
pagi itu umi Kalila langsung mengajar di sekolah madrasah ibtidaiyah disekitar kawasan pondok.
mobil ustadz Faraz dan Shafa sudah sampai di sekolah dan ternyata mobil dari Arkan sudah terparkir rapi.
"Shafa masuk kedalam sekolah dulu ya, Abi mau menemui ayah kecil mu dulu," pamit ustadz Faraz.
"iya Abi," jawab gadis kecil itu.
Shafa berjalan menuju kelasnya, terlihat beberapa temannya akan masuk kelas.
dia pun mempercepat langkah kakinya, tapi tak terduga Marwah menjegal kaki Shafa.
tapi beruntung gadis itu gak sampai nyungsep karena Linga menahan tubuh Shafa.
"kamu tak apa-apa Shafa?"
"tidak kok, terima kasih ya udah menolongku," kata Shafa.
Linga pun melihat Marwah, semoga apapun yang pernah kamu lakukan pada Shafa terjadi padamu juga," kata Linga yang narik Shafa pergi.
Marwah pun merasa jika Linga itu sangat bodoh, "kenapa sih dia hanya terus saja melihat Shafa, padahal aku juga ada," kesal gadis itu.
"kamu sih, memangnya Shafa punya salah apa hingga kamu begitu membencinya," kata salah satu teman Marwah.
"kamu tak tau, seharusnya yang dimiliki Shafa itu semua adalah milikku dan bunda, mereka mencurinya!" marah Marwah.
tanpa di duga oleh mereka ustadz Faraz mendengar semua yang di katakan oleh Marwah.
"sepertinya Anna sudah menanamkan racun pada putrinya itu," gumam ustadz Faraz.
"ya dan itu sudah benar-benar menghancurkan karakter gadis itu, terlebih semua terjadi juga bukan salah kita bukan, toh mereka sudah sangat bahagia bukan?" kata Aryan.
"aku juga tak mengerti, terlebih Anna juga terus membuat Kalila tersakiti, tapi aku juga tak bisa jika harus terus melihat wanita itu melukai istriku, kadang aku ingin sekali menampar mulut wanita itu, tapi aku selalu terbelenggu dengan semua atribut ini, padahal aku ingin sebebas dulu yang bisa melakukan apapun," kata ustadz Faraz.
Arkan pun melihat saudaranya itu dan kemudian tertawa mendengar perkataan dari pria itu, "aku mendengar ucapan mu itu geli sekali, ya anggap saja konsekuensinya menikahi anak kiai,"
"sudah tutup mulut mu, kita mulai saja untuk kegiatannya," kata ketus ustadz Faraz.
mereka pun menuju ke area kamar mandi yang di maksud oleh Lily, ketiganya masuk kedalam ruangan itu.
"sepertinya kamar mandi ini harus di renovasi ya, karena auranya terlalu pengap," kata Arkan
"boleh tuh, Aryan catat ya, saat libur semester, kamar mandi tolong di renovasi, dan jangan sampai ada coretan seperti karena terkesan kotor," kata ustadz Faraz.
"iya deh, apa kalian ingin mencari atau melihat gedung lain, ya barang kali ada yang ingin di ubah lagi," tanya Aryan yang tersenyum.
"menang kamu kira kita lagi pasang pesugihan kandang Bubrah, sudah nanti aku kirimkan uang untuk renovasi semua toilet dan pastikan untuk memeriksa CCTV untuk semua jelas dan lorong dan jangan ada yang rusak," kata Arkan uang di acungi jempol oleh Aryan.
mereka bertiga pun melewati kelas dari Lily dan Anand, di bagian SMA ini memang area paling belakang.
kelas itu begitu ramai, bahkan suara mereka semua sampai keluar dari kelas karena saking kerasnya.
"mau coba masuk dan melihat bagaimana kedua keponakan mu saat jam kosong," kata Aryan melirik ustadz Faraz.
"tentu, aku ingin lihat bagaimana mereka dalam belajar," kata pria itu yang baru membuka pintu.
sebuah tas melayang dan mengenai kepala ustadz Faraz. pria itu langsung menatap semua murid dengan tajam.
