LILY

LILY
Arkan kecewa?



Tasya membantu Kalila untuk minum obat, tadi mereka juga sempat melakukan tes terlebih dahulu.


Arkan dan ustadz Faraz datang ke pondok dengan panik, "bagaimana kondisinya?"


"Alhamdulillah dia baik, tapi tak boleh stress, terlebih mendengar omongan ngelantur dari mbak Anna, kasihan dia sedang hamil muda," kata Tasya.


"apa kamu hamil sayang," tanya Arkan.


"bukan papi tapi mbak Kalila, dia sedang hamil," kata Tasya.


"benarkah, terima kasih ya Allah, akhirnya dia kami terkabul," kata ustadz Faraz yang memeluk istrinya itu.


"ya aku kecewa karena bukan istriku yang hamil," terang Arkan yang nampak sedih.


"aduh papi... anak kita sudah tiga dan besar-besar ah,malu kalau mau punya adik lagi," kata Tasya yang tak habis pikir.


"kenapa harus malu, toh kami juga punya adik lagi saat kami sudah dewasa kok," jawab Arkan


"ya terserah deh, tapi aku harus dapat persetujuan dari ketiganya kalau memang mau punya anak lagi," kata Tasya


"siap mami..."


ustadz Faraz pun tak mengira jika Arkan ingin mengikuti jejak kedua orang tua mereka.


bubar sekolah pukul tiga sore, Lily sedang menunggu tukang ojek yang menjemputnya.


"lama deh," kesal Lily.


"mau ikut aku?" tanya Anand yang menawarkan diri.


"tidak usah, aku sudah di Carikan tukang ojek oleh papi, jadi tak usah menjemput ku atau mengantarkan aku pulang lagi, kamu pulang duluan saja gih," kata Lily.


"kamu masih marah ya?"


"gak kok, cuma lagi gak mood untuk bicara saja," jawab Lily sekilas.


"oh begitu, kalau begitu aku temani sampai tukang ojeknya datang ya," kata Anand.


sebuah motor matic berhenti di depan Lily, pria itu menunjukkan sebuah catatan di ponselnya, Lily pun membaca catatan itu.


"bapak yang di minta papi untuk menjemput ku?" tanya Lily setelah membaca tulisan itu.


pria itu mengangguk, pria itu nampak cukup tua dengan keriput di wajahnya dan dia seorang penyandang tuna rungu.


"baiklah, kalau begitu antar saya pulang ya," kata Lily dengan bahasa isyarat.


pria itu mengangguk dan menyerahkan helm pada Lily, sedang Anand yang merasa khawatir pun mengikutinya.


Lily hanya merasa kesal dengan sikap anand, "ku bilang untuk pulang, aku ingin sendiri," kata Lily.


"iya iya, nih aku pulang," kata Anand yang tampak tak ingin berbelok


Lily pun akhirnya bisa bernafas lega, "dasar pria menyebalkan, kenapa terus menganggap ku anak kecil," katanya frustasi.


Lily pun ingat jika supir ojeknya tidak bisa bicara, "maaf ya pak, anda jadi mendengar keluhan ku," kata Lily.


pria itu hanya mengangguk saja, tak butuh waktu lama untuk mereka sampai di rumah, entahlah Lily merasa biasa bersama tukang ojek itu.


pria itu mengeluarkan ponselnya dan menulis sesuatu, Lily pun melihatnya.


"saya tak keberatan untuk mendengar curhatan mbak, tapi maaf saya tak bisa memberikan saran," baca Lily dengan apa yang di tulis oleh pria itu.


pria itu pun menaruh uang yang di berikan Lily pada sebuah celengan bundar yang dia bawa.


dia pun pergi dari rumah itu, dan langsung menuju ke rumahnya sendiri.


Adit baru saja pulang dari bank, saat beberapa orang sedang duduk menunggu dirinya.


"wah ada apa ini kok ada bapak-bapak yang menunggu saya?" tanya pria itu dengan sopan.


