Inayah

Inayah
Tahapan Pernikahan



Abah memulai penjelasan dengan menatap ramdan dan keluarga satu-persatu.


"Dalam islam ada tahapan sebelum pernikahan. Tahapan pertama adalah ta'aruf yaitu perkenalan. Berasal dari kata ta'arrofa. Artinya menjadi tahu, diperjelas dalam Al-quran surat Al-Hujurat ayat 13.


"Hai manusia! Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku lit a’ārafū (supaya kamu saling kenal) sesungguhnya Allah maha mengetahui lagi maha mengenal."


Tahapan kedua, yaitu nadzor. Artinya melihat calon wanita yang hendak dinikahi. Diperbolehkan dalam islam, walau asal awalnya melihat wajah wanita asing yang bukan mahram adalah haram, namun untuk hajat pernikahan tidak dipermasalah kan. Apalagi disini inayah memakai niqob atau cadar sebagai penutup wajah nya.


Mereka semua yang ada dalam ruangan itu mengangguk-anggukkan kepala nya.


Tahapan selanjutnya, yaitu khitbah. Meminang. Jika kedua belah pihak sudah memutuskan dengan baik, menyetujui tanpa paksaan, tanpa dibuat-buat. Artinya mereka boleh menuju akad nikah yang mengikrarkan janji suci kedua nya.


"Begini bah." Ramdan meremas lembut jari-jari tangan mama nya.


Mama nya melanjutkan untuk berbicara.


"Mengingat rumah kami yang butuh waktu belasan jam untuk sampai ke sini. Bagaimana kalau kita mempersingkat saja proses nya."


Helaan nafas lembut teratur terdengar sampai telinga Inayah.


"Benar, yang kita lakukan sekarang ini sudah termasuk ta'aruf, saling memperkenalkan keluarga calon mempelai. Selanjutnya bagaimana dengan Inayah saja, apa kah setuju untuk nadzor sekarang?" Abah mengalihkan pandangan nya ke sudut, dimana Inayah terduduk dengan gugup.


Alhamdulillah. Ucap semua orang dalam ruangan.


Mereka menjeda nya sebab panggilan fardhu zhuhur menggema pada waktu tengah hari itu. Abah mengajak Ramdan, adik nya, dan juga paman nya untuk melaksanakan sholat di Musholla dekat rumah mereka.


Sedang kan Mama Ramdan dan bibi nya berbincang-bincang dengan mamah ratih juga si kecil syakilla. Syakilla memang membawa kebahagian bagi mereka, gampang bergaul pada tidak mengenal siapa yang menggendong nya. Mamah Ramdan begitu lembut memperlakukan syakilla, menggendong nya dengan sayang, mengelus-elus lembut punggung, menciumi puncak kepala nya seolah-olah si kecil itu adalah cucu nya. Ia memang begitu mendamba seorang cucu, mengingat usia nya Ramdan sudah kepala tiga belum juga menikah dan memiliki anak.


Jujur, Ia salut pada keluarga ini. Padahal baru beberapa jam namun mereka bisa berbaur tanoa memandang siapa dan bagaimana si tamu.


Mama nya Ramdan begitu bersyukur bisa berkenalan dengan mereka.


"Tante mau sholat duluan ?"


Inayah menghampiri mama nya ramdan yang tengah menimang-nimang syakilla hingga si kecil itu hampir menutup mata nya, terkantuk-kantuk. Kekehan ringan mengalir begitu saja dari mulut mama ramdan. Melihat begitu menggemaskan nya bayi kecil itu.


"Sebentar." Inayah mengambil alih syakilla untuk di tidurkan di atas tempat tidur nya. Kemudian menyiapkan peralatan sholat untuk mereka.


Ramdan serta keluarga nya dipersilahkan untuk menikmati makan siang mereka. Sajian sederhana namun menggugah selera. Kali ini sajian gulai aceh dan ayam tangkap. Yang memang sudah familiar di berbagai kota. Momen seperti ini membuat hati abah menghangat. Dua keluarga saling bercanda, tertawa, membuat hati nya membuncah bahagia, rasa haru juga menyelinap. Ia berharap agar semua nya berjalan dengan baik. Inayah menemukan kebahagian, membina rumah tangga yang sakinah, mawaddah, warohmah.


Bersambung,,,,