
Lily pun melihat ada surat dan mengambilnya, "berhenti melukai dirimu, dan jangan ceroboh,"
"papi..." kata Lily menunjukkan surat itu.
saat Faraz memegangnya, dia hanya tersenyum sekilas, "sudah masalah ini sudah selesai, dan sekarang kita makamkan tulang belulang ini,"
"bukankah sebaiknya kita tunjukkan dulu pada polisi dan keluarga korban," kata Aryan dengan mudah
"terus kamu mau bilang apa, ada burung yang menjatuhkan kantong ini di yayasan ku, dan membuatku dalam masalah," tanya ustadz Faraz kesal.
Arkan pun menyentuh kantong itu, ternyata dia terseret ke sebuah waktu.
dia melihat lima orang pria sedang menggali sebuah lubang untuk mengubur kresek sampah itu.
mereka terlihat terburu-buru, dan Arkan tau dimana tempat itu berada, karena memang tak akan ada yang mengira hal itu.
saat Arkan akan pergi, dia melihat seorang pria menggali tanah dan mengeluarkan bungkusan kresek yang sudah beberapa tahun itu terkubur.
Arkan hanya tersenyum sekilas, "sekarang papi harus beristirahat sepertinya, seperti perintah mu nak," gumam Arkan yang tiba-tiba tertarik ke tubuhnya lagi.
"sudah aku tau tempatnya, telpon Nino," kata Arkan.
"biar umi yang menelponnya," kata umi Kalila.
sedang Aryan melihat saudaranya itu, "ada apa?" tanya pria itu tanpa dosa.
"ya Tuhan, kamu ini gimana sih, aku butuh semua rekaman CCTV beberapa tahun terakhir, dan bagaimana bisa ada siswi mati di sekolah dan kamu tak tau," marah Arkan.
"apa? tapi CCTV tak pernah mati selama ini, tapi dua tahun lalu pernah terjadi kerusakan hingga tiga hari CCTV tak dioperasikan," terang Aryan.
"kan goblok..." kesal Arkan mendengar ucapan dari Aryan.
satu jam kemudian Nino dan timnya datang, dan kali ini semua orang langsung takut saat melihat Arkan dan juga kedua anaknya.
"halo om Ferlan, mau main lagi gak, kebetulan aku bawa mainan ku nih," kata Linga yang mendekat kearah pria itu.
"tidak ya dek,om sedang kerja, maaf banget, bang tolongin Napa," kesal Ferlan yang ketakutan sendiri.
pasalnya dia tak ingin tangannya pindah ke kaki bisa tak laku, terlebih dia belum menikah.
semua orang di mintai keterangan lebih dalam, Arkan juga mengatakan jika lubang tempat ini di kuburkan.
dan Arkan memberi gambaran para pelakunya, tapi para polisi harus mencari bukti untuk menahan mereka, terlebih dari tulang belulang itu.
sepertinya gadis itu mengalami beberapa kali kekerasan yang sangat kejam.
akhirnya Nino membawa kerangka itu pergi dari yayasan, dia pun mengucapkan terima kasih karena berkat bantuan mereka lagi-lagi mereka bisa menyelesaikan masalah seperti ini.
bahkan Nino juga mendapatkan keuntungan sangat besar, pasalnya dia sering di bantu oleh teman-temannya itu dalam menyelesaikan masalah.
Adit sudah sampai di rumah lamanya, dia tadi sempat membeli beberapa bahan makanan.
para warga pun merasa heran, bagaimana bisa ada orang yang berani tinggal di rumah keluarga mantan napi itu.
"pak RT, itu kenapa masnya gak di larang mengunakan rumah keluarga napi itu, apa dia tak takit tertular penyakit kita?" tanya seorang pria.
