
"ini pasti bukan pekerjaan manusia, lihat saja bagaimana bisa seorang manusia melakukan itu," kata para warga.
"iya Bu itu pekerjaan iblis, kalau gak gitu tak mungkin sebiadab itu," kata warga.
mendengar itu Adit cuma tersenyum saja, "mas Imin bagaimana sawah yang saya minta anda garap?"
"semuanya lancar mas, terus mas Tama ini mau kemana, kok sudah rapi saja jam segini?" tanpa mas Imin.
"saya harus ke kota untuk membeli keperluan, tapi bagaimana bisa pergi orang seperti ini ramainya," kata Adit.
"ya maklum nas, orang ada begal yang di gantung seperti itu dengan salah satu sudah mati pun di gantung begitu parah," kata pria itu.
"anggap saja sebagai pelajaran bagi semua orang," kata Adit tak ambil pusing.
akhirnya setelah dua jam evakuasi, para begal itu pun di turunkan dan yang selamat sudah benar-benar seperti orang gila.
Adit pun akan pergi setelah evakuasi selesai, tapi dia ingat jika kemarin dia ingin mengambil telur tebu.
jadi kali ini dia kembali turun ke tempat kemarin, terlebih dia juga masih penasaran dengan apa yang dia lihat.
karena rasa penasarannya terlalu tinggi, dia pun turun dengan hati-hati tak sengaja dia memegang sesuatu.
dan dia pun kembali ke ingatan mas lalu, Adit pun pingsan sendirian di pinggir sungai itu.
seorang wanita tersenyum mengendong seorang bayi mungil di tangannya.
"lihat sayang... putra tampan kura sudah lahir," kata wanita itu pada Adit.
"tidak bisa, kita harus pergi,mereka membohongi kita, mereka hanya ingin menjadikan putra kita tumbal saja," kata Adit yang seperti menjadi orang lain.
"baiklah ayo kita pergi," jawab wanita cantik itu.
tapi saat mereka akan pergi, wanita itu malah merasakan perutnya kembali sakit, dan ternyata dia melahirkan seekor ular berwarna putih.
"mas apa ini?" tanya wanita itu.
"dia juga putri kita, sekarang kita bawa dia pergi juga," kata pria itu bergegas pergi bersama bayi laki-laki dan juga istri yang baru melahirkan.
tapi Adit bisa melihat setiap orang yang melihatnya dengan tatapan marah, "dasar pria tak tau di untung, jika bukan karena Nyai, istrimu itu sudah lama mati, tapi kamu malah mau ingin membawa timbal utama kami pergi, kalau begitu kamu yang akan aku tumbalkan!" marah pria itu yang langsung menebas kepala Adit.
setelah merasa kepalanya di tebas seperti itu, Adit pun terbangun dan segera meraba lehernya.
"lehermu tak putus mas," suara seorang gadis yang begitu lembut.
Adit mencari sosok suara itu, "kamu siapa, dan kalau berani tunjukkan sosok mu," kata Adit.
seekor ular putih keluar dari sebuah lubang, dan merubah dirinya menjadi gadis cantik persis dengan wanita di potongan gambar yang dia lihat.
"namaku Arum, mas Adit aku adik mu, dan kamu sudah menemukan kalung yang di tinggalkan ibu kita," kata siluman ular itu.
Adit pun melihat sebuah batu merah di tangannya, bahkan memiliki simbol ular di tengahnya berwarna hitam.
Adit tak sengaja mengusap batu merah itu, tak terduga puluhan ular menghampiri Adit.
tapi yang aneh para ular itu hanya berhenti dan melihat kearah Adit, "mereka merasa di panggil oleh tuan mereka, melalui batu itu," kata Arum tersenyum.
"kalian semua bubar, dan bersembunyi jangan keluar jika tidak kalian akan di tangkap manusia?" kata Adit
para hewan melata itu pun pergi, dan menuruti semua perintah dari Adit.
Adit pun mengambil air di sungai dan mengusap batu itu di keningnya dan kemudian memakai kalung itu.
"apa kamu siap untuk membalas dendam kakak?" tanya Arum.
