
Malam itu, inayah, mamah Ratih, dan kedua adik tirinya berangkat menggunakan mobil tetangga yang di supiri oleh pak RT. Mamah Ratih masih shock, tak hentinya menangis, membuat inayah pun bingung harus bagaimana. Kedua adiknya masih belum paham dengan apa yang terjadi saat ini.
"Mah...Sudah ya, jangan menangis terus. Do'akan abah baik-baik saja dimanapun beliau berada." Inayah mengusapi pipi mamah Ratih yang basah oleh airmata.
Tak ada jawaban dari mamah Ratih. Ia pun masih tersedu, ujung gamisnya dibuat untuk mengelap netra basahnya.
Sesampainya dirumah sakit, mereka bergegas ke pusat informasi. Namun tidak menemukan hal apapun ketika sudah ditunjukan beberapa mayat tanpa identitas.
Ya Allah, semoga abah baik-baik saja. Batin ia inayah penuh harap.
####
Abah sampai di terminal bus yang sudah disewa untuk perjalanan tour mereka. Namun fakta nya adalah bus tersebut sudah berangkat dengan penumpang lain, sebab terjadi kesalah pahaman informasi yang didapat oleh agen bus tersebut. Sempat ditawarkan untuk beralih ke bus yang ada, setelah dilihat oleh abah, seperti dalam pikirannya bus yang ditawarkan sedikit tidak layak jalan. Kemudian abah membatalkan penyewaan bus tersebut.
Sudah terlanjur kecewa, akhirnya mereka memilih menyewa travel yang lumayan besar untuk menampung abah dan anak-anak lainnya. Sebelum berangkat abah merogoh kantong celana kainnya, baru tersadar bahwa dompet nya tidak berada ditempat. Abah bergegas, meminta pada supir travel untuk tetap melanjutkan perjalanan tanpa abah, sebab ia akan menyusul nanti.
Ia ingat bahwa di terminal tadi sempat merogoh kantong celananya, buru-buru ia kembali ke terminal bus. Sesampainya, bus yang ia tampak tidak layak jalan itu sudah berangkat menuju sumatera Utara, ada beberapa tour menyewa nya, begitu informasi yang ia dapat. Bersyukurnya, uang digenggaman masih cukup untuk melanjutkan perjalanan menyusul anak-anak dan guru pendamping lain.
Tiba di kota Medan, abah sedikit bingung sebab benda persegi panjang nya kehabisan baterei. Menunggu lama di Mesjid Raya Medan, namun belum terlihat para rombongan tour anak-anak madrasah. Abah memutuskan untuk berkunjung kerumah dhuha. Masih mengingat jelas dhuha pernah memberikan alamat rumah nya kepada abah, berharap suatu saat abah bisa menemuinya disana.
####
"Maa syaa Allah. Terimakasih abah sudah mau singgah kesini. Abah apa kabar? Sudah lama ya bah, tapi abah terlihat semakin segar."
"Ehm." Abah berdehem.
"Kamu juga semakin gagah dan segar. Alhamdulillah abah baik, sekarang abah sudah menikah lagi dan insyaa Allah sebentar lagi calon anak kami lahir. Datang lah ke banda ha, banyak yang berubah disana. Abah sudah tidak tinggal di rinon lagi. Sekarang menetap di kota Banda, baiturahman."
"Insyaa Allah bah."
Dari kejauhan, tampak anak perempuan kecil mungkin usianya sekitar hampir 2 tahunan menghampiri dhuha. Dengan baby sitter menggendong bayi Laki-laki kira-kira usia 7 bulan.
"Yah... Yah... Atak au yayah." Celoteh gadis kecil yang belum pasih dalam pengucapan kata itu sambil memegang botol susu.
"Sini anak ayah. Khalisa kenapa?" Dhuha mendudukkan anak perempuan kecil itu ke pangkuannya.
Abah mengerutkan dahi ketika mendengar dhuha menyebut dirinya sebagai ayah dari anak perempuan kecil itu.
####
Bersambung,,,,