
Laki-laki muda berusia 27 tahun, ia berasal dari kota Medan, Sumatera Utara. Ayahnya seorang Komisaris besar kepolisian kota Medan, sedangkan ibunya seorang dokter anak, ibunya juga memiliki klinik sendiri.
Ia merupakan anak bungsu dari 3 saudara, kedua adiknya berjenis kelamin perempuan. Adiknya yang pertama bernama Naura Khaliza, sudah menikah dan sudah dikaruniai seorang anak laki-laki berusia 2 tahunan, sedangkan adiknya yang kedua bernama Aulia Fazanah yang saat ini mengeyam pendidikan pascasarjana ekonomi di salah satu Universitas Negeri banda Aceh.
Dhuha, terlahir dari keluarga yang memang kelebihan harta, ayah dan ibunya tentunya dari kalangan orang-orang berpendidikan. Ayahnya sendiri, menyandang Marga Hasibuan dibelakang namanya, sedangkan ibunya merupakan perempuan keturunan Aceh Tenggara.
Mereka termasuk keluarga yang taat pada agamanya. Santun kepribadiannya menjadi nilai plus penunjang penampilannya. Meski begitu dhuha bukan termasuk pria-pria yang suka tebar pesona. Ia begitu patuh pada sang pencipta untuk menjaga pandangannya dari para wanita yang bukan mahramnya.
Dhuha sendiri saat ini sedang melaksanakan pengabdiannya yang kedua kalinya setelah sebelumnya ia berada di kepulauan Nias. Ia memang menyukai dunia nya saat ini, sebagai tenaga pendidik.
Ia yang memang terlahir kaya namun tak menjadikannya angkuh dan sombong atas penitipan harta dari sang Pencipta. Padahal jika ia mau, ia bisa saja menjadi tenaga pengajar di salah satu Universitas ternama dan terkenal di Sumatera Utara dengan gelar magister nya alih-alih menjadi tenaga pengajar yang mengabdi di masyarakat pulau terpencil ini. Di pulau ini, kisah cinta nya bermula.
Hari ini, adalah hari pertamanya di pulau breueh, pulau yang menurutnya memiliki keunikan sendiri, surga terpendam. Awal menginjakkan kaki di pasir putih desa rinon, pulau breueh, ada getaran halus yang diam-diam mendominasi perasaannya, entah mungkin karna baru pertama kali atau mungkin sebab ia yang begitu gugup dengan orang-orang baru di pulau ini. Pemandangan yang menyejukkan mata serta mendamaikan jiwa, suasana yang begitu akrab sewaktu ia mengenalkan dirinya pada warga sekitar.
Sepanjang pengamatannya, warga di pulau ini cukup ramah dan taat. Ada musholla kecil yang biasanya digunakan untuk ibadah dan anak-anak mengaji selepas fardhu ashar.
Seminggu setelah pengenalan dan beramah-tamah dengan warga sekitar, ia mulai melakoni perannya sebagai tenaga pendidik di salah satu madrasah ibtidaiyah, hanya sekolah ini yang tampak terawat dan terjaga kelestariannya. Walau hanya sebuah madrasah kecil, namun murid-muridnya cukup banyak mengenal ilmu sebab pengajar yang didatangkan dari kalangan-kalangan yang mumpuni. Termasuk dhuha.
Disinilah ia mengenal Inayah, wanita dengan segala kesederhanaannya, yang bisa mendesirkan hatinya serta mengalihkan pikirannya. Wanita muda yang biasa disapa dengan nama Naya itu, adalah salah satu pengajar juga namun bukan pengajar tetap hanya sebagai bantu-bantu jika pengajar yang lain izin tidak datang.
Bulan-bulan berlalu, setelah ia mengetahui status Inayah, ia pun mulai menjaga jarak. Walau keseringan diam-diam ia melihat inayah dikejauhan. Ia tahu ketika senja tiba, Inayah akan ke bibir pantai pelabuhan rinon, entah apa yang ia tunggu, mungkin suaminya atau memang hanya sekedar melepas kepenatan.
Ia ingin menghampiri Naya kala itu, namun ia urungkan sebab khawatir akan menjadi salah paham ketika ada warga yang melihat. Beberapa kali ia juga mencuri pandang manik teduh milik Naya menyendu, seolah berada pada titik lemahnya. Berkali-kali juga ia lihat manik itu basah oleh airmata. Ada apa dengan Inayah?
