
Semua nya terdiam. Kala dimana Inayah memulai membuka kain penutup wajah nya itu. Ramdan, menarik nafas. Jari-jari nya ia tautkan, gemetar menanti. Haikal dan paman nya menunggu di luar bersama raihan dan furqon sebab bukan bagian dari nadzor nya.
Sesaat, Ramdan membeku. Menelan ludah, menyaksikan betapa indah bidadari dunia di depan nya ini. Lesung pipi kecil di bagian bawah bibir, bibir pink alami, serta pipi rona tanpa polesan. Segera ia pun mengalihkan pandangan, menunduk. Beristighfar agar tidak terjerat pesona iblis yang sedang mengusik nya untuk terus memandang Inayah.
"Bagaimana, cukup." Abah menginterupsi Ramdan yang masih menunduk, senyum samar ia dapati.
Untuk proses selanjutnya, ia dan inayah di minta untuk tidak saling berbicara tanpa perantara. Khawatir akan timbul fitnah. Ramdan menyetujui, begitu pun mama serta bibi nya. Untuk kelangsungan khitbah dan akad, Ramdan bisa membicarakan langsung bersama mereka atau bertanya dengan abah melalu sambungan seluler.
Setelah semua nya selesai, mereka pamit undur diri. Berterima kasih atas jamuan yang enak dan sambutan baik dari pihak keluarga inayah. Mama Ramdan, memeluk hangat Inayah. Calon menantu pertama dalam keluarga. Sungguh, ia juga tidak menyangka akan dipertemukan oleh sosok Inayah, begitu anggun dan sopan.
"Kami pamit bah, tante, nay, dan adik-adik. Sampai jumpa di pertemuan berikutnya."
Insyaa Allah. Jawab mereka serentak.
####
Perjalanan pulang menuju sumatera Utara terasa hangat dan semakin panjang. Perasaan berdebar itu kian nyata, menghela nafas berkali, ia dapati wajah nya merona.
"Abang masih membayangkan wajah Inayah ya?" Mama nya mengelus pundak gagah itu.
Ramdan tersenyum, terlihat jelas lesung pipi di bagian kanan-kiri nya.
"Maa syaa Allah ya, cantik sekali. Kayak bidadari." Bibi nya menimpali.
Haikal dan paman nya yang tidak mengetahui hanya terdiam, memilih istirahat menikmati perjalanan.
Semakin merona saja pipi nya, wajah nya memerah malu. Gemetar ia memegang kemudi, tetap awas agar selamat.
"Keluarga nya juga sangat baik ya, kelihatan sekali mereka taat agama. Menjamu dan menerima tamu dengan baik." Mama nya mengangguk, membenar kan perkataan adik ipar nya itu.
"Semoga berjodoh ndan." Mama nya mengamini.
####
"Kamu minta apa untuk mas kawin nay?" Setelah kepulangan Ramdan dan keluarga nya. Abah dan Inayah berbincang ringan di teras rumah. Menikmati aroma basah yang ditinggalkan bulir hujan senja tadi.
"Pernikahan yang paling besar keberkahannya ialah yang paling mudah maharnya.” (HR. Ahmad)
"Inayah ingin pernikahan yang tidak mewah, tidak berlebihan agar momen sakral nya tepat sasaran dan juga dilimpahi keberkahan."
Helaan nafas lembut mengudara.
"Abah setuju, apapun asal kan itu demi kebaikan kalian."
"Persiapkan diri mu untuk proses khitbah nanti." Abah menepuk bahu Inayah, bangkit dari duduk nya berjalan memasuki rumah.
Termenung menyaksikan ribuan bintang kerlap-kerlip di angkasa. Ia berharap ini yang terakhir, tidak ada kegagalan lagi. Pinta nya tulus pada sang Rabbi.
Udara semakin dingin, kala mendekati pukul 21.00 wib, ia pun memilih kembali ke kamar nya. Mengistirahatkan badan nya yang lelah seharian ini. Besok, tugas skripsi nya masih menanti.
Bunyi derit pintu mengalihkan inayah. Mamah Ratih meminta izin untuk masuk ke kamar nya.
"Kamu belum tidur, nay?"
Sapaan hangat menjelang tengah malam, membuat senyum lebar terukir di bibir nya.
"Lagi beres-beres mah, besok bimbingan pagi."
Mamah Ratih duduk di ujung ranjang. Mata nya berotasi mengelilingi kamar Inayah.
"Kenapa mah?"
"Mama hanya ingin membingkai ruangan ini dalam ingatan mama, agar setelah kamu menikah. Mamah bisa merindui mu lewat ruangan ini."
Inayah merasa terharu.
"Mamah...,"
Bersambung,,,,