Inayah

Inayah
Abah Sayang?



"Gimana kabar kamu nay?" Mereka duduk berhadapan di sebuah cafe yang masih satu area dengan supermarket. Damar memaksa inayah untuk berbincang dan menyakinkan bahwa dia juga tidak sendirian.


Ya... Laki-laki itu adalah damar, mantan suami Inayah.


"Alhamdulillah naya sehat bang."


"Kenalkan ini teman abang, sofyan." Inayah memandang sekilas laki-laki di sebelah damar, kemudian langsung menganggukkan wajahnya.


"Inayah".


"Singgah lah kerumah nay, ada umi dan abi. Pasti mereka senang kalau kamu berkunjung." Damar tersenyum disela ucapannya.


"Juga ada aluna, anak abang. Dia lucu dan menggemaskan." Pandangan mereka bertemu, buru-buru Inayah mengalihkan.


"Hem, ehm". Inayah hanya menjawab dengan deheman.


"Abang dan kiara sudah bercerai nay. 6 bulan lalu." Damar menatap Inayah, tulus. Meneliti raut Inayah melalui matanya, masih sama, Inayah tetap memandang dengan tatapan datar, seolah acuh.


Inayah hanya diam, tidak ingin terlalu membawa diri dan mengakrabkan diri dengan pertemuan pertama mereka setelah beberapa tahun berlalu.


Mengalihkan arah pembicaraan. "Abi dan umi sehat? "


Damar tahu, Inayah sedang tidak ingin membahas tentang dirinya.


Damar menjawab dengan anggukan kepala. "Kamu kuliah dikampus itu?"


"Bang, maaf Inayah tidak bisa lama, ada keperluan lain. Inayah pamit ya. O, iya salam untuk abi dan umi. Dan 'iya' untuk pertanyaan abang tadi". Buru-buru Inayah bangkit dari duduknya, berjalan kearah luar supermarket tersebut.


Damar menghela nafas. Selalu begitu, Inayah menutup diri dari laki-laki termasuk dirinya.


####


Kandungan mamah Ratih semakin membesar, sudah memasuki bulan ke tujuh. Hari ini abah dan anak-anak madrasah melakukan perjalanan tour berkunjung ke tempat wisata kota Medan, sumatera utara. Pagi-pagi sekali mamah Ratih disibukkan menyiapkan perkakas abah yang akan dibawa. Abah terkekeh saat melihat begitu banyak barang-barang yang dimasukkan ke tas ranselnya.


"Dek, abah cuma dua hari disana? Kenapa seperti mau pindahan?"


Mamah Ratih tersenyum.


"Abah perlu ini, biar disana tidak repot mencari-cari barang lagi." Jawaban mamah Ratih adalah mutlak, sudah pasti tidak ingin dibantah.


Abah mengangguk-angguk kan kepalanya.


"Baiklah nyonya hamzah."


Mereka tertawa bersama. Saling berpandangan. Abah menarik pergelangan tangan mamah ratih, mendudukkan nya diatas pangkuan abah.


"Jaga diri baik-baik ya, jaga anak-anak juga. Jangan terlalu capek. Oke nyonya!" Abah memberi wejangan pada wanita kesayangan nya ini.


Tok... Tok...Tok...


Inayah melepas mukena setelah menyelesaikan fardhu isya. Mendengar ketukan dipintu namun belum ada satu orangpun yang membuka. Tergesa ia menarik khimar dan cadar kemudian memakainya.


"Assalamu'alaikum permisi, benar ini rumah saudara hamzah?" Inayah terkejut sebab yang mengetuk pintu rumah mereka adalah 2 orang polisi dengan pakaian dinasnya.


"Iya Pak, ada apa ya?" Rasa khawatir menyelimuti, tubuhnya gemetar hebat.


"Maaf Bu dengan ibu siapa kami berbicara? "


"Inayah pak, saya anaknya abah hamzah."


"Siang tadi terjadi kecelakaan beruntun yang mengakibatkan salah satu mobil masuk kejurang di jalan lintas menuju sumatera Utara." Polisi itu menjelaskan dengan detailnya.


Deg


"Abah... Innalillahi wa inna ilaihi roji'uun."


"Kami belum bisa memastikan apakah saudara hamzah termasuk korban dari kecelakaan tersebut atau bukan, hanya dompet beserta KTP beliau yang kami temukan."


"Untuk informasi lanjut, silahkan datang ke rumah sakit bhayangkara untuk melihat adakah jasad ayah anda disana. Terimakasih. Selamat malam."


Inayah terduduk lemas di sofa ruang tamu pada lampu temaram itu. Pandangannya menelisik, terlihat ada perempuan yang berdiri mematung di depan pintu kamar.


Deg


"Mamah... "


Tangis mamah Ratih pecah, ia kalut saat mendengar informasi dari polisi tadi, bahunya bergetar naik-turun. Inayah datang memeluk menenangkan.


"Mah... Belum tentu itu abah. Mamah tidak boleh terlalu capek dan terlalu banyak fikiran. Kasihan adik bayi".


" Nay..., abah.... Abah nay. Ya Allah, astaghfirullah.


Inayah menggeleng-geleng kan kepalanya.


"Mamah yang sabar ya. Insyaa Allah abah baik-baik saja". Memang semenjak pagi tadi, belum ada telepon dari abah. Biasanya abah tidak pernah absen untuk mengabari istrinya jika ada sesuatu apapun.


Ya Allah Ya karim. Jagalah abah kami. Jagalah raganya. Jagalah hatinya. Aamiin


####


bersambung,,,,