"dia sudah membelinya dari juragan Arkan, lagi pula penyakit kita ini bukan penyakit menular, melainkan kutukan untuk semua warga desa dan keturunannya," kata pak RT.
dia bisa bicara seperti itu karena dia menyaksikan sendiri, jika itu tak berpengaruh pada siapapun yang pernah bersentuhan dengan mereka, asal bukan keturunan dari desa itu.
Adit tersenyum menyapa para warga desa, "mari mampir pak, tapi saya belum bisa menyambut kedatangan kalian, terlebih saya harus membersihkan rumah ini," terang pemuda itu.
"iya mas Adit, kami bantu ya, tapi Anda tak akan jijik kan?" tanya pak RT.
"insyaallah tidak pak, kenapa harus jijik, kita kan sama-sama mahluk ciptaan Tuhan," jawab Adit.
mereka pun memperbaiki rumah itu, dan kini rumah la itu kembali bersinar terang setelah sepuluh tahun tidak di tempati.
Adit menyuguhkan minuman, ya dia memang menyembunyikan semua identitasnya.
jadi Adit di panggil Tama di desa lamanya, dia sudah tak ingin melihat para warga yang teluka, toh dia juga sudah hidup baik selama ini.
terlebih orang-orang yang menyakitinya juga sudah mati, dan kasihan jika anak cucunya tetap mendapatkan kutukan ini.
"mas Tama ini lucu ya, saat semua orang menjauhi kami karena kesalahan orang tua kami, tapi mas Tama malah mau tinggal di sini,dan tak takit apapun," kata seorang pria.
"sudah coba untuk mandi air sirih yang di campur kunyit pak, insyaallah itu bisa meringankan luka dan penyakit anda, tapi yang terpenting adalah berdo'a, tadi saya tak mendengar ada adzan Magrib dan isya', apa musholanya mati lampu?" tanya Adit.
"tidak mas, kami semua tak percaya tuhan lagi,jadi kami tak sholat atau mengerjakan semua perintah Tuhan," jawab pak RT.
"astaghfirullah hal adhzim... seharusnya kalian semua makin mendekatkan diri pada Allah,dan bismilah saat saya bisa pasti saya akan membantu menyembuhkan anda semua," kata Adit meyakinkan semua orang.
"masnya yakin, padahal kata orang-orang, dulu ayah saya memanggil semua dukun di seluruh negri, bukan sembuh malah dukun itu mati," kata pria itu.
"itu karena ayah sampean-sampean ini tak meminta maaf pada keluarga yang mereka sakiti, bahkan mereka tega membiarkan dua orang tua mati tanpa mau membantu dalam pemakaman mereka, itulah kenapa ada yang marah dan mengutuk desa ini, dan jika anda semua ingin sembuh, sebisa minta maaf, dan kita buat pengajian selama tujuh hari untuk mendoakan keluarga itu, dan insyaallah dengan izin Allah,kutukan ini bisa di hilang," kata Adit meyakinkan warga.
"ya kamu setuju, karena kami sudah lelah terus kesakitan seperti ini, kami juga ingin menikah dan membuang hidup dengan gadis yang kami sukai," kata para pemuda itu.
ya di desa ini sekarang hanya hidup para warga yang tak lebih dari usia empat puluh lima tahun.
karena pria yang lebih tua, kebanyakan meninggal dunia karena tak tahan dengan penyakit yang mereka derita.
"kalau begitu, ada yang punya Genuk atau gentong yang muat seorang pria dewasa, saya akan menunjukkan air mandi yang harus di gunakan untuk penyembuhan," kata Adit dengan senang hati.
"baiklah mas, kebetulan di rumahku ada, tapi bolehkah saya mencoba terlebih dahulu," kata pria itu
"tentu, asalkan anda hapal surat-surat pendek dalam Al-Qur'an," kata Adit.
"Alhamdulillah saya hapal mas, kalau begitu ayo bantu aku mengambil gentong itu," kata pria itu sangat senang.
pasalnya dia ingin sembuh tanpa merasakan kesakitan lagi seperti ini.