafkan aku ya Shafa, seharusnya aku lebih sabar, tapi aku malah emosi, jangan menangis lagi, dan tolong jangan seperti tadi ya,"


"iya kak Linga, Shafa juga minta maaf," kata gadis itu.


Tasya tersenyum, Arkan hanya mengeleng pelan melihat istrinya itu begitu mudah menyatukan dua bocah itu.


"baiklah, kalian sudah berbaikan, sekarang ayo kita pulang," ajak Tasya.


mereka pun segera bergegas menuju ke rumah, terlihat jika Linga sudah berubah lebih kalem.


kedua bocah itu bermain di kursi tengah mobil, mobil yang di bawa Tasya pun sampai di yayasan milik keluarga Kalila.


saat sampai di rumah utama, terlihat ada ramai-ramai,mereka pun bergegas turun.


"hentikan Anna kamu membuat kalian seperti topeng monyet, menjadi tontonan semua orang, kalian semua bubar!" bentak Tasya.


"wah lihatlah,pahlawan kesiangan ini akhirnya datang, kamu mau apa membelanya, terus saja bela, kamu itu orang liar!" teriak Anna mendorong Tasya.


tak terduga Tasya melayangkan sebuah tamparan keras ke wajah wanita itu, "siapa yang jadi sebut orang luar huh! katakan padaku, aku adik ipar dari mas Faraz, aku juga istri dari adik sepupu mas Adi, kamu tak ingat atau sudah hilang akal!" kata Tasya tanpa gentar sedikitpun.


"kamu berani menampar diriku," kata Anna tak percaya.


"aku bahkan bisa membuatmu cacat, jangan lupa jika aku adalah istri dari Arkan yang bisa melakukan apapun, dan jika kamu lupa aku bahkan bisa membunuh orang tanpa berkedip, jadi menginjak wanita seperti mu itu mudah bagiku, dan berhenti berteriak dan menyakiti kakak iparku," kata Tasya mendorong tubuh Anna.


beruntung Adi datang dan menahan tubuh istrinya itu, "kamu juga mau apa, sebagai suaminya, apa ini didikan mu mas Adi?" bentak Tasya yang tak bisa terus diam.


"Tasya tolong tenang, Anna sedang hamil dan emosinya sedang tak stabil," kata Adi membela istrinya.


"itu bukan alasan untuk terus menyakiti mbak Kalila, cukup sekali lagi dia berani berteriak saja pada kakak iparku, aku akan melupakan siapa dia," ancam Tasya tanpa takut sedikitpun.


"aku juga, kakek minta putrimu agar tidak terus menyakiti Shafa, aku tak mau bermain dengan gadis jahat seperti dia, karena dia itu pemaksa dan juga sombong, aku hanya ingin bermain dengan teman yang baik, dan tak suka menjelekkan orang lain untuk membuat orang membenci orang itu," tambah Linga.


"bukankah kamu yang membuat Marwah jadi gadis seperti itu," marah Anna.


"memang apa yang aku lakukan, aku hanya mengancamnya karena dia ingin menyiram tubuh Shafa, padahal dia tau jika Shafa itu memakai cadar, jadi yang salah itu aku atau putrimu nyonya," kata Linga yang benar-benar persis Arkan.


"sudah Anna, kamu telah membuat keributan, Kalila aku minta maaf, dan sekarang kita pulang," ajak Adi pada istrinya itu.


"tidak mau, apa haknya ingin menyerahkan yayasan pondok ini pada sepupu kami yang hanya orang liar itu," marah Anna.


"aku bilang cukup Anna, atau aku akan benar-benar tak peduli lagi pada mu, karena kamu terus menghasut putri kita, sekarang terserah padamu!!" marah Adi.


mendengar itu, Anna panik karena jika dia di buang juga oleh Adi. maka dia akan jadi gelandangan.


terlebih dia tak akan di izinkan lagi bertemu dengan putrinya, Anna pun berlari mengejar Adi dan langsung ikut pergi.


Tasya pun langsung memeluk Kalila yang dari tadi hanya diam dan gemetar ketakutan.


tapi tak terduga wanita itu malah pingsan di pelukan Tasya, "seseorang tolong kami!!!" teriak Tasya.


"umi!!" panggil Shafa yang kaget melihat ibunya yang pingsan.


dokter pun di panggil untuk melihat kondisi wanita itu, dokter pun mengajak Tasya untuk memberitahu kondisi dari Kalila.


"bagaimana kondisinya dokter?"


"dia hanya tertekan, dan sepertinya dia juga sedang hamil muda, tapi untuk lebih memastikannya lagi nanti tolong minta dia melakukan tes ya, dan jika benar maka tekanan dan stres tak baik untuk dia," kata dokter.


"baiklah dokter saya akan memberitahukan kepada keluarganya agar menjaganya," kata Tasya yang mengantar dokter itu pergi.


"dek tolong di tebus di apotek ya, dan nanti belikan alat tes kehamilan juga ya," kata Tasya pada dua orang pengurus pondok yang masih muda.


"iya neng, kami permisi," kata gadis itu menerima resep dan juga uang dari Tasya.