
Hari-hari berlalu dengan begitu manisnya. Bik Ratih yang sekarang di panggil mamah oleh inayah tengah mengandung anak pertama dari pernikahan mereka 3 bulan yang lalu.
Saat terdengar suara malu-malu dari mamah ratih menyodorkan sebuah alat pendeteksi kehamilan atau yang biasanya disebut tespack.
"Bah..,"
"Hummm...," abah mendongak, tersenyum kala mendapati rona merah di kedua pipi istri mudanya itu.
"Ini... " Mamah Ratih menyodorkan sebuah tespack ke wajah abah.
"Kamu.... "
Mamah Ratih mengangguk.
"Alhamdulillah... Maa syaa Allah." Abah menarik pelan tubuh istrinya, memeluk lembut, membenamkan wajahnya di ceruk leher istrinya yang masih tertutup jilbab panjang.
"Siang nanti kita periksa ya dek." Panggilan kesayangan abah untuk mamah Ratih.
####
Malam, selepas maghrib inayah mengajar anak-anak mengaji di musholla. Kali ini ia hanya sendiri, biasanya ia, abah dan mamah Ratih yang mengajari anak-anak mengaji di musholla. Namun, kata abah, mereka akan sedikit lama diluar ketika berpamitan ba'da zhuhur siang tadi.
Dreet.. Drett..
Dalam perjalanan pulang ke rumah, inayah mendapati benda persegi panjang yang setia menemaninya selama 2 tahunan ini bergetar. Inayah merogoh tas mini jinjing yang didalam nya juga berisi peralatan sholat dan al-quran.
"Assalamu'alaikum,... "
.................................,,,
...................................
"Iya bah, iya... Insyaa Allah.
...................................
"Wa'alaikumsalam".
Huuffht
Inayah menghembuskan nafasnya perlahan. Udara dingin menerpa cadar nya. Matanya berkedip ringan.
Abahnya mengabarkan bahwa mereka tidak akan pulang malam ini. Sebab diundang dalam perjamuan oleh abi dan uminya damar. Menyampaikan juga untuk menjaga kedua adik tiri Inayah. Raihan dan furqon.
#####
Pukul 04.00 Wib Inayah tiba-tiba terbangun dari tidur nyenyak nya. Ia bermimpi bertemu dhuha dalam keadaan sendu. Matanya berkaca memandang Inayah.
Inayah beristighfar. Belum pernah ia seresah ini apalagi sampai memimpikan laki-laki yang bukan mahrom baginya. Sudah lama sekali ia tidak mendapat kabar tentang dhuha, laki-laki yang hampir melamar nya beberapa tahun lalu.
Bergegas ke kamar kecil, inayah membasuh kedua tangannya, berwudhu. Menggelar sajadah coklat peninggalan ine, ibunya. Khusyuk dalam sujudnya, airmatanya berlinang. Bertanya-tanya dalam hati. Ada apa? apa sesuatu terjadi ?
#####
Kepulangan abah dan mamah ratih disambut hangat oleh inayah dan kedua adik tirinya. Bahagia, sebab akan kedatangan anggota baru dirumah sederhana mereka.
"Mamah sehat?" Raihan, anak sulung mamah ratih menyambutnya dengan pelukan.
"Dedek sehat?" Mamah ratih menjawab dengan anggukan.
"Alhamdulillah." Serentak inayah dan kedua adik tirinya mengucap syukur.
####
Aktivitas kembali memadati jadwal inayah pekan ini. Inayah yang tidak lama lagi akan menjalani KKN (Kuliah Kerja Nyata) sedang disibukkan dengan riset lapangan.
Ditengah matahari yang begitu terik, inayah berjalan memasuki supermarket yang tidak jauh dari kampusnya. Ia menyelesaikan jadwal kuliah siang ini dengan lelah. Mood nya juga sedikit tidak bagus. Selangkah memasuki rak yang berjejer makanan ringan, inayah dikejutkan dengan suara laki-laki yang menurutnya sangat familiar ditelinga.
"Nay...Naya...Inayah Qolby?"
deg
"Assalamu'alaikum."
Inayah berbalik. Matanya membulat.
Laki-laki dengan penampilan necis, rambut cepak, kuli sedikit gelap namun terlihat sangat terawat, dan senyum manis mengambang dengan lesung pipi hampir samar.
"Inayah bukan?"
Inayah masih diam. Masih sulit dipercaya mereka dipertemukan saat ini.
Kemudian laki-laki itu berjalan semakin mendekat. tangannya melambai ke hadapan inayah.
"Kamu melamun?" Untuk yang keberapa kalinya, laki-laki itu berbicara.
"Assalamu'alaikum". Tergesa inayah mengucap salam. Berusaha mengendalikan dirinya.
"Wa'alaikumsalam."
######
Bersambung,,,