Inayah

Inayah
Permintaan Abah



Senja kali ini, aku memilih tak ke tepi pantai, seperti biasanya. Kurasa aku mulai bosan dan lelah, dan memang menunggu tak semanis itu. Bulan berbulan tak kutemui juga solusi dari hubungan kami yang tak jelas ini.


Sepucuk surat yang Kuharapkan tak juga pun singgah menghampiri. Aku mulai tak setia, resah kerapkali warga sekitar berbisik-bisik menggunjing hubungan kami. Entah bagaimana akhirnya, melepaskan atau bertahan adalah pilihan sakti yang ku hindari.


Ine masih sabar sejak sebulan lalu menanti jawaban atas keputusan ku. Sedangkan abah, terus mendesak agar aku segera mengambil langkah baik.


Lalu bagaimana dengan kedua mertuaku?


Umi, dengan tatapan sendunya berharap aku tetap memilih menunggu, sedangkan abi dengan ketegasannya, akhiri atau aku akan terluka lebih dalam lagi.


Istikharah tak henti-hentinya kulakukan, memohon petunjuk pada sang Maha penentu takdir. Tangisan, rintihan pedih kerap ku jatuhkan diatas sajadah dalam sujudku.


Mungkin memang pada akhirnya takdir tak memilih kami bersama, sebab sampai detik ini hati ku condong memilih pergi meninggal kan deretan kisah yang masih kosong layaknya kertas putih.


"Naya... " Bariton suara ketegasan menggema dalam lamunan. Abah, laki-laki dengan kewibawaannya yang menjadi titik pusat hidupku. Yang dengan setianya meniti alur kehidupanku dari aku mulai belajar berjalan hingga sampai sedewasa ini.


Naya tersenyum lembut menatap wajah laki-laki dewasa dihadapannya ini.


"Ya bah. Abah perlu sesuatu? Naya mengisyaratkan kepada Abah untuk duduk di kursi sebelahnya dengan mengangkat dagunya, sembari menggeser kursi dengan sopan.


"Abah ingin bicara pada mu, nak! Ini masalah serius dan permintaan Abah untuk terakhir kalinya."


Untuk terakhir kalinya. Naya mengulang kalimat itu dalam hati.


"Abah mau ngomong apa? Insyaa Allah Naya siap mendengarkan." Naya berucap lembut dengan senyuman yang selalu tersungging dibibirnya.


Tampak Abah menghela nafas kasar.


"Nay... Besok kita berkunjung kembali ke rumah mertuamu, membicarakan perihal pembatalan pernikahan kalian. Kamu siap?"


Naya mendongak. Menatap lamat-lamat wajah yang begitu teduh itu.


Hembusan nafas menjadi awal sebuah jawaban yang akan naya utarakan.


"Apa ini yang terakhir bah? Sampai disinikah pernikahan yang sejak awal belum naya mulai dan tiba-tiba saja dalam hitungan bulan akan berakhir pisah? Jujur, Naya masih bimbang. Tapi hati Naya enggan memaksa meneruskan jalinan dalam ketidakjelasan ini."


Naya kembali menatap manik kelam milik Abah.


"Bah... "


Abah mengelus kepala Naya yang tertutup hijab berwarna hitam, raut mukanya menyendu.


"Kita tidak punya pilihan lain, selain memutuskan pembatalan pernikahan ini, kamu anak Abah satu-satunya. Kamu adalah permata Abah, segala lara dan pelipur Abah, sudah cukup Abah melihatmu menggenggam derita berbulan-bulan ini, Abah merasa jadi laki-laki tidak berguna ketika harus melihat anak Abah terus terluka.


Kamu yang sejak terlahir sudah Abah berikan hidup dan mati Abah, kamu yang sejak melangkah pertama menapaki kehidupan, tertatih-tatih tidak sedikitpun Abah membiarkan mu tergores benda-benda yang membuat kulit tubuhmu berdarah.


Naya... WAllahi, Abah tidak ridho jika kamu diperlakukan seperti ini oleh orang yang baru saja Abah amanah kan untuk meneruskan tanggung jawab Abah terhadapmu. Tidak, naya!"


Airmata naya mengalir deras mendengar ungkapan kasih sayang Abah.


"Abah.... "


Naya menghambur kepelukan abah. Airmatanya terus mengalir, terdengar juga suara sesegukan nya.


"Loh, abah, Naya. Ada apa ini?"


