LILY

LILY
niat buruk Lulu



Arkan dan Faraz pun masih di yayasan pondok pesantren itu, sedang di rumah, Lily dan Anand sedang merencanakan sesuatu.


"apa kamu yakin, kondisimu sangat buruk Lily," kata Anand.


"sebenarnya aku melihat dari para pelaku, dan aku hanya bisa melihat dimana makam kak Lulu, saat menyentuh atau tak sengaja bertabrakan dengan mereka," kata Lily.


"tapi bagaimana kita tau dimana para alumni itu, ini sangat mustahil jika ingin membantunya atau menemukan kuburan gadis itu," kata Anand.


"kamu kenapa begitu gampang menyerah, kamu itu menyebalkan," kesal Lily.


Anand pun menghela nafas, dia memang tak sebaik Adit yang bisa menemani gadis itu membantu arwah.


"mbak Lily ... tolong antar aku pulang ya," mohon Shafa.


"tentu dek, dan kamu juga pulanglah anand, aku tak ingin melihat mu saat ini," kata Lily yang mengandeng tangan Shafa.


"mbak, aku ikut!!" teriak Linga.


tanpa di duga,Lily langsung mengendarai motornya dengan kecepatan sedang.


sedangkan Anand memilih pulang karena Lily masih marah dan tak mungkin dia bisa membujuknya.


jadi anand memutuskan untuk pulang, sedang Lily dan dua bocah itu sedikit panik karena sudah cukup gelap.


"mbak aku takut?" lirih Shafa.


"tenanglah sayang, sebentar lagi kita akan sampai," kata Lily.


pasalnya mereka mulai melihat beberapa makhluk mulai menunjukkan eksistensinya.


mereka kini ada di jalan ruangan sawah yang cukup gelap, saat dia merasakan hawa yang sangat tak enak mulai mendekat.


tapi beruntung sebuah taksi mengikuti motor mereka hingga sampai di yayasan pondok.


mobil itu pun langsung pergi saat motor Lily Kendarai itu berbelok ke arah yayasan pondok yang cukup besar itu.


"terima kasih orang baik!!" teriak Linga melambaikan tangannya.


orang yang duduk di dalam taksi pun hanya tersenyum sekilas, terlebih dia sudah lupa bagaimana cara menyapa orang.


"umi... assalamualaikum..." sapa Shafa yang langsung memeluk tubuh umi Kalila.


"waalaikum salam, loh baru pulang, bawa apa saja nih,kok repot-repot sih," kata umi Kalila melihat Lily yang membawa begitu banyak barang.


"ini hanya oleh-oleh dari mami yang baru pulang dari Singapura, apa papi masih disini umi?" tanya Lily yang memberikan semua barang yang dia bawa.


"mereka ada di dalam, masuk saja nduk," kata umi Kalila.


mereka pun masuk bersama, ternyata ustadz Faraz dan Arkan masih di masjid.


"kalian tunggu di ruang keluarga ya, mami mau buat sesuatu dulu untuk makan malam," kata umi Kalila.


"iya umi, kami akan tunggu di sini, Shafa tolong lihat buku gambar milikmu, jangan bilang kamu lupa jika ada tugas," kata Linga.


lain hal dengan Lily yang sigap membantu umi Kalila untuk menyiapkan segalanya.


Arkan kaget saat melihat Linga di rumah itu, "loh Linga ada disini? sama siapa nak,"


"sama mbak Lily, sepertinya masih membantu umi Kalila di dapur, katanya dia sudah melihat para pelaku yang membunuh hantu di sekolah itu papi," kata Linga.


"benarkah, kalau begitu akan semakin mudah, tapi aku ingin bertanya dulu pada ayah kecil kalian dulu," kata Arkan yang ingin memastikan sesuatu terlebih dahulu.


"tenanglah kita harus menyelesaikan semuanya dengan baik, jangan marah," kata ustadz Faraz.


terdengar suara deru mobil yang memasuki area rumah ustadz Faraz, ternyata itu adalah Aryan yang memang baru pulang pelatihan.


"akhirnya yang di tunggu datang, kamu mau ngerjain kita semua hingga membuat kami nunggu lama banget," kata Arkan.


"kamu kenapa sih sensitif amat, lagi mens ya," jawab Aryan yang tertawa tanpa tau jika kedua saudaranya itu sedang kesal.


"kamu ini gak pernah serius ya, bikin emosi orang mulu," kesal ustadz Faraz yang memukul kepala adiknya itu.


"sudah-sudah Semuanya ayo masuk dan makan dulu, Linga dan Shafa ayo nak," panggil umi Kalila.


mereka semua pun makan bersama, sedang di rumah Arkan seorang tamu pria datang sambil membawa sesuatu.


dia mengetuk pintu rumah dengan pelan karena tau jika di rumah hanya tinggal Tasya, "assalamualaikum..."


Tasya yang baru selesai sholat pun langsung berjalan keluar tanpa melepaskan mukenanya.


"waalaikum salam... mau cari siapa ya-" tanya Tasya yang berhenti karena melihat tamu yang datang.


