
Perjalanan yang cukup melelahkan. Menjelang shubuh rombongan abah dan anak-anak akhirnya sampai di Banda Aceh.
Abah bertemu mereka setelah meminta bantuan pada dhuha untuk menelepon salah satu guru pendamping anak-anak tour, sementara handphone abah di charger sebentar.
Memang benar, banyak perubahan yang terjadi beberapa tahun ini. Dhuha yang diketahuinya sudah menikah dan memiliki dua orang anak. Beberapa bulan lalu, sedang berduka sebab kehilangan istrinya yang mengalami pendarahan cukup parah. Dan sekarang mendapati laki-laki itu menjadi duda tampan berkharisma.
Begitulah takdir yang maha Kuasa, tidak ada satupun makhluk Nya yang bisa menebak kejadian hari esok, bahkan sedetik berikutnya. Qodarullah wa maa syaa'a fa'ala.
####
Inayah dan mamah Ratih dengan cemas menunggu kedatangan abah. Sore menjelang maghrib, abah mengabari bahwa sudah sampai di kota Medan.
Sujud syukur bahwa keadaan abah baik-baik saja, kecelakaan yang diinformasikan oleh polisi hanyalah kesalahpahaman. Polisi juga sudah meminta maaf atas kekeliruan mereka.
Sejak mengetahui abah baik-baik saja, mamah Ratih mulai bisa mengistirahatkan diri nya. Sebab, dari datangnya informasi keliru itu ia belum juga bisa memejamkan mata nya.
Samar-samar ia mendengar suara pintu kamar terbuka. Langkah kaki berayun mendatangi ranjang, mengakibatkan bunyi khas ranjang berdecit. Hembusan nafas menerpa ubun-ubun nya. Seketika matanya terbuka.
"Abah.... "
Dalam bayangan temaram lampu kamar abah tersenyum lembut.
"Kenapa bangun dek? Adek terganggu".
Panggilan khas yang diberikan abah kepada mamah Ratih selalu sukses membuat mamah Ratih berdebar tak karuan. Pipinya seketika merona malu.
Walau usia abah sudah menginjak kepala lima, abah adalah laki-laki yang cukup romantis kepada istrinya. Selalu memanjakan mamah Ratih. Sehingga membuat mamah Ratih menjadi orang yang beruntung dinikahi oleh abah. Jodoh datang pada saat yang tepat, bukan?
Dulu, ia mengira bahwa predikat janda akan disandangnya sampai ia berhenti bernafas. Namun, cinta kembali hadir ketika dua orang dewasa saling menjaga cintanya pada Rabb Nya yang berakhir menyatukan cinta mereka. Bahwa sebelumnya ia pun tidak percaya bahwa takdir semenyenangkan ini. Allah Maha Baik, bukan?
"Abah baru sampai?"
Mamah Ratih menegakkan badannya pelan-pelan, perutnya yang semakin besar membuat ia kesulitan dalam beraktivitas.
"Istirahatlah lagi dek! Abah juga lelah".
Mamah ratih mengangguk.
#####
"Cerita kan, kepada ku kenapa abah bisa sampai duluan dari rombongan?" Mamah Ratih meletakkan gelas teh di meja, abah selesai membaca Al-Quran, menutup kembali. Memandang teduh perempuan si pemilik hati nya itu.
"Panjang dek, gak cukup satu episode. Nanti kamu malah lelah mendengarkannya."
Mamah Ratih memberengut. Abah terkikik geli.
"Inayah mana dek?" Abah mengalihkan pembicaraan. Ia tahu istrinya itu sedang cemas. Tidak mau membebani pikiran mamah Ratih, toh abah juga kembali dengan selamat.
"Ada kelas katanya bah."
"Abah bertemu laki-laki yang dulu pernah hampir meminang inayah."
Pandangan abah menerawang. Menoleh kembali pada perempuan yang duduk disebelahnya itu. Dia sudah menikah dan memiliki anak, dan...." Kalimat abah terjeda.
"Sudah menduda. Istrinya meninggal saat melahirkan anak keduanya."
Walau mamah ratih tidak mengenal laki-laki itu, iya yakin bahwa laki-laki yang ditemui abah di kota Medan merupakan laki-laki istimewa bagi abah dan inayah.
"Kelak, abah berharap mereka dipertemukan kembali dalam keadaan hati mereka telah siap satu sama lain." Mereka saling pandang. Mamah Ratih mengangguk patuh.
Bersambung,,,
Bismillah...Mohon maaf bagi para readers kalau saya jarang update ya. Mohon dimaklumi, masih belum bisa mengatur waktu antara dunia maya dan dunia nyata. Terimakasih yang sudah berkenan membaca karya receh saya ini. Semoga semua diberikan kesehatan dan keberkahan selalu. Aamiin.
Salam dari Warga Pekanbaru_Riau
Terimakasih ^-^