Infinite Destiny

Infinite Destiny
-_ Chapter 30 "Sebuah kepercayaan turun temurun" _-



Setelah berbelanja, Lenna langsung pulang dengan wajah ceria, dia sangat senang membuat reputasi Changmin buruk di mata rakyatnya sendiri


(Yah.... Jangan ditiru gays.... )


Lenna langsung saja ke kamarnya dan mendapati Lina dan Lia sedang menunggunya karena sebelumnya Lenna menyuruh mereka pulang duluan


Meski awalnya di tolak tapi dengan paksaan dan ancaman pun Lina dan Lia langsung menuruti perkataan Nona nya


Tak apalah di mata cewek Changmin baik karena saat ini suasana hati Lenna baik dan ingin menjahili orang makanya dia menyuruh Changmin untuk datang


"Siapkan aku makanan" ucap Lenna langsung merebahkan dirinya ke kasur


"Baik Nona" ucap mereka menuju dapur


"Pffttt, kita lihat nanti pak tua, semoga reputasi mu sangat sangat buruk nantinya" batin Lenna tertawa senang


"Em... Nona gak apa apakan kita saling membantu membuat Tuan menderita?" Ucap Yao di tangan Lenna, dia ragu kalau ketahuan


"Tenang saja Yao, bilang saja ini adalah ulah muridnya" ucap Lenna tak sadar bahwa dari awal dia emang diikuti kedua kakaknya


Krak


"Adek sialan! Dia yang berulah aku yang disalahin! maunya apa sih!" Ucap kesal Yuan tanpa sengaja mematahkan ranting pohon yang dipegangnya


"Sabar.... Semua orang itu harus sabar menghadapi anak itu" ucap Yuwen menenangkan Yuan


"Ya tapi gak gini juga!" Ucap Yuan kesal sampe sampe memukul pohon yang ada di sebelahnya


"Bisa gak sih nggak usah marah marah" batin Yuwen kesal, dia ingin sekali bersantai di kamarnya


"Dah dah, ayo pergi kita dipanggil guru untuk datang" ucap Yuwen mencari alasan agar adiknya tidak marah marah


"Oke oke, ayo!" Ucap Yuan langsung pergi


"Sabar... Sabar" batin Yuwen mengelus dadanya berusaha sabar hingga akhir


Mereka pun pergi menuju hutan kehidupan dengan kecepatan tinggi, daripada teleportasi mendingan berlari sambil melampiaskan kekesalan di angin


....


Sementara di sisi lain Changmin yang baru saja menaruh baju baju Lenna di kamarnya Lenna langsung rebahan diatas kasur Lenna yang empuk


"Huft~ Sabar sabar... untung gak ketahuan pas masuk ke sini" ucap Changmin


"Ini kasur atau bulu burung, kok empuk sekali?" Batin Changmin meraba kasur Lenna yang empuk


"Nanti kan bisa minta sama orangnya sebagai gantinya" ucap Changmin tertawa sambil membayangkan


"Tuan~ Ada yang mencari Tuan" ucap seekor angsa yang selalu menemani tuannya


"Oh, siapa?" Tanya Changmin mengerutkan keningnya mengingat ingat


"Tuan memang benar benar sudah tua! Masa lupa orang mencari tuan tentunya murid murid Tuan!" Ucap kesal angsa itu memukul tuannya


"Auch..... ChiChi kau sangat tidak sopan kepada Tuan mu!" Ucap kesal Changmin


"Emangnya aku peduli?" Ledek angsa itu


Nama angsa itu adalah Chin, seorang angsa wanita yang selalu menemani tuannya hingga mendapatkan Tuan baru


Chin adalah angsa ekor pelangi, dia adalah penjaga dari Lembah kehidupan yang terkenal dekat dengan hitan kehidupan itu


Chin selalu dibuat pusing sama tuannya yang sering lupa dan mengeluh ini itu agar ia sering mengikuti perkataan tuannya


Mungkin tinggal tunggu beberapa hari lagi Chin akan bebas dari Changmin yang selalu mengeluh maupun menyuruhnya


"Yaudah, aku pergi dulu, nanti kamu bisa mencari Yao dengan mengikuti auranya" ucap Changmin langsung pergi


"Ckckck, sampai kapan aku harus hidup begini?! udahlah tinggal tunggu Master baru yang menguasai lembah kehidupan" ucap Chin geleng geleng kepala


...


Changmin pun telah sampai dimana tempat Yuwen dan Yuan yang telah menunggunya


"Guru lama sekali sih?! Habis ngapain saja?! Nyuci kamar mandi?" Ucap kesal Yuan


"Ye... maap lah lama, dan ngapain kamu bilang gurumu ini habis nyuci kamar mandi?!" ucap Changmin kesal


"Ya iyalah, habis lama amat nunggu sampe beribu ribu tahun akhirnya keluar juga" ucap Yuan malas


"Enak saja kau! Aku ini umurnya 929 tahun tauk! kau pikir umurku sampe beribu ribu dekade?!" Ucap kesal Changmin memukul kepala Yuan


"Dah sah jangan ribut, ayo kita cari tempat yang pas dulu" saran Yuwen melerai mereka


"Oke" ucap mereka menuruti Yuwen


Tempat yang mereka tempati sekarang adalah halaman samping kerajaan kematian dimana ada sebuah danau yang katanya bisa membuat keberuntungan


Kepercayaan ini turun menurun dari generasi ke generasi dengan ditulisnya di sebuah buku berjudul "Danau surga"