"Allahu Akbar... apa mami tak mimpi nak, ya Allah.... putra mami yang ganteng berdiri di depan ku, ya Allah..." kata Tasya yang Langsung sujud syukur.


Adit pun langsung memeluk ibu yang sudah membesarkannya itu, "ya Allah Aditama putraku...." tangis Tasya tak bisa terbendung lagi.


kebetulan opa Alan dan Oma utami juga datang, Mereka juga langsung lari saat melihat siapa yang datang.


"ya Allah tole ganteng Oma!!" tangis Oma utami tak bisa terbendung.


kedua wanita itu terus memeluk tubuh Adit seakan tak percaya, jika pria yang satu tahun ini terbaring tak berdaya sudah bisa berdiri di depan mereka.


"kamu benar Adit, bukankah saat kami meninggalkan mu kamu masih tak berdaya nak?" tanya opa Alan tak percaya.


"Alhamdulillah opa, berkat doa dan mukjizat yang di berikan padaku, akhirnya aku bisa berdiri lagi sekarang," jawab Adit.


"tunggu Arkan dan yang lain harus tau juga jika kamu sudah pulang," kata opa Alan ingin memberitahukan kepada semua orang.


"tidak opa, aku belum bisa tinggal disini, aku harus menyelesaikan sesuatu, jika tidak Lily belum sepenuhnya aman," kata Adit yang mengejutkan semua orang.


"tidak boleh, mami tak bisa kehilangan kamu lagi nak, mami tak ingin itu..." tangis Tasya.


"tapi mami, tolong restui Adit demi Lily dan Linga, dan juga kebahagiaan kita," mohon pria itu.


"tapi apa yang ingin kamu lakukan?" tanya Tasya yang nampak belum siap untuk melihat Adit yang baru sembuh terluka lagi.


"aku mohon doanya saja dari mami dan Oma, aku pasti pulang mami," kata Adit.


Tasya pun kembali memeluk Adit dengan erat, "tenang mami, kali ini Adit akan kembali dan tak akan mengecewakan kalian semua," kata Adit membuat Tasya sedikit tenang.


"kamu jaga kesehatan mu ya nak, ingat kami semua disini menunggu mu," kata Tasya.


Adit pun mengambil beberapa barang miliknya dan menaruh sebuah hadiah di kamar Lily.


"aku akan selalu bersama mu, tolong jangan sedih, dan terus jaga sholat mu," kata Adit yang kemudian pergi.


tapi sebelum itu dia melihat foto kecil mereka yang terpajang cukup besar di kamar itu.


"maaf membuat mu melupakan wajah ku, itu demi kebaikan kita berdua saat ini," terang Adit yang sudah siap pergi.


di depan rumah Adit dapat mencium kaki Tasya dan kemudian memeluk wanita itu.


begitupun dengan opa Alan dan juga Oma utami,jika bukan berkat bantuan mereka mungkin Adit tak mungkin bisa berdiri seperti ini sekarang.


dia pun pergi dengan sepeda motor trail, dia pun hilang di kegelapan malam.


🍁🍁🍁🍁


seekor burung elang terbang di atas pemuda itu yang terlihat sangat marah, dia pun memakai topeng tengkorak miliknya.


dia pun sampai di sekolah milik keluarga Arkan itu, saat dia datang semua makhluk yang ada di dalam sekolah seakan bersembunyi.


"Lulu... kamu mau keluar atau aku akan menyeret mu dan menghanguskan mu," panggilnya dengan suara berat dan mengancam.


tiba-tiba sosok Lulu keluar dengan darah yang mengalir tanpa henti dari mata dan lehernya.


bahkan di perut gadis itu juga ada usus yang terburai, bahkan aroma busuk merebak ke seluruh kawasan sekolah.


"siapa kamu!" teriak Lulu dengan marah.


"aku maut bagi pendosa, aku pencuri bagi yang kikir, dan aku malaikat maut untuk arwah penasaran seperti mu," kata pria bertopeng tengkorak.


dia pun langsung menebas hantu itu dan kemudian membuat lulu kesakitan.


dia bisa melihat setiap gambaran apa yang terjadi pada gadis itu, "kau penasaran bukan karena di bunuh, tapi karena kamu ingin mengajak orang yang salah, dan sekarang aku mengirim mu ke tempat kau seharusnya pergi," kata pria bertopeng itu yang kemudian pergi.


di pondok pesantren itu, seekor burung elang terbang mengitari rumah dari ustadz Faraz.


suara burung itu begitu keras seakan meminta penghuni rumah keluar.


mendengar suara ribut-ribut, semua orang yang ada di dalam rumah pun bergegas keluar.


burung itu menjatuhkan sebuah kantung sampah yang berisi tulang belulang.


"itu yang kalian cari, tak perlu menyusahkan kalian lagi," kata pria bertopeng tengkorak yang kemudian hilang dalam pekat malam.


mereka pun membukanya dan terkejut melihat tulang belulang yang mengenakan seragam sekolah dari yayasan milik keluarga mereka.


"apa ini yang ingin kalian bahas dengan ku?" tanya Aryan yang kaget.