Infinite Destiny

Infinite Destiny
-_ Chapter 22 "Kembali" _-



Beberapa jam mereka belajar hingga akhirnya Yuwen dan Yuan berhasil mempelajari teknik tingkat emas dari guru mereka


Lenna juga sedang berlatih belajar Alchemist agar di masa depan ketika dia terluka tinggal keluarkan pil yang dia buat daripada mencari sisa sisa pil dari pemilik ruang dimensi sebelumnya


Yuwen dan Yuan juga sebenarnya sudah belajar tentang Alchemist, tapi masih di tahap awal awal gitu lah


Brak


"Hah, melelahkan" Ucap Yuan merebahkan dirinya di tanah


"Benar, mau Aqua?" Tawar Yuwen


"Emang ada ya kak?" Tanya Yuan


"Adalah, mau coba?" Tanya Yuwen


"Baiklah" ucap Yuan bersiap siap


"Aku akan hitung ya" ucap Yuwen tersenyum misterius membuat Yuan sangat antusias


"1....."


"2...."


"3....."


"Tapi boong" ucap Yuwen tersenyum kemenangan karena dia akhirnya bisa menjahili adiknya


"Kakak lucknut!" Kesal Yuan memukul kakaknya dengan keras


"Auch, Jangan main pukul!" Ringis Yuwen memegang tangannya yang dipukul


.....


Di sisi lain, Lenna sudah selesai membuat pil, bahkan ada segunung pil dari tingkat rendah dan tinggi


"Uwu! Yeah akhirnya!" Seru Lenna melompat lompat kegirangan


Changmin yang melihat itu menatapnya aneh tapi ditepis oleh Lenna karena terlalu senang


"Anda sehat mbak?" Tanya Changmin


"Ya sehat lah! Lu ini gimana sih!" Ucap Lenna memukul kepala Changmin dengan keras


"Auch, ya gak gitu juga kales!" Ringis Changmin


"Jadi hasilnya gimana?" Tanya penasaran Changmin


"Tingkat Alam guys! Hebat kan gua?" Ucap sombong Lenna menempelkan kedua tangannya di pinggang dan mengangkat dagunya ala ala Pinnochio


Changmin yang mendengar itu hampir memuntahkan darahnya karena terkejut


"Ajaib sekali nih anak, coba dulu keberuntungan ku sepertinya" batin Chamin membayangkan masa masanya dulu jika menjadi Lenna


"Jangan coba coba membayangkan jadi diri gua, kalo gak udah kutebas kau pake pedang ini" ucap Lenna mengeluarkan bayangan pedang esnya


"Eh, iya iyaa" ucap ngeri Changmin membayangkan apa yang terjadi pada dirinya ketika melihat pedang itu


"Nah jadi gimana?" Tanya Yuwen dan Yuan yang penasaran akan keahlian adiknya


"Adik kalian sangat hebaat, aku berikan 4 jempol" ucap Changmin memberikan kedua jempol tangan dan kaki


"Idih, kaki mu sangat bau, sana cuci kaki" Ejek Lenna menutup hidungnya seolah sangat bau


"Jahatnya dirimu...." Tangis Changmin


"Baiklah baiklah, Guru aku mau bertanya" ucap Yuwen mengeluarkan suaranya


"Ya ada apa?" Tanya Changmin


"Guru bisakah kami pulang ke Akademi? kami sudah beberapa hari tidak pulang nih" Ucap Yuwen


"Oh, sihlakan siapa yang melarang kalian untuk pulang" ucap Changmin santui


"Oke, Kak dimana lotus esnya?" Tanya Yuan kepada kakaknya


"Ada dalam cincin ruangku" ucap Yuwen


"Udahlah ayo, aku rindu coklat dari guruku tersayang nieh" ucap Lenna


"Oke oke, kalau kalian membutuhkan ku tinggal sebut saja namaku ya" ucap Changmin


"Oke, aku bawa kucing gede ini ya" ucap Lenna menggendong Yao entah dapat darimana dia


"Bagus, aku lagi tidur malah dibangunin sama nih bocah, mana dia tau tempat gua biasanya tidur lagi" batin Yao menangis


"Lu bilang apa" bisik Lenna tersenyum manis tapi menyeramkan


"Eh, eh nggak nggak ada kok" ucap Yao cengengesan, dia kaget karena Lenna bisa membaca batinnya


"Nah kucing baik, menurut atau ku cemplungkan kamu kedalam lava" ancam Lenna


"Ba-Baik" ucap Yao tergagap gagap


"Hei adik! Ayo pergi!" Ucap Yuan merangkul adiknya


"Jangan berantem lagi kalian" nasehat Yuwen tapi tidak dihiraukan oleh kedua orang itu


Pada akhirnya mereka pun berpamitan kepada Changmin dan langsung berada di perbatasan hutan


