
Tak ada satupun anggota keluarga damar dan Inayah yang tahu tentang pertemuan nya dengan Kiara pekan lalu, kecuali laki-laki bernama dhuha. Pun Inayah tak mengungkit lagi atas percakapan singkat antara ia dan Kiara yang sempat menguras air matanya dan rasa sesalnya terhadap penantian.
Inayah berusaha keras untuk berada di jalur nyaman ini, tanpa beban, tanpa rasa sakit, rasa kecewa, rindu yang terpendam serta penantian yang tak berujung. Sudah cukup rasanya ia pendam sendiri.
Semuanya sudah berlalu, biarlah kisah itu ia simpan dalam lembaran memory.
****
"Insyaa Allah pekan depan saya mau pulang bah." Terdengar suara laki-laki yang ia kenal sedang berbincang ringan dengan abahnya.
Dhuha menepati janji untuk temu kangen dengan abah setelah beberapa hari ini abah disibukkan dengan urusan sekolah di Banda Aceh. Abah yang saat ini menyeruput tehnya membalas ucapan dhuha dengan menaikkan kedua alisnya.
"Ada apa Ha? Ibu mu sakit?
Dhuha tersenyum, meraih gelas didepannya.
" Bukan bah, Alhamdulillah mama sehat. Hanya saja mama kangen, tapi lebih tepatnya lagi dhuha yang kangen."
Dhuha tergelak canggung. Abah menimpali gurauan dhuha dengan menepuk ringan bahu kekar dhuha.
"Masih masalah jodoh?"
Inayah yang mencuri dengar percakapan antara kedua lelaki beda usia itu pun mengerutkan keningnya. Jodoh?
Dhuha tersenyum malu. "Saya ini sudah mau 28 tahun bah, tapi mungkin Allah masih menjauhkan jodoh saya. Mohon do'anya bah, agar hilal itu segera terlihat."
Inayah terkikik dari balik tembok yang membatasi antara ruang depan dengan ruang belakang tempat ia dan keluarganya bersantai.
Aamiin
"Mau abah bantu?"
Dhuha menaikkan alisnya
"Eh... Eh, tidak usah bah, nanti buat repot abah, saya tidak enak begitu."
"Kamu ini seperti sama siapa saja. Insyaa Allah perempuan-perempuan yang abah kenalkan, perempuan yang baik-baik, agamanya baik, dari keturunan yang baik, pendidikannya juga insyaa Allah baik. Mau abah kenalkan?"
Dhuha mengangguk.
"Jika tidak merepotkan bah."
***
Seminggu sejak kepulangan Dhuha ke kotanya, laki-laki baik itu belum terlihat muncul di desa rinon pulau breueh. Dhuha masih betah dengan aktivitasnya di kota. Jalan-jalan dengan keponakan, anak dari adiknya. Menemani mamanya, mulai dari belanja ke pasar tradisional sampai menemani mamanya praktek di klinik milik mamanya itu.
Dua hari lalu, dhuha diperkenalkan dengan seorang gadis. Masih muda, cantik, jilbabnya juga menutup dada, salah satu keinginan dhuha memang, memiliki seorang istri yang menutup auratnya dengan baik seperti mama dan kedua adiknya.
"Gimana Ha, Haura cantik kan? Sholeha lagi, dia itu guru ngaji loh Ha?"
Dhuha menimpali ucapan wanita baya yang masih kelihatan cantik ini dengan seulas senyuman.
"Eh, ditanya kok malah senyum-senyum. Ha...,adikmu itu udah mau punya anak 2 loh, masih kamu masih sendiri aja. Truck aja gandengan."
Dhuha tergelak.
"Ya Allah, Dhuha kan bukan truck. Iya kali gandengan. Gaul banget bahasa mama."
Dhuha tersenyum simpul. Sudah pasti akan panjang pembahasan kali ini, pikirnya. "Sudah ya ma, dhuha akan coba, insyaa Allah. Kalau jodoh, alhamdulillah, kalau belum jodohnya, mama jangan pesimis ya. Insyaa Allah jodoh Dhuha akan datang pada saat yang tepat, bukan saat yang cepat."
Wanita itu tersenyum riang.
Keesokan harinya, sebelum dhuha kembali ke pulau, dhuha dan wanita yang bernama Haura dipertemukan kembali di acara keluarga mereka.
