Inayah

Inayah
Masa lalu, Masa haru



Di kesempatan berikutnya, Inayah memberanikan diri untuk menghampiri perempuan cantik yang bernama kaira itu, sudah beberapa kali terlihat di daerah penginapan mereka.


Inayah keluar dengan menggunakan almameter nya, agar warga di sekitar mengenal nya sebagai mahasiswi KKN. Berjalan pelan, dari jarak yang tidak begitu jauh terlihat perempuan itu sedang duduk bersantai sendiri di kursi teras minimarket.


"Assalamu'alaikum...." Inayah mengulurkan tangannya. Perempuan di depan nya ini tercengang, tidak menandai Inayah sebab memang tidak terlihat wajah nya.


"Wa...wa'alaikumsalam, siapa ya?". Alisnya mengerut dalam mencoba mengingat pernah kah bertemu dengan perempuan bercadar di depan nya ini.


"Kamu Kiara? Maaf, istri bang damar?". Perempuan muda itu tersentak.


"I... Inayah?" Anggukan ringan Inayah menjadi jawaban tepat.


"Boleh saya duduk disini? Maaf mengganggu. Apa kabar?"


Kiara mengangguk. Menyambut uluran tangan Inayah setelah beberapa menit mengabaikannya.


"Kok bisa sampai disini?" Mereka saling pandang kemudian tertawa pelan sebab kalimat yang keluar sama bunyinya.


Kiara mengendikkan bahu, tersenyum tulus.


"Aku kerja, ada proyek pembangunan kantor dinas dan rumah dinas disana. Aku arsitek nya". Kiara menunjuk bangunan yang tidak jauh dari minimarket tempat mereka duduk.


"Kamu?"


Inayah tersenyum dalam balutan kain penutup yang dikenakan. "Sedang KKN".


#####


Hembusan nafas kiara terdengar sedikit kasar.


"Kami sudah bercerai nay?" Kiara menoleh ke samping dimana Inayah sedang duduk dan menikmati minuman kotak yang dibelinya di dalam minimarket tadi.


Kemudian Kiara mengalihkan pandangan nya menerang jauh.


"Kamu masih menjadi satu-satunya wanita yang diharapkan damar." Mereka saling pandang. Kerutan jelas nampak di kening Inayah.


"Maksudnya apa?"


"Damar terlalu terobsesi dengan mu. Bahkan selama hampir 3 tahun kami menikah, dia tidak pernah menganggap aku. Yang ada di tatapan nya hanya kamu, nay". Kiara menjelaskan dengan mata berkaca-kaca.


" Sakit nay. Ribuan hari aku menanti saat di mana hati nya sudah ikhlas menerima ku, saat di mana aku lah yang akan menjadi satu-satunya wanita dalam hati nya. Ternyata tak juga aku berhasil. Aku sudah berusaha bertahan, namun dia tetap semakin menjauh". Kiara menyeka pipinya. Menghempuskan nafas nya frustasi.


"Pernikahan kami tidak sehat. Bang damar meminta ku untuk berhenti. Kami sepakat menyudahinya. Abi dan umi kecewa, sudah pasti".


"Kami tidak ditakdirkan menjadi sepasang kekasih yang saling mencintai. Kami hanya ditakdirkan sebagai partner dalam membesarkan dan mendidik anak kami". Kiara tersenyum mengakhiri kalimatnya.


Inayah mengangguk.


#####


Satu triwulan terlewati, hari ini menjadi hari terakhir berada di kecamatan ini. Penyuluhan-penyuluhan sudah dilakukan, mereka berharap ke depan nya semakin baik, banyak warga yang begitu antusias atas kehadiran mereka. Pada kesempatan terakhir, salah satu entrepreneur diundang oleh pihak kampus, beliau juga merupakan dosen pengajar di kampus swasta kota pematang siantar, Sumatera Utara.


Kecakapan nya dalam berbicara dan menyajikan materi keilmuan mendidik dan dakwah terselip tiap kalimat nya, membuat Inayah kagum pada sosok laki-laki dewasa itu. Laki-laki pemilik lesung pipi, penampilan sederhana namun menawan.


Muhammad Ramdani. Laki-laki seusia Dhuha itu masih single. Baru saja mendapatkan gelar Doktor nya di salah satu Universitas di Jawa Barat. Pembawaan nya tenang dan kalem menjadi ciri khas tersendiri.


Sempat berkenalan, Inayah respect sebab laki-laki itu tidak ingin bersentuhan dengan yang bukan mahrom nya, begitu ia jawab dengan bercanda. "Nanti saja jabatan tangannya, setelah halal". Sontak semua tertawa mendengar candaan nya. Inayah pun tersipu malu dalam balutan kain penutup itu. Padahal sedari awal Inayah juga tidak sama sekali mengulurkan tangannya, hanya menangkupkan kedua tangannya di depan dada yang tertutup khimar syar'i.


"Boleh saya minta nomor kontak kamu? Maksudnya bukan semua nomor yang ada di kontak handphone kamu".


"Hummm... " Inayah menatap heran.


"Gini deh, nomor handphone kamu berapa?" Laki-laki yang meminta Inayah memanggil nya ramdan tertawa canggung. Inayah menyodorkan handphone nya.


"Terima kasih".


Inayah mengangguk.


"Semoga kita bertemu kembali". Di akhir kalimat ramdan bergumam. Inayah jelas mendengar nya. Memilih menghiraukan, Inayah kembali menghampiri teman-teman sejawat nya.


#####


Malam hari, menjadi malam haru bagi mereka. Para mahasiswa dan mahasiswi KKN, mereka sudah mendapat tempat tersendiri di hati para warga sekitar. Meninggalkan banyak ilmu dan kenangan.


Tak hentinya juga berucap Terima kasih sudah di Terima baik, di bantu dalam masalah kecil dan juga besar. Bus pengantar sudah tiba, pelukan hangat mereka Terima dari ibu-ibu, anak-anak remaja. Begitu pun mahasiswa nya, mendapat nasehat panjang, pelukan penguat dari bapak camat, pejabat daerah sekitar, bapak-bapak serta remaja.


Vivi menangis haru di pelukan Inayah. "Semoga suatu saat, kita bisa berkunjung lagi kesini ya nay."


Viviani samudera, gadis asli Jawa Tengah. Ayah nya seorang kontraktor di ibukota, sedangkan ibu nya seorang pengacara. Menetap di Banda Aceh setelah menerima pertukaran pelajar saat menyelesaikan sekolah menengah atas nya. Diterima baik oleh warga Aceh, gadis periang dan penyayang.


Usia nya jauh lebih muda tiga tahun dari Inayah, tapi ia tidak ingin di panggil adik sewaktu pertama mereka bertemu sebelum KKN di mulai. Begitu pun Inayah tidak ingin di panggil kakak atau mbak. Menurutnya sama saja, yang penting saling menghargai dan menghormati.


#####


Bersambung,,,,