"ini jelas atau pasar!" bentaknya.
semua murid pun kaget dan langsung duduk di kursinya, sedang Arkan dan Aryan malah tertawa melihat hal itu.
"sabar ya mas, maklum anak-anak," kata Aryan.
"assalamualaikum Semuanya," sapa Aryan dengan cukup ramah.
"waalaikum salam pak," jawab semua murid.
Arkan melihat putrinya duduk di bangku cukup belakang, dia menatap tajam kearah Lily.
"mampus, papi marah sepertinya," gumam Lily menutup wajahnya dengan buku.
"selamat pagi menjelang siang pak Aryan, tumben main ke kelas kami?" tanya Uci yang langsung membuat keributan.
"ciye Uci..." kata semua murid
"semuanya tenang, ini jelas bukan pasar, sekarang kalian jam pelajaran apa? kenapa kelas kosong?" tanya Aryan yang membuat semua diam.
"izin menjawab pak, ustadz Azka tadi katanya izin karena ada kepentingan keluarga, dan guru piket juga sedang mengajar di kelas lain,jadi jelas kami kosong," jawab Anand yang memang ketua kelas itu.
"kalau begitu kebetulan, ustadz Faraz tolong ajarkan mereka masalah agama, jangan terlalu mengunakan dalil, coba ajarkan dengan cara yang menyenangkan," kata Arkan.
"tentu saja, kalau begitu kalian berdua silahkan pergi," kata ustadz Faraz.
"baiklah untuk kalian semua, nikmati pelajaran dari ustadz Faraz ya," kata Arkan.
"tunggu dulu pak Aryan, saya ingin menyerahkan sesuatu," kata Uci yang memberikan tas yang berisi makanan.
"susah ku katakan jangan melakukan ini Uci, fokus sekolah karena kalian semua ini sudah jelas tiga," marah Aryan.
"semua pun diam mendengar ucapan dari Aryan yang terdengar sangat kasar.
"sudah bawa saja, dia sudah membawanya, tapi lain kali tolong fokuslah, dan Lily awas kalau nilai mu jeblok," kata Arkan memberikan ancaman.
"iya papi... eh iya pak ketua yayasan," kata Lily yang keceplosan.
mereka pun meninggalkan kelas, sedang Arkan menepuk bahu Aryan, "sudah jangan sedih, siapa tau mungkin kalian memang berjodoh, benar tidak, tak apa-apa loh nikah dengan gadis yang jauh lebih muda darimu,"
"kamu gila, setidaknya kami terpaut dua puluh tahun," kesal Aryan
"ya gak apa-apa memang salah, tuh lihat Anna sama kak Adi, mereka juga terpaut usia yang cukup jauh," jawab Arkan.
"terserah kamu mau bilang apa, kamu selalu menang dengan semua argumen mu," kesal Aryan.
mereka pun melanjutkan perjalanan untuk melihat beberapa bangunan dan fasilitas sekolah yang mungkin butuh perbaikan.
tak terasa istirahat makan siang, kebetulan Arkan dan Aryan sedang berada di kantin.
dari kejauhan mereka nampak Linga dan Shafa, dan beberapa teman yang lain.
mereka nampak berbagi makanan dengan yang lain, "sepertinya Linga di bawakan bekal oleh maminya,"
"ya anak-anak memang sering bawa bekal, tapi putra mu itu sangat hebat, lihat saja sebentar lagi anak yang lebih besar keluar," kata Aryan.
Arkan kaget melihat Linga yang sudah dapat banyak cemilan dan juga makanan dari para siswi SMP.
dan yang paling membuat Arkan tak percaya adalah wajah dari putranya itu sangat menikmati makanan gratis itu.
"jangan bilang Linga menjadi incaran anak SMP," tebak Arkan.
"ya mau bagaimana lagi, orang muka bule begitu, terlebih putra mu itu kalau bicara sangat manis," kata Aryan.
"sebenarnya dia itu menurun dari siapa sih?" kesal arkan.
"lah mana aku tau, ya tak mungkin nurun aku kan," kata Aryan yang malah makin membuat arkan kesal.