Inayah

Inayah
Kenyataan Pahit



Shubuh menggema pilu, bersayutan mengalun duka mendalam bagi dua orang berbeda gender. Ayah dan anak yang masih berpelukan erat, mengaliri luka yang tiba-tiba hadir tanpa dipinta, memaksa airmata terus menganak tanpa henti. Inayah sesegukan dipelukan tubuh tegap abahnya, masih terguncang tidak percaya atas kenyataan pahit menjelma duka. "Ine.. Bah, ine."


Innalillahi wa inna ilaihi roji'uun, kalimat panjang yang pertama kali terucap ketika ine, ibunya dinyatakan meninggal terkena serangan jantung. Abah terkulai lemas, tubuh tegap dan tegasnya pun merapuh, luruh airmata pun tak bisa dipendam nya.


"Kita harus ikhlas Inayah, agar ine pergi dengan tenang."


Tidak menyangka secepat ini dan semendadak ini. Ine nya yang beberapa jam lalu masih ceria menyiapkan kopi untuk abah, masih secerewet biasanya dengan abah, masih tertawa riang atas usilan abah. Ine, ibunya yang masih terlihat muda, masih terlihat sangat cantik dengan pandangan teduh mempesona. Sudah tidak ada lagi panggilan ine itu, sudah habis kenangan hidup dengannya. Ine....


####


60 hari berlalu...


Duka itu masih bersemayam, namun demi abah. Inayah mencoba tegar, mencoba kuat. Meyakinkan pada dirinya, bahwa ini adalah takdir hidupnya yang harus dijalani dengan ikhlas.


Damar sudah kembali ke satuan, dengan umi yang masih menggenggam kekecewaan atas keegoisannya.


"Maafkan Damar mi.. "


"Kamu dapat apa setelah melakukan ini? Kebahagian? Tidak kan?"


"Umi... Istighfar." Laki-laki baya disampingnya tetap tenang, mengikhlaskan apa yang sudah terjadi.


"Damar minta maaf mi. Sampaikan juga maaf Damar kepada Inayah dan abahnya." Setelah nya, Damar beranjak dari rumah sederhana tempat kebahagiaan masa kecilnya itu.


####


Aku mencintaimu seabad lamanya


Menunggumu membalas uluran tanganku


Menghapus duka dan lara yang menggenggam hidupmu


Hingga suatu saat kau pun menyerah


Dan berakhir menyatakan


Kau pun sama, memiliki cinta sebesar aku mencintaimu.


Berbeda kehidupan dengan Inayah di desa rinon. Dhuha, laki-laki dengan penampilan rapi dan wajah tampan mempesona nya memulai hari menjalani kisahnya kembali ke kota Medan, kota asalnya.


Sebulan lalu, ia memutuskan kontrak pengabdiannya di desa rinon, sulit, ia tahu tak semudah itu meninggalkan apa yang sudah terjadi disana, namun demi mamanya yang sempat shock, ia mengalah. Mengganti profesinya yang sekarang berubah menjadi dosen dari mahasiswa/mahasiswi di salah satu perguruan tinggi negeri di kota Medan, sumatera Utara.


Begitupun dengan keinginan mamanya, untuk tetap melanjutkan berkenalan dengan wanita berwajah manis bernama Haura Kanaya. Wanita muda berprofesi sebagai guru. Cantik dan manis dengan tampilan sederhana, menutup auratnya sesuai anjuran agama. Perlahan, dhuha menerima baik gadis muda itu.


"Sebelum dhuha kembali ke kota, ia sempat menitipkan surat kepada abah, ia meminta maaf tidak bisa datang langsung kemari, ia juga menyampaikan duka mendalam nya atas kepergian ine. Mamanya shock, sempat dirawat dirumah sakit beberapa hari. Dhuha juga sudah mengakhiri pengabdiannya disini. Huuhh..."


Abah menghela nafas setelah kalimat panjangnya berakhir. Disore yang tenang, tanpa teriakan anak-anak bermain layang-layang. Naya dan abah menikmati semilir angin sepoi melambai kala senja tiba.


"Bohong kalau abah tidak kecewa." Kami berpandangan, yang terlihat hanya raut luka, kecewa.


Inayah menoleh. Merasakan ketidakrelaan.


