Inayah

Inayah
Berakhir



Langit seakan tahu bahwa salah satu makhluk di bumi sedang di rundung sedih, bertatap nanar pemandangan gelap namun gerah, membangkitkan laju airmata yang dengan Royal nya mengalir deras ibarat air pegunungan, tak berhenti.


Sudah selesai segala berkas, sudah diketuk palu putusan, menandakan kisahnya dengan damar berakhir tanpa pernah mereka mulai. Kecewa, sudah pasti. Luka menusuk sampai ke Palung hati, namun sudah tak berdarah.


Seminggu berlalu,


Masa iddah nya terhitung 3 bulan 3 minggu lagi, Naya kembali ke aktivitas nya, membantu abah mengajar di madrasah, dengan berbekal ilmu dari pendidikan D2 nya yang baru setahun lalu terselesaikan.


"Assalamu'alaykum"


Terlihat sosok laki-laki tinggi menjulang berdiri di depan pintu kantor pengajar. Laki-laki yang beberapa hari ini sering berkunjung kerumah kedua orangtuanya. Dhuha, laki-laki tampan dengan segala ke iritan bicaranya.


"Wa'alaykumsalam"


Naya dan beberapa pengajar sedang bersiap-siap untuk memulai kegiatan dikelas masing-masing.


"Nay... Sudah siap!" Abah berdiri tak jauh darinya, mengulas senyuman lembut nan menenangkan.


Inayah segera beranjak, mengambil beberapa buku paduan yang diperlukan.


"Yuk bah, kelas kita berdekatan."


"Dhuha, abah duluan ke kelas." Dhuha yang diajak bicara mengangguk kemudian membalas ucapan abah dengan tersenyum.


*****


Selepas pulang dari kegiatan mengajarnya, Inayah menyempatkan berkunjung ke rumah mantan mertuanya, umi dan abi yang merupakan kepala desa di desa Melingge, desa yang tidak jauh dari kediamannya. Aksesnya begitu sulit, sepanjang jalan bebatuan terjal, dan jika hujan sangat licin. Inayah menggunakan sepeda motor yang ia pinjam dari abah, hanya butuh waktu sekitar setengah jam dari rumahnya, disebabkan memang jalan yang rusak.


Dulu sekali, ketika Damar masih kecil mereka sempat bertetangga, namun kemudian abi dan umi memutuskan pindah ke desa Melingge.


Inayah tiba disambut senyuman dan pelukan hangat oleh umi, mantan mertuanya. Tampak juga ia bawa beberapa buah dan sayuran hasil panen dari kebun abinya.


"Umi sehat?" Wanita itu menepuk-nepuk ringan bahu yang tersedu menahan tangisan.


"Alhamdulillah... Naya apa kabar?"


"Alhamdulillah umi, naya baik. Abah dan inee juga baik." Naya berucap dengan senyuman tulusnya.


"Masih belum ada kabar dari bang damar mi?"


Wanita baya itu hanya menggelengkan kepalanya.


"Sabar mi, kita do'a kan bang damar baik-baik saja dimana pun ia berada, semoga Allah melindunginya."


"Aamiin." Serempak kedua wanita berbeda usia ini berucap.


****


Berbulan-bulan kemudian, sudah sebulan masa iddah Inayah berlalu, wanita berparas ayu itu sudah bebas dari ikatan apapun dengan laki-laki bernama damar. Walau begitu, ia masih kerapkali berkunjung ke rumah mantan mertuanya. Kini, hidup Inayah tak lagi berpendar kelabu, ia sudah tak canggung lagi jika harus berpapasan dengan warga sekitar, -pun tak terdengar lagi gunjingan-gunjingan ringan merusak gendang telinga, sekarang hanya ada senyuman tulus bahagia tanpa raut sendu.


Senja kali ini diisi oleh riuh suara anak-anak bermain layang-layang dibibir pantai, sorak-sorai anak-anak berlari saling berkejaran, suara kicauan burung yang berbaris rapi menuju pulang setelah beramai-ramai mencari makanan. Inayah duduk beralaskan pasir putih, tampak senyuman lembut dari balik cadar nya.


"Iya, dengan siapa ya?"


Wanita yang tampak manis ini, tersenyum mengulurkan tangannya.


