Inayah

Inayah
Menuju Proses



Hampir dini hari Ramdan beserta keluarga nya sampai di kota banda. Beruntung nya sebelum berangkat, ia sudah membooking 2 kamar di salah satu hotel bintang lima kota Banda. Memberikan fasilitas terbaik untuk keluarga agar bisa beristirahat dengan nyaman setelah perjalanan 13 jam lama nya dari kota siantar ke kota Banda.


Memboyong mama, adik, paman dan bibi nya untuk ajang silaturahmi sebelum dilakukan nya proses ta'aruf dengan perempuan yang mendebarkan hatinya. Pertama kali dalam hidupnya menjalankan susunan sebelum pernikahan berlangsung sesuai sunnah rasulullah. Menjadikan ia pun lebih bijak lagi, banyak mempelajari beberapa hal yang harus di lakukan pada tahap-tahap menuju pernikahan. Tidak sulit memang namun juga tidak mudah, sebab sebelumnya dia juga berproses dari salah satu pondok pesantren di kota pematang siantar.


Menjelang shubuh, ia mengirim pesan pada Inayah menyampaikan bahwa mereka sudah di Banda. Tidak ada jawaban, hanya centang biru menandakan bahwa pesan nya sudah terbaca. Tidak heran, hal biasa bagi nya mendapati Inayah begitu cuek.


#####


Kami berangkat sekarang. Ramdan


Bunyi notifikasi terdengar bersahutan dari atas nakas, saat sudah menyelesaikan sunnah dua raka'at sebelum matahari berada di ubun-ubun.


Begitu langsung ia sampaikan pada mamah Ratih, sebentar lagi tamu akan segera tiba. Abah dan mamah Ratih bersiap-siap.


Si sulung raihan mengambil alih untuk mengasuh syakilla. Ini merupakan pertemuan keluarga pertama sebelum berlangsung proses perkenalan selanjutnya. Deru mobil menyambut kegugupan Inayah, kaki nya gemetar melangkah, dengan rona merah bahagia terselip dikedua pipi nya.


Tamu berucap salam, abah menyerukan instruksi pada Inayah dan mamah Ratih untuk segera menyambut kedatangan tamu istimewa mereka.


"Bagaimana perjalanan nya? Melelahkan ya." Abah menepuk bahu Ramdan, tersenyum kecil pada nya.


"Kalau saya sudah biasa bah. Oh iya, perkenalkan ini mama saya." Ramdan memeluk pundak perempuan baya dengan lesung di kedua pipi nya itu. Sekarang Inayah tahu, dari mana lesung di pipi Ramdan itu ia dapat.


Kemudian Ramdan lanjut memperkenalkan keluarga yang lain. Terdiri dari adik bungsu nya haikal, bibi dan paman adik dari ayah nya. Sedangkan ayah nya sudah meninggal 3 tahun lalu, sebab menderita penyakit diabetes. Usai perkenalan singkat itu, mamah Ratih dan inayah menjamu mereka dengan hidangan khas Aceh.


Mamah Ratih menyajikan kopi Aceh, timphan, bohromrom, keukarah dan juga bhoi. Semua makanan yang terhidang merupakan cemilan khas Banda Aceh.


Abah menyebutkan satu-persatu hidangan di atas meja. "Ini kopi Aceh, atau biasa nya orang-orang mengenal nya dengan kopi gayo. Ini aroma dan rasa nya mantap sekali, pas ini buat yang habis perjalanan jauh. Ayuk silahkan nak Ramdan, mas, mba." Abah mengajak Ramdan, mama nya, adik nya serta paman dan bibi nya untuk mencicipi kopi gayo itu.


Abah dan mamah Ratih mengangguk.


"Semua cemilan ini, inayah yang buat." Mamah Ratih memegang tangan Inayah.


Memandang dengan gerakan kepala sedikit di anggukkan. Inayah paham, ia harus melanjutkan untuk memperkenalkan makanan yang telah dibuat nya.


"Ini bohromrom tante, om. Atau biasa dikenal dengan nama klepon. Bahan dan cara membuat nya juga tidak jauh dengan klepon."


"Kalau yang ini?" Haikal mengambil kue yang menyerupai karakter-karakter lucu.


Inayah tersenyum.


"Namanya kue bhoi, bahan nya sama dengan membuat bolu biasa, hanya bentuk nya saja sedikit berbeda." Mamah Ratih dan abah mengangguk.


"Kue yang di sebelah nya itu, namanya kue keukarah. Terbuat dari tepung beras. Tekstur nya terlihat keras, tapi sebenarnya tidak keras, renyah dan sedikit manis."


Inayah merasa bahagia telah menjelaskan makanan khas dari daerah nya. Keluarga Ramdan juga sangat puas dengan sajian yang dihidangkan. Selepas beramah-tamah dan menyantap hidangan. Selanjutnya Ramdan mengutarakan niat baiknya untuk melamar Inayah.


"Sebelum nya saya memohon maaf bah, saya datang kemari untuk langsung melamar Inayah menjadi istri saya, apa boleh?" Inayah dan abah saling berpandangan. Abah menenangkan kecanggungan Inayah lewat tatapan mata nya.


Di perjalanan menuju ke rumah Inayah, mama Ramdan meminta untuk nya agar langsung saja melamar Inayah, mengingat jauh nya jarak rumah mereka dengan rumah Inayah.


bersambung,,,,