
"Abah bertemu abi dan uminya damar di dermaga."
Inayah menoleh, setelah khusyuk beribadah fardhu zhuhur.
"Mereka menitipkan ini." Abah berlalu menepuk bahu inayah dengan ringan.
Inayah meneliti dengan rapi kertas yang penuh coretan tinta itu, membolak-baliknya selayak ringan tanpa beban.
Membuka perlahan, stempel love dengan patah hati menjadi sambutan.
Dear Inayah....,
Deg
Inayah terdiam lama, kertas dalam genggaman jari-jarinya tersapu melambai terkena terpaan angin dari energi listrik didepannya.
Menghela nafas ringan, inayah menguatkan hati, ia tahu sepucuk surut itu dari damar, mantan suaminya.
Inayah...
Aku tahu, dalam kisah kita kamulah yang paling terluka
Maaf...
Mungkin tak cukup seribu atau bahkan jutaan untuk mengembalikan semua seperti sedia kala.
Aku, Damar. Memohon maaf dengan setulus hati, atas apa yang takdir tentukan. Baik tentang kita yang tiba-tiba menjadi kenal lalu memiliki ikatan tanpa bersama melewatinya. Pun dengan ketidakhadiranku dimana kamu membutuhkan genggaman, pelukan hangat dan tawa serta canda yang tak bisa kau nikmati jika bukan dengan mahrommu.
Setelahnya, maafkan juga atas kelancangan mulutku yang berbisa ini, hingga mengakibatkan kau kehilangan perempuan satu-satunya dalam hidupmu.
Maaf...,
Untuk semua luka dan duka dalam perjalanan kisah yang belum sempat kita urai.
Terimakasih...,
Semoga kelak, kita dipertemukan dalam rindu yang indah. Ketika saat itu, kamu yang telah ikhlas memaafkan ku. Dan aku yang telah siap melupakanmu.
Dari : Prajurit yang tak menyesal mengenalmu
Setetes bulir bening dengan beraninya membasahi pipi inayah, ia sapu telapak tangannya yang gemetar. Ada secuil perasaan, yang entah ia pun tidak tahu apakah itu perasaan menyesal atau hanya sekedar perasaan bersalah.
####
Seminggu selepas sepucuk surat yang datang dari damar, rutinitas inayah kembali seperti biasa. Kali ini, dengan dukungan abah, inayah mencoba melanjutkan pendidikannya ke jenjang strata satu di salah satu universitas negeri banda aceh.
"Bah, bibi ratih perempuan hebat ya."
Kami menikmati pagi dengan rintik hujan syahdu di teras rumah. Abah menoleh. Mengernyit heran, kembali menyesapi kopi di gelas bening itu.
"Maksudnya bu ratih pengajar itu?"
Inayah mengangguk.
"Kelihatannya masih mudah bah, jauh lebih muda dari pada ine, mungkin."
Terlihat abah mengendikkan bahunya, acuh.
"Kasihan." Kami berpandangan.
"Sudah takdirnya begitu nay, hidup dan mati itu milik Allah. Siapapun makhluk nya harus menerima keputusan mutlak itu."
#####
Sore menjelang,,,
Kata abah, hari ini ada kunjungan umi dan abinya damar. Mereka sedang berada di Banda, mengurus hal penting.
"Damar akan menikah." Umi, ibunya damar berujar lirih. Terlihat tetesan airmata menjatuhi pipi beningnya, ia mengusap dengan ujung lengan gamisnya.
Pandangan kami bertemu. Umi dengan raut ketidakrelaannya dan inayah dengan raut terkejutnya.
"Kiara, perempuan seusia damar, mantan kekasih semasa mengenyam pendidikan menengah atas. Masih terbilang kerabat jauh."
Umi berbicara menatap inayah, tulus.
"Mereka pernah berzina".
deg
"Astagfirullah." Inayah mengusap dadanya pelan. Merasai keterkejutan atas masalalu damar.
"Dia datang setelah dua pekan kepergian kalian. Umi kecewa inayah, walau umi tahu, jodoh tidak bisa dipaksa, tapi umi ingin suatu saat kalian kembali bersama."
inayah mengelus lengan umi. Ikut merasakan luka batin umi.
"Maaf mi."
Selamat membaca
semoga suka dengan sajian akhir minggu.
Jangan lupa tabe love, komen, like dan vote
terimakasih