LILY

LILY
malam rasa sakitl



Adit selesai menjadi imam sholat, ternyata Arkan sudah datang bersama dengan Tasya ke desa itu.


keduanya pun di sambut hangat oleh semua warga karena berkat bantuan Arkan selama ini mereka masih tetap bisa bertahan di tengah gempuran penyakit kutukan itu.


"assalamualaikum papi..." sapa Adit yang langsung memeluk Arkan.


"waalaikum salam mas, ya Allah papi tak sangka kamu sudah bisa sehat seperti ini, mulai sekarang tolong jaga kesehatanmu ya," pesan Arkan.


"iya papi," jawab Adit.


"loh mas Tama kenal pak Arkan ya?" tanya mas Imin.


"iya, saya dulu murid beliau dalam hal segalanya," jawab Adit tersenyum.


Arkan memang tak mengatakan siapa dia, pasalnya sudah tidak ada lagi yang ingat maupun sadar siapa Arkan.


selain para pria yang dulu memperlakukan orang tua dari Adit begitu kejam, Arkan sebenarnya juga sudah merasa bersalah karena dalam kemarahannya dia mengutuk semu warga.


"baiklah mari kita mulai acara doanya," kata Adit yang meminta Arkan memimpin pembacaan tahlil dan Yasin.


setelah acara doa dan sholat isya' berjamaah, semua warga pun mulai melakukan makan bersama.


Tasya pun merasa senang karena Adit tampak sehat dan baik-baik saja.


setelah selesai ketiganya pun duduk bersama di teras musholla. "bagaimana keadaan mu nak, jika kamu butuh sesuatu kamu bisa bilang pada mami,"


"aku baik mami, rumah juga sudah aku perbaiki dan sudah layak untuk di tinggali," jawab Adit tersenyum.


"terima kasih le, kamu tau jika papi sangat merasa bersalah saat tau jika kutukan ini perlahan bisa membunuh orang, bahkan korban jiwa sudah sangat banyak," kata Arkan.


"iya papi, dan syarat pelepasan kutukan dulu adalah aku harus tinggal di sini setidaknya dua tahun bukan, aku akan melakukannya," kata Adit.


"tapi mungkin perjalanan mu nantinya tak akan mudah," kata Arkan.


"aku tau papi, tapi semua butuh proses dan juga kesabaran bukan, jadi aku akan kuat untuk itu," kata Adit.


tak terasa sudah pukul setengah sepuluh malam, para warga tetap berkumpul karena mereka takut jika rasa sakit itu akan kembali mendera mereka.


"mas Imin kenapa semua belum pada pulang?" tanya Adit yang heran.


"anu mas Tama, mereka semua takut jika pulang akan kembali kesakitan, jadi mereka memutuskan untuk tetap tinggal disini," jawab mas Imin.


"ya Allah... kalian tenang saja, kalian sudah sembuh jadi tak perlu takut, Monggo yang mau pulang silahkan di jamin sudah tak akan terasa sakit lagi," kata Arkan pada warga.


"iya juragan,kami permisi," pamit beberapa orang.


mereka pun pergi dengan senang, pukul sepuluh malam suasana kampung tiba-tiba ramai dengan suara teriakan.


Adit duduk sambil melipat kakinya, arkan yang melihat Adit pun tau apa yang akan di lakukan putranya itu.


malam ini bulan purnama, "sakit!!!" teriak semua warga yang masih belum sembuh.


suasana makin Keos, karena warga yang masih sakit akan merasakan daging mereka di sayat-sayat.


rasa panas, gatal, nyeri yang sangat hebat, bahkan di beberapa luka bisa keluar belatung yang cukup besar.


"hentikan, sakit.... aku tak kuat lagi!!!" teriak pria yang tadi menyiramkan air kotor ke tubuh Adit.


pria itu terus menggaruk-garuk tubuhnya, bahkan sampai luka itu terus menggangga semakin besar.


tiba-tiba dari tubuhnya keluar ulat dan belatung cukup banyak, "sakit argh...."


pria yang mengaku jawara desa kini menjadi pria tak berdaya yang akhirnya menyerah dalam kesakitannya.


