Inayah

Inayah
Khitbah



Allah SWT berfirman: “Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang,” (QS Ar-Rum: 21).


Akhir pekan datang. Ramdan dan keluarga nya sudah tiba sejak pagi tadi. Membawa kan beberapa barang-barang sebagai hadiah dan juga sebagai oleh-oleh.


Ketegangan terlihat di wajah nya. Keringat bercucuran padahal udara pagi banda Aceh sedang sejuk-sejuk nya.


Ramdan berbicara setelah dipersilahkan.


"Bismillahirrahmanirrahim...,sebelum nya saya mohon maaf jika kedatangan kami menganggu aktivitas akhir pekan dalam keluarga ini."


Abah tersenyum.


Mengisyaratkan untuk Ramdan melanjutkan pembicaraan.


"Kedatangan saya dan keluarga dengan niat baik dan tulus. Bah, saya meminta anak perempuan abah yang bernama Inayah Qolby untuk saya jadikan istri. Untuk saya bimbing. Bersama kami lewati jalanan terjal bahtera rumah tangga. Hingga mencapai sakinah, mawaddah, warahmah."


Mamah Ratih terharu, mata nya berkaca-kaca.


Abah menghela nafas.


"Wa bismillah, nak Ramdan. Para malaikat Allah sedang menyaksikan niat baik ini. Dua keluarga dipertemukan untuk disatukan dalam jalinan yang sakral, yaitu pernikahan. Abah menyerahkan segala keputusan nya kepada inayah."


Kemudian mereka menatap Inayah yang masih tertunduk.


Menarik nafas pelan. Kemudian menghembuskan nya pelan.


"Bismillahirrahmanirrahim. Saya Terima pinangan nya bang Ramdan untuk menjadikan saya istri nya."


Suara Inayah gemetar.


Serentak mereka berucap. Alhamdulillah.


**


Rasa haru dan bahagia dirasakan mereka yang ada dalam ruangan itu. Mamah Ramdan memeluk calon menantu dengan hangat. Mencium kening nya, disambut Inayah dengan kecupan di punggung tangan nya.


Vivi, sahabat Inayah juga turut hadir pada acara tersebut. Berbisik kepada Inayah.


"Nay, itu entrepreneur di kabanjahe itu kan? Kok bisa?" Inayah merona.


"Jodoh." Membisikkan kata itu ke telinga Vivi.


Semoga saja. Lalu dalam diam mereka mengamini.


**


Hidangan tersaji di depan mata mereka.


Mamah Ratih mempersilahkan. Ramdan terlihat malu-malu sesekali mencuri pandang pada Inayah. Inayah pun semakin menunduk.


Setelah menyantap sajian bersama, mereka berkumpul kembali. Dengan Ramdan yang memohon pamit sebab besok tugas sudah menanti nya. Perasaan lega, sebentar lagi ia menikahi Inayah, gadis pujaan nya.


Namun semua orang terdiam ketika abah berterus terang tentang keadaan Inayah sebelum nya. Bahwa Inayah pernah menikah di usia hampir 19 tahun dan bercerai di usia 20 tahun, juga menjelaskan bahwa Inayah masih gadis belum pernah disentuh oleh mantan suami nya yang merupakan anggota prajurit TNI.


Ramdan tidak mempermasalahkan begitu pun mama dan keluarga nya. Asal mereka sama-sama siap, singel dan mau. Tidak perlu takut oleh halangan apa pun.


**


Melambaikan tangan nya pada calon mertua nya, meminta Ramdan untuk hati-hati dalam perjalanan agar selamat sampai tujuan. Berdo'a juga supaya perjalanan mereka dilindungi dan diberkahi oleh Allah Subhanallah WA Ta'ala.


Selepas nya, Vivi pun berpamitan untuk pulang ke asrama. Berterima kasih sudah ikut dihadirkan dalam acara keluarga mereka. Inayah memeluk Vivi, sahabat nya itu terlihat murung dan wajah nya pucat.


"Kamu sehat Vi?"


"Kepulangan ku akan dipercepat nay. Papa semakin parah." Vivi menumpahkan air mata nya.


Inayah berseru.


Allahu Akbar.


"Tidak ada satu kejadian di dunia ini tanpa seijin Allah Vi, bahkan daun yang jatuh sekalipun."


Vivi mengangguk.


"Perbanyak sabar mu. Langitkan do'a mu. Insyaa Allah semua nya akan baik-baik saja atas ijin nya."


Mereka kembali berpelukan. Inayah menepuk ringan pundak Vivi, menguatkan sahabat nya itu.


Bersambung,,,,