"dasar dukun ilmu hitam, kamu itu tak di terima di desa ini," kata para warga yang masih memiliki luka dan kutukan di dirinya.


"astaghfirullah hal adhzim, saya dukun ilmu hitam dari mana pak, saya menyembuhkan semua orang yang percaya pada Allah, atas izin-Nya, bukan karena ilmu klenik," jawab Adit yang masih mencoba menahan dirinya.


"alah tak usah munafik, ini pasti cuma akal-akalan kamu saja, mana ada orang yang mencuri yang mau jujur, jika ada penjara penuh," kata pria itu.


"yang ada tak akan ada pencuri jika semua orang jujur dan mau membantu saudaranya agar tak ada yang kelaparan," kata Adit menyahut.


"kakean omong," seorang pria yang langsung mengguyur tubuh Adit dengan air yang di campur kotoran sapi.


Adit hanya diam dan tersenyum mendapatkan perlakuan seperti itu, "makan tuh t*i sapi, sekali lagi kamu berani menghasut warga di desa itu, kepala mu yang akan kami pisahkan dari tubuh mu," kata pria yang merasa menjadi jawara di kampung itu.


"ember mu ketinggalan mas Afifi, ingatlah jika semua karma baik dan karma buruk pasti ada balasannya, jika anda tak ingin membuka hati anda yang keras itu, maka persiapkanlah diri anda menghadapi konsekuensinya," kata Adit tersenyum.


"aku tak takut,aku setiap bulan purnama pasti bisa melewati semua rasa sakit itu, karena aku adalah jawara yang tak terkalahkan," kata pria itu.


"jawara kok penyakiten," saut salah satu warga yang sembuh.


"ojok kakekan cangkem lek gak gelem tak pateni sak ini," marah pria itu yang langsung pergi.


"bapak-bapak dan ibu-ibu serta yang lain, tolong jangan saling melakukan keburukan karena bagaimanapun mereka, mereka tetap saudara kita," kata Adit yang mencoba membuka hati para warga yang masih tak percaya tentang agama.


"iya mas, kami tau, sekarang tolong mas Tama bersihkan tubuhnya dulu, kami bantu ya," kata mas Imin.


Adit pun mengangguk dan menuju ke sumur samping rumah, dia pun duduk bersila dan mas Imin mulai menyiramkan air bersih itu ke tubuh Adit.


"mas Roni, tolong ambilkan abu sekam dari dapur rumah warga, karena aku akan membersihkan tubuhku dengan itu," kata Adit.


"iya mas Tama, saya ambilkan dulu," jawab pria itu.


mereka pun menyaksikan Adit yang mandi dengan mengunakan abu yang di campur sabun.


beruntung setelah mengunakan itu, tubuh Adit pun tak bau lagi, karena aroma kotoran sapi yang bercampur air seninya sangat Pesing dan bau.


Adit pun meminta warga untuk pulang dan mempersiapkan acara nanti malam, dia sudah tak apa-apa lagi sekarang.


dia pun bergegas masuk kedalam rumah dan berganti baju, dan langsung bersila.


"kalian menentangnya, kita lihat sekuat apa dalam menghadapi rasa sakit malam ini," gumam Adit yang sudah dalam mode psikopat.


dia pun membuat kutukan itu memiliki kekuatan dua kali lipat pada orang yang belum sembuh.


suara adzan magrib mengejutkan Adit yang ketiduran sambil duduk.


"ya Allah sudah ada panggilan sholat," gumamnya.


dia pun mencium aroma tubuhnya karena tak elok jika tubuhnya masih bau, tapi beruntung aroma itu sudah hilang dari tubuhnya.


Adit pun kembali mandi dan bergegas ke musholla yang ternyata tak ada yang berani menjadi imam sholat.


Adit pun langsung menjadi imam dan memimpin semua orang untuk sholat dan bersujud pada yang maha kuasa.