"tapi kamu adalah anak-anak mereka, kamu harus menuntut balas dendam atas kematiannya!!" teriak Arum.
"kenapa tidak kamu, kamu juga lahir dari mereka, karena aku belum tau seluruh ceritanya, jadi jangan menuntut ku apapun atau aku akan memusnahkan mu," kata Adit yang dingin.
bahkan pria itu sekarang malah mengambil telur tebu itu dan tak menggubris siluman ular itu.
mendengar ucapan Adit yang tak menggubrisnya sama sekali, Arum pun marah, "itu pilihan mu,maka aku akan membuat mu membangkitkan kebencian mu, aku jamin itu karena aku sudah tau apa yang harus aku lakukan," gumamnya.
Adit pun memasukkan semua tanaman itu ke mobilnya, dan segera ke kota untuk belanja.
ya mobil itu adalah mobil yang di berikan oleh Arkan, meski dia sudah menolaknya tapi pria itu tetap kekeh.
setelah dari SPBU untuk berganti baju, dia pun bergegas pergi dan saat sampai di supermarket paling besar itu.
dia pun langsung masuk dan mengambil semua keperluan rumahnya.
setelah itu dia bergegas ke kasir untuk membayar, dan tak lupa dia membeli beberapa donat dan juga kue basah.
setelah membeli kue, dia melihat jam tangannya ternyata sudah hampir jam sebelas siang.
"aih... adik kecilku harusnya akan pulang," kata Adit yang bergegas pergi.
dia pun menuju ke area sekolah, dia memakai topi dan dan masker hitam, bahkan dia mengunakan Hoodie untuk menutupi dirinya.
beruntung kelas dua belas sedang belajar saat anak-anak SD pulang, Linga berlari dan langsung memeluk tubuh Adit.
"halo adik kecil, kau merindukan kakak mu ini," kata Adit yang juga sangat merindukan sosok adik kecilnya itu.
"aku merindukan mu, tapi tadi pagi mami masak telur ikan,tapi sayang rasanya tidak seperti masakan kak Adit," kata Linga.
"baiklah aku akan memasakkan untuk mu, tapi bagaimana dengan Shafa?" tanya Adit yang tau jika keduanya tak terpisahkan.
"dia sudah di jemput bunda Kalila tadi, itulah kenapa aku tadi menunggu dan tidak meminta mami menjemput ku, karena aku percaya jika kakak Adit akan datang menemui ku," kata bocah itu sangat bahagia.
"tentu adek ku sayang, sekarang ayo kita ke rumah kak Adit," ajak pria itu.
"siap kakak," jawab Linga yang di gendong punggung oleh Adit .
tak sengaja Uci melihat Linga yang di gendong seorang pria asing, tapi dia kita jika itu adalah saudara jauh Lily karena tak mungkin bocah pintar itu bisa di culik seseorang.
terlebih bocah itu sangat sanggar kalau berurusan dengan pria asing atau orang yang tak di kenalnya.
Linga pun dengan senang hati ikut bersama Adit, sesampainya di rumah yang ditempati kakaknya itu, dia pun tak mengira jika Adit tinggal di ruang yang sangat sederhana.
"kakak tinggal di sini, apa tidak gerah?" tanya Linga.
"tentu saja tidak dong, sudah kamu ganti baju dulu, tadi mas belikan baju untuk mu, dan mas akan masak," kata Adit.
"siap mas, aku mandi dulu ya," kata Linga.
Adit bergegas masak sayuran yang tadi dia ambil, dan di buat pepes dan di bakar.
setelah itu keduanya makan bersama, dan Linga pun merasa senang saat Adit mengajarinya beberapa gerakan silat untuk perlindungan diri.
pukul tiga sore, Adit harus mengantarkan adiknya itu pulang karena jika tidak bisa-bisa maminya marah.
tak hanya itu, semua tugas dari Linga juga sudah selesai karena di bantu Adit.
"mas kapan pulang ke rumah?"
"tunggu ya dek, sekitar satu tahun lagi ya, setelah semua warga di sini sebuah," jawab Adit tersenyum.