Pertemuan yang menurut nya biasa saja, tidak ada getaran-getaran yang ia rasakan seperti saat bertemu dengan Inayah. Ah, bicara tentang Inayah, apa kabar dengan wanita itu? Sudah seminggu lebih ternyata tak melihat dia. Rasanya seperti... Rindu.
"Bang... Bang... Bang dhuha." Naura, adiknya menyenggol bahu dhuha yang terlihat senyum-senyum sendiri. Naura berbisik ditelinga dhuha.
"Abang kenapa senyum-senyum begitu, dari tadi diajak ngomong loh sama Haura. Gak fokus ih abang, lagi mikirin apa sih? Hayoo... Abang, ngaku." Naura terkikik geli melihat dhuha yang salah tingkah.
"Huusssh, kamu ribet deh."
Dhuha mendelikkan matanya.
****
"Huuhft... Sepertinya sampai di tahap perkenalan saja pa, dhuha merasa ragu. Maaf pa, benar Haura wanita baik, dan kelihatan sholeha. Namun perkara hati tidak bisa dipaksa.
Papanya hanya mengangguk. Menepuk bahunya ringan.
"Kamu lebih tau yang terbaik untuk hidupmu." Laki-laki paruh baya itu tersenyum.
Dhuha mengangguk.
"Terimakasih pa. "
****
"Maa syaa Allah Dhuha. Apa kabar nak? Seminggu lebih tidak jumpa di rinon, semakin gagah saja." Abah yang saat itu sedang berada di pelabuhan tanpa sengaja bertemu dhuha yang turun dari boat nelayan.
"Assalamu'alaykum abah, alhamdulillah dhuha sehat." Dhuha yang menenteng tas ransel dan bawaan oleh-oleh dari mamanya menyambut tangan abah, memeluk bahu laki-laki itu layaknya seperti orangtua sendiri.
Abah menepuk-nepuk ringan bahu dhuha.
"Sepertinya akan ada kabar bahagia melihat raut ceria mu, nak." Abah sengaja menyenggol bahu dhuha dan bergurau.
Dhuha menggelengkan kepalanya.
"Abah bisa aja."
"Yuk!"
Mereka melangkah bersama ke desa. Dhuha senang rindunya terobati setelah merasakan kembali suasana pulau, angin sepoi-sepoi, teriakan anak-anak yang berlarian, para ibu-ibu dengan aktivitas berkumpulnya. Dan... Inayah, wanita itu...
"Bang... " Inayah mengangguk.
Dhuha terpesona. Lagi, ia merasa kalah dengan syahwatnya. Wanita ini begitu anggun, walau wajahnya tak terlihat tapi matanya, teduh. Alisnya yang tebal, serta bulu matanya yang lentik dan panjang.
Dhuha pun ikut mengangguk.
****
"Ha.. Masih mau abah kenalkan dengan wanita pilihan abah?" Mereka saat ini berada di pasar ikan. Dimana para nelayan menjajahkan ikan-ikan tangkapannya.
Dhuha menarik sedikit sudut bibirnya.
"Siapa wanita yang ingin abah kenalkan?"
"Seperti yang abah bilang sebelumnya, insya Allah wanita ini wanita baik, taat pada Rabbnya, menutup auratnya sesuai perintah Rabbnya, tutur katanya juga sangat sopan, wanita sholeha, insyaa Allah.
Dhuha menatap abah dalam, ia menelusuri kejujuran abah atas ucapannya. Seakan memberi isyarat, abah pun mengerti.
"Wanita itu... Inayah, anak perempuan abah satu-satunya."
Kemudian abah menunduk, raut wajahnya mengelam.
Abah mengarahkan pandangannya ke dhuha.
"Inayah masih gadis suci, belum pernah tersentuh oleh mantan suaminya."
"Abah sangat menyayangi Inayah ha, cuma Inayah anak abah. Abah merasa kecewa pada diri abah atas gagalnya pernikahan dia dengan mantan suaminya. Abah terluka melihat dia terluka."
"Bah... "
"Tapi jika orangtuamu sudah punya pilihan, abah tidak memaksa ha."
Dhuha menggeleng.
"Orangtua dhuha membebaskan dhuha untuk pilihan calon istri bah, mereka tidak pernah memaksa kehendak mereka."
"Alhamdulillah. Kamu bersedia?"
Dhuha tersenyum, menarik nafasnya pelan kemudian mengeluarkan nya juga dengan pelan.
Hanya anggukan tanpa paksaan sebagai jawaban. Dhuha teramat malu dengan dirinya.