Inayah

Inayah
Inayah Qolby



Wanita cantik dengan pakaian tertutup, yang tak menampakkan lekuk-lekuk pada tubuhnya. Matanya bulat, dengan manik


Kecoklatan, bulu mata yang lentik, Hidung kecil yang mancung khas seperti india-arab.


Wanita berusia 20 tahun ini, sudah menikah dengan laki-laki anak dari kepala desa, masyarakat disini sering memanggilnya Abi.


Abi, mertuanya bukan hanya seorang kepala desa, ia juga berperan sebagai Teungku guru atau guru agama.


Sejak kecil Inayah dan damar sudah mengenal, mereka juga merupakan teman sepermainan, damar yang usianya lebih tua 4 tahun darinya, sudah menganggap Inayah sebagai adiknya. Siapa sangka pada akhirnya, damar meminangnya lewat abah, meminta Inayah menjadi istrinya.


Namun, karna saat itu Damar sedang cuti beberapa hari, pernikahan mereka hanya dilakukan secara mendadak dan sederhana.


Damar bertugas sebagai prajurit tentara angkatan Darat kodam, banda aceh.


Damar kembali ke banda Aceh setelah hari kedua pernikahan mereka. Damar tidak mengajak Inayah ikut dengannya, sebab ia belum mengajukan pernikahan ke pusat. Damar meminta Inayah untuk bersabar menunggunya kembali.


"Naya..., maaf kan abang, abang harus berangkat besok untuk melanjutkan tugas di Banda Aceh, tunggulah abang kembali!" Tutur Damar saat mereka berada di kamar Inayah.


Inayah hanya mengangguk, tampak setetes bulir airmata mengalir di pipinya.


"Berapa lama bang?, apa Naya tak boleh ikut kesana." Suara Inayah memelan.


Keheningan pun terjadi.


Lama Damar terdiam,


"Tidak apa abang, jika memang ini yang terbaik. Pergilah!" Naya memecah keheningan dengan mengikhlaskan Damar pergi.


****


Beberapa hari setelah Damar berangkat ke banda Aceh,


Naya mendatangi pelabuhan rinon, bertanya pada salah satu nelayan, apakah ada surat untuknya? Atau adakah pesan dari damar?


Dari beberapa nelayan yang ditanya olehnya, tak ada satu pun yang menjawab 'ya'. Naya mendesah kecewa. Bulir airmata tampak membasahi cadar yang ia kenakan.


Naya kembali kerumah dengan membawa kecewa.


Ine-nya yang saat itu ia lihat sedang sibuk memetik sayuran untuk dijadikan sajian makan siang bersama.


"Ine..., Naya bantu ya."


Inenya hanya mengangguk.


"Bagaimana perkembangannya, apa sudah ada kabar dari Damar? Ine-nya bertanya lirih, memandang wajah Inayah yang terlihat sedih.


Naya menggeleng.


"Sudah berkunjung kerumah abi dan ummi mu?" Tanya ine lagi masih penasaran.


Naya mengangguk.


Huuuhhhh...


Inenya mendesah pelan.


"Sudahlah, kau istirahat Naya, sepertinya wajahmu tampak lelah." Inenya berbicara sambil menggandeng lengan Naya.


****


Makan siang kali ini berlangsung hening. Abahnya yang sudah pulang dari mengajar meminta Naya untuk ikut dalam membantu para mahasiswa-mahasiswi yang sedang praktek lapangan.


Pulau ini selain dijadikan destinasi juga sering mendapat kunjungan dari kampus-kampus negeri ataupun swasta, baik dari banda Aceh sendiri, kota meulaboh, Aceh Tengah, Aceh Tenggara bahkan kota Medan, Sumatera Utara.


Sore harinya,,


Naya dan abah mengunjungi balai tempat mahasiswa/mahasiswi yang akan melaksanakan praktek lapangan berkumpul. Naya dan abah saling berkenalan. Sedikit bercerita tentang pulau ini, masyarakat nya dan mata pencahariannya.


Diantara para mahasiswa ini, ada salah satu tenaga pendidik yang baru datang dari kota Medan, Sumatera Utara. Ia mengajukan diri untuk mengabdi di pulau terpencil ini atas rekrutan dari pemerintah.


Dhuha...,laki-laki itu sempat memperkenalkan dirinya pada Naya.


Laki-laki dengan wajah teduh bercahaya, alis tebal, hidung mancung, tuturnya yang sopan.


Sungguh Naya sempat terpesona.


Namun ia tersadar, ia bukan lagi wanita singel.


Astaghfirullah...


Berkali-kali Naya berucap istighfar, hingga menjelang maghrib tiba, abahnya mengajaknya kembali kerumah.


" Naya..." Abah memanggil Naya sambil melambaikan tangannya.


Naya hanya mengangguk, berjalan kearah abah.


"Sudah kenal dengan pemuda ini." Abah berbicara, kemudian mengarahkan kepalanya pada sosok laki-laki yang Naya tahu namanya Dhuha.


"Sudah bah."


Abah tersenyum merangkul laki-laki itu. "Yuk..., makan malam dirumah abah!" Ucap abah pada laki-laki itu.


"Apa tidak merepotkan bah." Ujar laki-laki itu dengan wajah menunduk.


"Insyaa Allah tidak, jangan menolak rezki." Tutur abah tersenyum.


Laki-laki bernama Dhuha itu mengangguk.


Inayah mengekori langkah kedua laki-laki didepannya.


Ketika Naya mendongakkan wajahnya, pandangan mereka bertemu.


Deg


Buru-buru Naya mengalihkannya.


Astagfirullah


Salam hangat dari author kakak-kakak readers


jangan lupa tambahkan novel'inayah' ke list kesukaanmu ya, beri like, comen dan vote. terimakasih kakak-kakak