
Sampai terdengar seruan mengaji dari berbagai mesjid yang saling bersahutan. Inayah masih menemani wanita itu sampai orang yang menjemput nya datang. Sebelum nya Inayah menawari handphone nya untuk digunakan menghubungi anak atau suami wanita itu.
Wanita itu meminta Inayah untuk kembali saja, karena waktu maghrib sudah hampir tiba. Inayah tidak masalah, ia pun menawarkan diri untuk menemani nya sampai jemputan nya tiba.
Hingga beberapa menit berlalu, mobil fortuner putih menghampiri mereka. Seorang laki-laki keluar menggendong balita laki-laki dan menuntun anak perempuan.
"Nenek...,"
Inayah mendongak.
Deg
Bang Dhuha.
Wanita itu dipeluk. Punggung nya gemetar.
Inayah menatap haru pemandangan itu. Ia diam tak bersuara. Sampai wanita itu berpamitan, Inayah hanya menjawab nya dengan anggukan.
Dhuha tidak mengenal nya. Tentu saja.
"Astaghfirullah Ha, mama lupa menanyakan nama gadis tadi."
"Mama juga lupa mengucapkan terima kasih. Nomor nya tersimpan kan?"
Dhuha tersenyum.
"Semoga lain kali kita dipertemukan kembali."
**
Inayah memandang kendaraan itu sampai tak terlihat lagi, ia pun berjalan menuju rumah nya yang memang tidak jauh dari situ.
Sesampai nya, Inayah segera membersihkan diri. Bau keringat dan debu yang menempel di baju nya membuat nya merasa pusing, ditambah kesibukan nya hari ini.
Helaan nafas teratur dilepaskan.
Teringat bahwa tadi ia bertemu dengan pemuda dari masa lalu.
Anak balita itu mirip dengan nya. Apakah itu anak nya? Dia bahkan sudah menikah?
Inayah meringis.
"Nay...kamu sudah tidur?" Abah mengetuk pintu kamar nya.
Inayah bergegas memakai kerudung panjang nya, membuka pintu kamar pelan.
"Belum bah."
"Abah mau bicara sebentar, yuk ke depan!"
Mamah Ratih menghidangkan teh untuk mereka ber tiga. Raihan dan furqon sudah lebih dulu masuk ke kamar, sedangkan si kecil syakilla berada digendongan mamah Ratih.
"Acara khitbah nya dimajukan." Abah memulai sebelum menyeruput teh nya.
"Akhir pekan ini meraka akan datang bersama keluarga besar nya."
"Insyaa Allah Inayah siap bah."
"Minggu depan ramdan dapat tugas ke luar kota, jadi dia meminta abah untuk memajukan acara nya."
Inayah mengangguk ringan.
"Tidak apa-apa bah."
"Skripsi mu bagaimana?" Abah menerima cemilan dari tangan mamah Ratih, mengunyah nya kemudian memberikan dua jempol nya, mamah Ratih terkekeh.
"Sebentar lagi bah. Mohon do'a nya. Abah menempelkan telapak tangan nya di ubun-ubun inayah.
"Robbanaa ‘aatinaa miladunka rohmatan, wahayyi’ lanaa min amrinaa rosyadaa.”
Artinya: “Ya Allah, berikanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu, dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami ini.” (QS Al-Kahfi: 10).
Aamiin.
Malam berlanjut semakin hening, tiga orang dewasa mengangkat diri nya menuju ke kamar masing-masing. Inayah menuju kamar nya sedangkan abah dan mamah Ratih menuju peristirahatan mereka di satu kamar yang sama.
Ting
Satu pesan di Terima nya.
Saya anak dari ibu yang kamu tolong tadi. Mama saya berucap Terima kasih dan meminta maaf juga sudah merepotkan. Semoga Allah membalas segala kebaikan mu.
Dhuha
Netra nya berembun, dhuha sama sekali tidak mengenal. Lalu ia kecewa? Ia pikir untuk apa kecewa? Toh memang mereka tidak sedekat itu.
Inayah membalas pesan itu.
Baik. Sama-sama. Sampaikan salam saya pada ibu anda. Berhati-hatilah jika berjalan sendiri.
Wassalam
Inayah menghembuskan nafas nya. Melihat kembali pesan terkirim yang ditujukan untuk Dhuha. Dan membuka beberapa pesan dari sahabat nya, Vivi. Juga grup kelas nya.
Nay, besok aku boleh bermain ke rumah mu?
Viviani Samudera
Inayah tersenyum. Sejak kapan Vivi semanis itu?
Hmm
Boleh barangkali
Inayah Qolby
Vivi membalas dengan emot tertawa.
Bersambung,,,,