"Saya Kiara, sepupu jauhnya damar. Dan... Mantan pacarnya."


Pandangan inayah mengernyit. Satu kenyataan lagi yang ia dapatkan dari masa lalu damar.


"Oh, saya Inayah. Maaf sepertinya kita belum saling kenal." Inayah berucap lembut, senyuman tulus ia sunggingkan dibalik cadar nya.


"Damar sering cerita tentang kamu, termasuk pernikahan kalian."


"Kamu tahu Naya, sampai saat ini aku masih memiliki rasa pada damar, dan aku bahagia ketika tahu kamu bukan lagi istrinya."


Deg.


Ada apa dengan wanita ini?


Inayah hanya mengangguk.


"Sebelum damar berangkat ke pulau Jawa, dia pernah menitipkan surat untukmu, tapi maaf aku terlalu pengecut untuk datang kesini dan membawa pesan darinya. Begitu pun sesampainya di pulau Jawa, kami terus berkirim kabar, hingga pada suatu hari damar tiba-tiba menghilang, semua aksesnya terputus sampai sekarang." Perempuan itu berbicara sambil menatap hening nya senja kemudian menoleh kesamping, menelisik tatapan Inayah, namun yang ia lihat hanya raut biasa, sedikit kecewa.


"Aku mengungkap semua diakhir karena aku ingin tahu, seberapa setianya istri damar. Dan ya, kamu bukan wanita yang sesabar itu, bahkan ku rasa kamu tidak pantas bersama damar. Satu hal yang harus kamu tahu Naya, prajurit itu sudah disumpah hidup dan matinya untuk negara, maka jika kamu menikah dengan nya kamu sudah siap ditinggal olehnya untuk mengabdi pada negara."


Setetes bulir bening membasahi cadar yang ia kenakan.


tidak setia. Kalimat itu seakan menampar kenyataan hidup inayah. Ya, aku lah perempuan yang tidak setia itu. Aku meninggalkan suamiku ketika ia sedang berjuang, ketika ia butuh dukungan.


"Maaf Naya, terimakasih sudah melepaskan damar. Walau aku gak tau, dia berada dimana sekarang. Namun, aku percaya dia akan segera pulang. Permisi."


Tubuh naya linglung, kakinya bagai tak bertulang. Seakan semua kata-kata yang diucapkan oleh wanita didepannya ini menarik paksa seluruh tulang yang ada ditubuhnya.


Naya sesegukan, memukul-mukul dadanya. Astaghfirulah, astaghfirullah, astaghfirullah. Ya Allah maafkan hamba, Ya Allah ampuni hamba.


Sedangkan dari jarak yang tak jauh, laki-laki yang bernama Dhuha sudah sejak tadi mendengarkan percakapan mereka. Dhuha sekedar melepas penat, kemudian ia melihat inayah, ia ingin menghampiri, namun langkahnya terdiri ketika ia melihat seorang wanita menghampiri inayah.


Naya ingin beranjak, mencoba mengemudikan emosinya, menghapuskan jejak-jejak airmata yang tersisa, tepat ketika pandangannya mengarah ke kiri, mata mereka saling beradu pandang. Dhuha dengan raut pandangan mengasihi, sedangkan naya yang seperti kepergok menangis tersedu, lantas segera berjalan sedikit cepat dan terpaksa.


"Inayah." Dhuha tahu, ia tak pantas mencampuri kehidupan inayah, namun hatinya yang masih terikat dan terpaut pada sosok lembut nan anggun itu merasa sedih melihat inayah dipojokkan oleh wanita yang ia curi dengar adalah mantan pacar damar, suami inayah, oh lebih tepatnya mantan suami.


"maaf bang." dari suara inayah, dhuha tahu raut wajah itu tak ingin diganggu.


"kamu baik-baik saja?"


inayah mengangguk, kemudian berlalu pergi. Meninggalkan segunung rasa penasaran dhuha. Mantan istri? Mantan suami? Pernikahan? Perceraian? Janda?


Kabar yang menurutnya entah itu baik, entah itu buruk. Inayah bukan seorang istri lagi. Ia sendiri. Ia seorang wanita bebas. Ia wanita yang tidak terikat lagi. Kenyatan itu membuat hatinya berdegup kencang, senyum bahagia terlukis di bibirnya.


Inayah.