"Kak, rasanya ada yang lupa, tapi apa ya..." ucap Lenna mencoba mengingat ingat


"Mungkin saja itu tidak penting, ayo lanjutkan perjalanan" Ucap Yuan mengajukan pendapat karena menurutnya pembicaraan ini tidak penting


"Baiklah" ucap Lenna dan Yuwen kompak


Mereka pun melanjutkan perjalanan dan beristirahat sebentar karena merasa lapar


"Kak, keluarkan burung kontrak mu, kita naik burung kontrak kakak gimana?" Tanya Lenna pada Yuwen yang sedang membakar ikan bakar


"Baiklah, tapi jangan berantem ya" ucap Yuwen memperingati


"Oke!" Ucap Lenna dan Yuan kompak


Padahal aslinya mereka tidak ingin berbaikan dan ingin berantem terus karena sering merasa kesal satu sama lain


Di jalan seperti biasa mereka bertengkar membuat Yuwen mengeluarkan earphone yang diberikan Lenna sembari memutar musik


"Heh, enak saja, daripada aku jadi tukang manjat mendingan aku jadi tukang parkir" Elak Lenna tak terima


"Nah, cocok tuh profesi sama kepribadian elo" ucap Yuan memberikan jempol terbaiknya


"Gerah banget dah, apa gak ada AC atau kipas gitu?!" Keluh Lenna merasa panas


"Maaf ya neng, ini nih jaman kuno dimana tidak ada AC dan kipas otomatis" Ucap Yuan malas


"Kak butuh berapa lama lagi" Tanya Lenna menghiraukn Yuan dan beralih pada Yuwen yang hanya diam diri dari tadi


"Mungkin besok subuh kita akan sampai" ucap Yuwen memperkirakan dari awal


"Yah.... Aku gak bisa mandi dong" Kelu Lenna malas sambil tiduran menatap langit


"Ya, Betul sekali. Jadinya seharian ini kamu akan bau kecut" Ejek Yuan


"Kalau saja mulutmu punya BPKB. Pasti ku gadaikan sejak awal" Ucap malas Lenna


"Emangnya ada ya BPKB disini?" Tanya Yuan polos


"Ada, Nieh!" Ucap kesal Lenna memukul kepala Yuan dengan keras


"Auch, pelan pelan dong, sakit tau!" Ringis Yuan bertingkah seolah olah dia adalah anak kecil imut dan polos


"Idih, jijyk gua ngeliat muka lo" Ejek Lenna


"Kakak, jangan gitu dong sama aku, aku tuh gampang nangis" ucap Yuan dengan puppy eyes-nya


"Hiks... hiks.... bisa bisanya gua punya saingan beda kelamin" batin Lenna menangis


"Udah jangan bertengkar, sana tidur nanti akan ku bangunkan" tegur Yuwen kesal


Begitulah perdebatan mereka yang diakhiri oleh teguran dari kakak tercinta mereka


"Awas aja lo, lo gak akan bisa lepas dari gua" batin Lenna menatap tajam Yuan


"Emangnya hanya kamu doang yang bisa?! Gua juga bisa kok" Batin Yuan menatap tajam Lenna


"Oh ya Tuhan kumohon berikan aku kesabaran yang sangat besar" batin Yuwen


Mereka pun sampai di Akademi Qingchen dan disambut baik oleh para penjaga ataupun pelayan atau guru guru yang ada karena mereka tau siapa itu Lenna


Banyak anak anak murid yang menatap aneh mereka karena wajah mereka itu tidak mereka kenal bahkan meskipun dari tempat lain seharusnya kulit bewarna putih bersih berasal dari dunia dewa dewi atau meningkatkan kultivasi sampai ranah akhir tapi tak banyak juga orang yang sudah berada di ranah akhir


Yuwen dan Yuan tidak dikenali wajahnya karena sehabis mereka berlatih dan berkultivasi sebentar muka mereka sudah berubah makin tampan dan kulit makin memutih


Sementara Lenna sangat gampang dikenali dengan Keimutan nya walaupun beda sedikit dari yang dulu


Yah tapi ada juga seorang anak yang bukan merupakan keturunan dunia atas bisa memiliki warna kulit putih


Lenna hanya diam mengacuhkan semua orang sambil melihat kesekeliling lalu menemukan gurunya


"Guru!!"....


.....


Pembagian Alchemist:


- Tingkat rendah


- Tingkat tengah


- Tingkat tinggi


- Tingkah Alam


- Tingkat Surga


- Tingkat dewa


- Tingkat misteri


.....


Hai! Maaf telat up nya, Author punya banyak pekerjaan yang tidak bisa Author tinggalin


Jika misalnya hari ini Author tidak update maka besoknya akan update 2 Chapter


~Terimakasih atas pengertiannya, Author juga berterimakasih karena selalu mendukung Author~


(Info up: Setiap malam)


💞 Arigatōgozaimashita 💞