"Masa sih, aku gak percaya takhayul tuh" ucap Yuan malas memandangi kolam itu


"Enak saja kau bilang ini kepercayaan sebagai takhayul! Ini beneran tau! lihat!" Ucap kesal Changmin dengan generasi sekarang


Changmin pun langsung memberi contoh dia berharap sebuah bunga langka ada di dekatnya lalu melemparkan sebuah batu di danau itu


Yuan masih menunggu dengan malas, sekali kali menatap apa yang dilakukan kakaknya


Sebuah cahaya menyilaukan membuat merek harus menutup mata, lalu saat dibuka muncullah beberapa bunga bunga langka yang diharapkan oleh Changmin


"Amazing guys!" Timpal Yuan terkagum kagum dengan pemandangan di depan nya


"Ini bukan kek di film aladin itu kan?" Tanya Yuwen bertanya tanya


"Tentu saja bukan!" ucap kesal Changmin memukul kepala Yuwen karena kebodohannya


"Kau ini gimana sih kak?! di film kan jinnya keluar dari teko dan memberi kita 3 permintaan" ucap Yuan malas


"Benar juga, Hehehe maaf guru aku terlalu penasaran tadi itu" ucap Yuwen cengengesan


"Udah udah, kalian mah ngapain disini?" Tanya Changmin bingung dengan kedatangan mereka


"Dimana Yao Guru? dari kemarin aku tidak melihatnya" ucap Yuan melirik kanan kiri


"Ya iyalah gak ada, orang dari lusa yang lalu dia bersama adik mu" ucap Changmin memberitahu


"Apa?!" Kaget mereka


"Kenapa?" Tanya Changmin mengerutkan keningnya


"Adek sialan itu tidak memberitahu kami keberadaan Yao membuat kami khawatir!" Ucap kesal Yuan menginjak injak tanah


"Yang sabar ya, jangan selalu termakan emosi sama anak sekecil itu" Ucap Changmin menepuk pundak muridnya


"Nah, Kalau kami termakan emosi karena anak sekecil itu, berarti guru juga dong?" Ucap Yuwen polos sambil memperkirakan


"Emang sih, nyatanya juga aku tidak bisa melawannya" ucap malas Changmin


Tanpa memperdulikan kakaknya dan gurunya yang sedang bicara, Yuan langsung mengambil batu untuk mencoba apa yang dilakukan gurunya tersebut


Changmin yang menyadari mulut muridnya hilang entah kemana atau Yuan yang tidak bicara lagi pun menatap kearah Yuan


"Mau apa kamu?" Tanya Changmin menyipitkan matanya mengawasi pergerakan muridnya


Yuan yang ketahuan pun hanya cengengesan sambil menggaruk lehernya yang tidak gatal


"Gini loh guru, kalau emang bisa mengabulkan apapun aku ingin mencoba agar nanti Ran Ran nurut kepada ku" ucap Yuan cengengesan


"Kau sangat jenius muridku, mari kita coba" ucap Changmin mengajak Yuwen


Yuwen yang melihat itu hanya parah lalu mengambil apapun itu yang penting batu yang di dekat danau itu


Mereka pun sama sama mengucapkan permohonannya dan langsung melemparkan batu itu


Mereka selama beberapa menit melihat batu itu sekarang sudah tenggelam dan menunggu jawaban dari bawah air


Splaasss


Suara air yang sepertinya ada yang berputar putar di tengahnya pun terpaksa air itu kena ketiga orang itu


Lalu sepertinya muncul seorang wanita bergaun emas dengan sanggul yang rapi datang tanpa diundang malah datang dari dalam air


"....." Wajah mereka kini sulit diartikan


"Enak saja lo nyuruh nyuruh gua ngikutin perintah mu! Awas kamu jika menganggu ku lagi!" Ucap wanita itu yang tak lain adalah Lenna sambil mengangkat anak kecil


anak kecil itu hanya menangis tanpa air mata melihat dirinya yang tersiksa ini


"Ran Ran?! bagaimana bisa kamu disini?! bukankah sebentar lagi ada jamuan makan malam di istana Yun?!" Kaget Yuwen


"Benar, kenapa bisa sampai kesini?!" Timpal Yuan sangat terkejut


"Kenapa, kenapa!! Asal kalian tau ya anak ini nih memaksa ku untuk menuruti keinginannya kalau tidak aku diancam" protes Lenna tak terima


"Hiks... hiks... Nona aku ini penjaga danau surga loh! aku ini harus bisa mengabulkan setiap orang yang menginginkan sesuatu makanya aku memanggil nona" ucap anak kecil itu dengan tampang imutnya sambil memeluk maki Lenna


"Baik baik! dah sana pergi! aku juga mau pergi" ucap Lenna menendang anak itu


"Jangan gitu dong sama anak kecil" protes Changmin menggendong anak itu


"Anak kecil apanya jika umurnya 10.000 tahun!" Ucap Lenna membuat mereka sangat terkejut


"Apa?!" Kaget mereka dan tanpa sengaja Changmin melepaskan gendongan dari anak itu


Bruk


"Auch! Gak gadis itu, gak penguasa hutan kehidupan sama sama gak menghormati leluhur!" kesal anak itu mengelus kepalanya


"Dah ya bye, aku mau pergi dulu" ucap Lenna melambaikan tangannya lalu pergi


....


Hai! semua! Terimakasih telah membaca novel ini! Semangat buat kalian semua!


Lia



Lina