"Abah yakin? Bukannya nanti kita sulit kalau mau menjenguk ine." Abah memandang naya dengan tatapan teduh.


Abah mengangguk ringan.


"Umur ine baru 38 tahun." Abah menoleh, kemudian mengarahkan pandangannya kedepan, jauh kelangit rona senja, seakan menggali ingatan kenangan yang sudah lama terhempas dari memori.


Terlihat helaan nafas abah berat.


"Saat itu, ine baru saja menamatkan sekolah menengah atasnya. Baru menginjak usia 17 tahun. Abah yang datang tiba-tiba menawarkan cinta dan tanggung jawab. Kemudian ine menerima dengan lapang, laki-laki ini, laki-laki yang menggenggam janji bersama. Ine menyakinkan kepada kedua orangtuanya bahwa kami pasti akan bahagia, walau umur kami masih teramat muda. Abah menikahi ine ketika umur abah 22 tahun."


Abah menghentikan ceritanya. Terlihat bulir-bulir hangat menggenangi pipinya. Tunggu? Ada yang aneh disini. Wajah abah terlihat sangat sendu. Ya Allah, sungguh anak macam apa aku ini. Abah seperti tidak terurus. Ya Allah, maafkan hamba. Ungkap jeritan Inayah dalam hati.


"Kamu tahu, ine bukan dari keluarga biasa, ayahnya seorang polisi dengan pangkat jenderal. Ibunya seorang pengacara. Tidak ada restu diantara kami. Tapi setelah kehadiranmu, perlahan mereka membuka hatinya."


"Abah sudah menyiapkan semuanya, abah akan berhenti mengajar. Rumah ini, mungkin akan menjadi kenangan kita bersama ine. Abah juga tidak akan menjual rumah ini, rumah ine adalah kenangan abah bersama ine, suka dan dukanya kita rumah ini yang menyaksikan."


Abah sesegukan. Naya menghampiri, memeluk erat tubuh itu. Mengelus bahunya yang bergetar.


####


Tiba saatnya kepergian mereka di salah satu kecamatan Kota Banda Aceh, baiturahman. Berdasarkan cerita abah, ia lahir dan besar disini. Mengenyam pendidikan sampai sekolah menengah atas disini, kemudian melanjutkan ke perguruan tinggi di meulaboh, Aceh Besar.


"Rumah nya tidak besar inayah. Tapi terawat, karena bibimu sering datang kesini, sesekali membersihkan."


Abah, dua bersaudara. Adiknya, si bungsu. Bibi Rahma tinggal di meulaboh bersama suami dan anak-anaknya.


"Istirahatlah, nanti ba'da ashar kita ber gotong-royong membersihkan kembali rumah ini." Ucap abah tersenyum menatap naya, mengusap kepalanya yang masih tertutup khimar.


Sore itu, senja menampakkan keindahan rona nya, burung-burung berkicau kembali ke sarangnya. Inayah dan abah berjalan-jalan ke sekeliling rumah, tampak dari jarak 5 rumah warga terdapat musholla dan Madrasah ibtidaiyah. Anak-anak masih terlihat mengaji, berlarian dan ada yang sesekali bercanda bersama temannya sambil menikmati kudapan makanan yang dibeli mereka.


"Naya... Tentang damar." Abah menatap sendu langit senja itu, ingin meneruskan bicara namun seperti tercekat suaranya ditenggorokan.


"Bah.... Tidak apa-apa. Naya sudah melupakannya." Bohong. Inayah tahu dia berbohong. Hatinya masih merasakan pesakitan dimana ia seperti dipermalukan.


"Maafkan dia.... Abi ammar bercerita bahwa dia mengalami hal sulit ketika dinyatakan gugur oleh satuannya."


"Bah... "


Abah tersenyum, mengangguk.


"Hiduplah bahagia nak, lupakan masalalu kelam itu. Percaya kan bahwa setelah hujan akan ada mentari yang menyinari, bahwa setelah siang akan ada malam dengan bintang menerangi. Bahwa setelah ada kesulitan akan ada kemudahan menghampiri. Takdir itu baik, karna sang pemiliknya pun baik."


Senyum inayah mengembang bersama langkah kaki mereka yang semakin mendekati halaman rumah. Ine...bahagialah disana, Inayah akan menjaga abah dengan baik disini. Kami mencintai ine karena Allah.


####