Adit pun mulai menembangkan salah satu mantra, Tasya yang memang tak sepenuhnya paham pun hanya melihat suaminya.


"tenang mami... dia hanya ingin memberikan pelajaran saja," jawab Arkan.


"bapak dan ibu yang masih ada di luar, tolong masuk kedalam mushola, mami juga dan tolong jaga mereka," kata Arkan yang bangkit dari duduknya.


"papi .. hati-hati," jawab Tasya


Adit juga bangkit dari duduknya,kini kedua pria itu berhadapan dengan makhluk-makhluk pembawa penyakit yang dulu di tanam Arkan.


mereka semua langsung menunduk hormat pada pria itu, "salam sembah jami... kami menghadap prabu,"


"bangkitlah, sekarang aku memerintahkan kalian semua untuk meninggalkan desa ini," kata Arkan.


"baik prabu," jawab mereka semua yang bisa menerima.


tapi ada beberapa makhluk yang akan tetap ada di desa itu, dan Adit yang akan mengawasinya.


Adit dan Arkan mulai berjalan di tengah gelap malam desa itu, di iringi suara jeritan yang tak ada putusnya.


mereka sampai di titik pusat dari desa itu, dasar memang ada makhluk jail di sekitar mereka.


buah jambu tiba-tiba jatuh mengenai kepala dari Adit, saat dia menoleh senyumnya langsung mengembang.


"hehe... mbak kun-kun jangan mulai, nanti papi marah loh," kata Adit yang duduk berdampingan dengan Arkan.


"sudah abaikan, dia tak akan menganggu lagi," kata Arkan fokus duduk bersila.


setelah itu mulai berdoa, dan saat selesai sebuah ular berwarna putih keluar dari tanah.


di rumah keluarga Arkan, Lily sedang duduk menemani adiknya Linga yang sedang mengerjakan tugas dari sekolah.


"dek kamu mau sesuatu gak, mbak lapar nih," kata Lily pada adiknya itu.


"aku ingin makan lumpia isi yang viral itu loh, kan mami punya kulit lumpia di kulkas kan ya?" tanya Linga yang sempat melihatnya.


"sepertinya, ayo coba kita lihat, lumayan juga buat cemilan malem," ajak Lily.


Linga langsung menutup bukunya dan mulai mengikuti Lily ke dapur, ternyata benar.


"baiklah ayo kita buat," kata Lily dengan semangat.


mereka pun mulai memasak, Linga membantu mengiris beberapa bahan.


tapi tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar rumah, "eh ada tamu kak, aku lihat bentar ya," kata Linga yang berlari keluar.


"hati-hati, ingat untuk selalu mengintipnya terlebih dahulu," kata Lily mengingatkan adiknya itu.


"siap mbak," jawab Linga.


Linga berdiri di depan pintu, dia merasa aneh saat tak mendengar sesuatu.


tapi malah mendengar seperti ada yang melompat bolak-balik di depan pintunya.


tak lama terdengar suara ketukan lagi, tapi kali ini bukan seperti ketukan yang di buat oleh tangan.


terlebih ketika itu cukup keras terdengar jelas, Linga bukannya takut malah punya ide iseng.


dia tau jika hantu seperti itu tak akan mudah pergi, jadi dia memilih menghubungi Nino.


Linga meminta pria itu membelikannya pizza, dan bilang jika dia di rumah cuma berdua dengan Lily.


Nino yang tak curiga pun langsung mengiyakan, "maaf ya om Nino, soalnya aku ingin lihat seberani apa polisi seperti om Nino," gumam Linga.


pocong itu terus melompat dan tak mau diam, Linga pun memilih tak menggubrisnya.


"siapa sih dek? kok pintunya gak di buka?" tanya Lily penasaran.


"sudah kakak jangan banyak tanya, nanti juga tau, mana lumpia milikku, wah .. besar pasti puas," kata Linga yang langsung memakan cemilan itu.