Ine yang datang dari dapur mendengar suara-suara gaduh dari arah ruang tamu, kemudian Ine langsung menghampiri.


Abah menepuk lembut Naya yang masih bergetar dalam pelukannya.


"Ssstttt.... Tidak ada apa-apa Ine." Abah menyahut membenarkan keadaan yang kian larut dalam kesedihan.


Ine yang tak kuasa menghampiri Abah dan Naya, ikut memeluk kedua orang berjenis kelamin berbeda itu.


"Maafin Naya... Mohon ridho-Nya bah. Naya siap, insyaa Allah siap."


******


Dalam ruangan sederhana yang tampak lengang. lima kepala dewasa saling duduk berhadapan. Naya diapit kedua orangtuanya, sedangkan kedua mertuanya duduk menghadap mereka bertiga. Ruangan yang didominasi warna putih itu, tampak sunyi, senyap, Belum ada yang memulai membuka suara. Masing-masing mereka sibuk dengan pemikirannya sendiri-sendiri.


"Mi, bi, maaf jika kedatangan kami kali ini membawa berita buruk." Naya memulai pembicaraan dengan ragu-ragu. Ia tampak memilin-milin ujung khimar yang ia kenakan.


"Huuufttf..."


"Abi tahu Naya, abi sudah menduga atas keputusanmu. Insyaa Allah umi dan abi ikhlas. Demi kebahagiaanmu."


Umi, mertuanya masih menatap lantai rumah, enggan mengangkat kepalanya, terlihat juga raut kecewa bercampur duka diwajah cantiknya.


"Bagaimana umi?" Abi mengalihkan pandangannya kepada sosok yang sedari tadi masih diam itu, mengelus pundaknya lembut.


"Umi...,mi...,"


Umi seketika tersentak. Ia langsung menghampiri Naya, memeluk lembut tubuh menantu cantik nya itu.


"Naya, menantu umi, sayang umi, Ya Allah baru beberapa bulan kamu jadi menantu umi, umi sudah menganggapmu seperti anak umi sendiri. Ya Allah maafkan umi jika selama menjadi ibu mertua sikap umi tidak baik, Ya Allah, Naya maaf kan damar juga ya."


Umi menangis dalam pelukan Inayah.


Inayah mengusap-usap pundak mertuanya.


Inayah terharu, pertama kali dalam hidupnya menjadi menantu yang paling beruntung, disayangi oleh kedua mertuanya. Sungguh, hanya Allah lah sebaik-baiknya pembalas kebaikan kedua mertua nya ini.


"Mi, Naya juga minta maaf tidak bisa sesetia istri-istri para rosul dan sahabatnya, maafkan Inayah mi..., Inayah bukan menantu yang baik, Inayah tidak sanggup menunggu terlalu lama kabar dari bang damar, maaf mi...,"


Kedua wanita tersebut menangis sesegukan.


"Baik." Abi, mertuanya mulai menjelaskan tata cara pembatalan pernikahan Naya dan damar.


"Dalam islam, ada 2 cara menggugat cerai suami di pernikahan siri, artinya tidak terdaftar secara sah dalam hukum negara kita. Yang pertama, menggugat cerai ke pengadilan Agama dengan itsbat nikah, yang artinya meminta permohonan nikah siri ke pengadilan agama agar disahkan pernikahannya dan memiliki kekuatan hukum. Jadi, disini kita berurusan dengan pengadilan agama bukan kantor Urusan agama atau KUA.


Yang kedua, dengan cara hakam, artinya menunjuk perwakilan dari kedua pihak, yaitu dari pihak suami dan dari pihak istri. Kemudian disini juga kita memerlukan pengacara untuk mengurus proses perceraian dari mulai di talak sampai ke pengesahan status pernikahan secara hukum.


"Bagaimana bah, Naya, ine. Ini terserah Naya mau ambil cara yang pertama atau yang kedua." Ucap abi panjang lebar. Laki-laki baya yang masih tampak gagah itu, tersenyum lembut, dengan sabar ia menjelaskan secara detail kepada Naya dan kedua orangtuanya.


Mereka terdiam cukup lama.


Naya mengangkat tangannya. Memulai berbicara.


"Naya pilih itsbat nikah saja bi.., insyaa Allah pekan depan kita akan ke pengadilan Agama.


Tutur Naya lembut.


Abi dan umi mertuanya mengangguk patuh.


Akhirnya...


Naya berujar lirih dalam hati.




Visual #Inayah Qolby