Suatu ketika, sore hari di pelabuhan. Dhuha membantu para nelayan memindahkan ikan-ikan hasil tangkapan dari laut. Ia memisahkan jenis-jenis ikan yang didapat mulai dari yang kecil hingga yang besar. Ia juga senang diikutsertakan dalam hal-hal kecil seperti ini. Hanya hal kecil namun membuatnya begitu terharu bahagia. Merasa tidak terabaikan, ini yang ia suka dari warga sekitar pulau adalah kebersamaan.
Inayah yang sore itu juga berada di pelabuhan. Lagi, ia mendapatkan manik itu menyendu, setelah beberapa menit berbicara pada salah satu nelayan. Dhuha mencuri dengar tentang suami nya yang sampai saat ini belum berkirim kabar. Sedetik kemudian, mereka bertemu pandang.
Inayah dengan manik kecoklatannya dan dhuha dengan manik hitamnya. Tanpa isyarat pandangan mereka terpaku, membisu. Dhuha yang langsung sadar, mengalihkan pandangannya. Entah kenapa, ia merasa manik milik Naya meminta menariknya dari kepedihan, dari sakitnya kekecewaan, dan dari pedihnya menunggu.
Deg
Ada apa dengan hatiku? Bisik dhuha lirih dalam hati.
Amankan hatimu dhuha, amankan!. Ia seorang wanita bergelar istri. Tak pasti kau mengagumi wanita yang jelas-jelas memiliki suami. Dhuha. Astaghfirullah....
"Abang kenapa, ada yang bisa Naya bantu?" Wanita bernama Naya itu menggerakkan tangannya kekiri dan kekanan didepan wajah dhuha.
Sesaat, Inayah berpikir bahwa laki-laki didepannya ini terdiam karna ingin meminta bantuan atau berbicara sesuatu padanya.
"Nay... Naya, eh? Ti-tidak a-ada, ti-tidak apa, ti-tidak usah, eh? Bukan... Maksudnya tidak ada apa-apa." Dhuha salah tingkah, ia menjawab dengan terbata-bata berusaha menetralisir perasaannya.
Inayah tersenyum dibalik cadarnya. Ia mohon pamit pada nelayan-nelayan yang masih disibukkan dengan pekerjaannya memindah-mindahkan ikan-ikan, begitupun juga dengan dhuha yang masih kikuk berhadapan dengan Inayah.
"Salam pada abah dan ine". Ucap dhuha lancar tanpa memandang Inayah. Inayah tidak menjawab hanya anggukan yang ia berikan sebagai akhir dari pembicaraan mereka sebelum Inayah balik melangkah pulang.
Inayah Qolby
Deg
Lagi, nama itu tiba-tiba saja terucap dalam hati tanpa permisi. Nama yang jika berkali-kali kuucap, berkali-kali pula hatiku bergetar. Benarkah? Apa perasaanku salah? Sudah tentu, dhuha.
Selepas kepergian Inayah, salah satu nelayan yang masih muda, mungkin juga seumuran Inayah mengajaknya berbicara. "Bang.. Kasihan ya Inayah itu, ditinggal pergi tugas berbulan-bulan oleh suaminya. Gak ada kabar pulak. Kok tega ya? Apa jangan-jangan si damar, suami Inayah itu sudah menikah lagi?" " Huss... Gak baik berprasangka buruk gitu." Sambut laki-laki muda yang lainnya. Dhuha hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
Damar. Sebutnya dalam hati. Suami Inayah.
Begitu bodoh kau kawan. Menyia-nyiakan wanita bak peri seperti Inayah. Sungguh, jika aku jadi kau, maka akan kugenggam erat tak akan pernah kulepas kecuali jika sang penciptanya yang meminta.
Dhuha berbicara dalam hati, seolah ia benar berbicara berhadapan dengan damar, suami Inayah. Hatinya sakit, ketika membayangkan betapa malang nasib Inayah. Kenapa ia baru datang sekarang? Kalaulah ia yang lebih dulu. Tidak, dhuha menggelengkan kepalanya.
Astagfirullah. Dhuha sadar, kau siapa? Laki-laki asing baginya. Astagfirullah. Dhuha, kau ini mau jadi pebinor?
Dhuha tampak mengusap kasar wajahnya. Ia menggumamkan kata-kata istighfar berkali-kali.
visualnya #Dhuha Rasya