Inayah

Inayah
Pernikahan



"Saya Terima nikah dan kawinnya Inayah Qolby binti Hamzah dengan mas kawin tersebut, tunaiiii."


"Sah"


"Sah"


"Sah"


Terdengar suara riuh orang-orang dalam ruangan sederhana ini, luruh airmataku. Tepat hari ini aku telah resmi menyandang status istri dari pemuda bernama Damar.


Kusalami tangannya yang terulur dihadapanku, iapun mengecup keningku lembut, menyentuh kepalaku yang tertutup khimar putih gading sambil merapalkan do'a pernikahan.


****


Ingatan tentang pernikahan kami masih membekas. Sulit untuk ditepis bahwa saat ini hubungan kami terombang-ambing seolah berada di tengah laut mengikuti arah kapal yang akan membawa ke dermaga. -Pun masih teringat jelas ucapannya untuk segera menyelesaikan urusannya di Banda aceh dan kembali untuk merayakan pernikahan, nyatanya semua hanya mimpi.


Sosok laki-laki berahang tegas itu sampai saat ini tidak muncul, wujudnya seakan ditelan bumi, sudah delapan bulan yang lalu. Entahlah, aku bimbang, masih menjadi pertanyaan, apakah pernikahan ini akan berlanjut?


Hampir setiap senja Inayah menunggu sosok suaminya dibibir pantai, berharap boat nelayan yang melaut hari ini membawa sosoknya pulang, sosok yang amat sangat dirindukan.


Ine (ibu-dalam bahasa gayo) Inayah pernah berkata padanya untuk berhenti jika ia mulai lelah menunggu. Tak ada salahnya jika ia ingin menggugat cerai sang suami yang saat ini entah dimana. -Pun ia belum mendapatkan hak dan melakukan kewajibannya sebagai istri.


"Naya". Lamunannya seketika buyar. Naya menoleh pada laki-laki cinta pertamanya.


"Abah.." Naya beranjak berdiri dari pasir halus yang menjadi tempat duduknya. "Kenapa kesini?" Tanya Naya menghampiri abahnya. "Sudah senja bah, yuk kita pulang, udara semakin dingin." Tutur Naya sambil tersenyum kearah abahnya.


"Kamu masih menunggu damar?" Abah mengajaknya duduk pada kursi-kursi yang disediakan untuk pengunjung di pantai ini.


"Dia suami Naya bah, sudah sepatutnya Naya menunggu dan setia padanya." Tutur naya lembut.


"Naya hanya ingin menempati janji Naya padanya bah."


"Lantas kau mengabaikan bahagiamu, demi laki-laki tak bertanggung jawab seperti dia!" Ucapan Abah mulai meninggi.


"Tidak begitu Abah!". Naya masih berucap lembut, dibalik cadar nya yang berwarna abu-abu.


"Abah tak ingin ikut campur dengan pernikahan kalian, tapi kali ini dia benar-benar keterlaluan. Dia mengabaikanmu, bahkan tak pernah memberi kabar padamu, pada kedua orangtuanya juga."


Naya terdiam. Sungguh, saat ini hatinya terluka. Berbulan-bulan penantiannya tak kunjung membuahkan hasil. Perkataan abahnya dibenarkan oleh pikirannya, namun tidak dengan hatinya. Hatinya menyela, ia tahu ini akan membuatnya sakit, namun ia ingin tetap bertahan.


Naya memegang lengan yang masih kokoh milik abahnya, terlihat gurat-gurat kelelahan pada wajah yang nampak teduh itu. "Bah... Yuk kita pulang!"


Abahnya mengangguk. Mereka berjalan bersama diatas pasir putih yang berada tak jauh dari pelabuhan rinon, pulau bereuh, Aceh Besar.


Pemandangan di pulau ini, sungguh menakjubkan. Hamparan pasir putih, bukit-bukit disekitar, tak kalah jauh dari pulau sabang.


Inayah dan keluarganya sudah lama sekali berada di pulau ini sekitar tahun 2005, saat itu abahnya menjadi salah satu pengajar yang mengabdi di pulau ini.


-Pun hingga sampai saat ini abahnya masih menjadi tenaga pendidik, walau usia nya semakin menua.


***



#Pelabuhan Rinon, Pulau Bereuh, Aceh Besar