
"Kenapa mi?... Kenapa setega ini.. Apa salah Damar. Damar disana bertugas, bukan bermain-main, apalagi bermain perempuan. Wallahi mi, Damar tidak rela." Laki-laki bermanik kelam itu menghempaskan kasar tubuhnya ke sofa tua diruang dimana mereka bertarung lidah.
"Nak.. Pahamilah ini takdir. Inayah dan kamu tidak berjodoh."
"B*llshit." Tatapan Damar mengarah kepada abi, laki-laki dengan penampilan santun itu mencoba tenang disituasi yang kian memanas. Ia tahu anaknya, si pemilik lesung pipi itu sedang tidak ingin diajak berdamai. Bahkan saat ini wajah Damar memerah padam, jari-jari tangannya terkepal kuat. Menahan emosi yang memuncak bak air dalam kali yang siap menghantap bendungan.
"Astaghfirullah nak, ucapan apa itu. Apa ini yang umi dan abi ajarkan." Luruh airmata umi, terguncang dengan kata anak laki-laki satu-satunya yang tulus hati dan dengan cinta ia jaga, ia didik.
Abi memeluk bahu umi, mengelus lembut penuh kasih sayang. "Sabar mi, istighfar.... " Disela-sela tangisnya, abi tetap menguatkan.
Damar beranjak dari sofa tua yang menopang tubuh lelahnya. "Haaah... " Hembusan kasar seolah menetralkan amarahnya.
"Mau kemana kamu, nak? Damar... Dengar umi, mau kemana?"
"Damar harus ketemu Inayah mi. Damar perlu penjelasan."
"Tidak, demi Allah umi mohon. Semuanya sudah berakhir, bahkan sudah setahun berlalu. Tidak nak, tidak. Inayah bukan bagian hidupmu lagi, dia bukan istrimu lagi. Tolong, mengertilah nak!
Damar tak mengindahkan ucapan umi, ia berlalu. Masih terlihat raut lelah itu dan raut kecewa itu.
"Abi, umi mohon hentikan damar. Hari ini Inayah akan dilamar oleh seorang pemuda bernama dhuha, ya Allah bi, tolong hentikan damar. Dia akan mengacaukan semuanya bi." Umi menangis tergugu dipelukan abi.
####
Sekian rindu....
aku menanti
Menghitung tiap detiknya
Meraba tiap detaknya
Mendebarkan
Menggetarkan
Mengharukan
Kian windu
Kian rapuh
Rasa ingin menyerah
Menghentikan segala luka, duka, tangis, kecewa
Tuhan... Aku bisa apa?
"Inayah... "
Deg
Inayah membeku, tak sedikit pun terpikirkan untuk beralih dari laki-laki yang menatapnya penuh luka, penuh kecewa. Sekedip mata, air yang memberontak dalam mata siap terjun mengalir, memaksa turun dari pelabuhan. Inikah alasannya, beberapa hari ini ia kian resah.
"Damar...kamu kembali." Abah, laki-laki cinta pertamanya itu terkejut. Tidak menyangka kehadiran Damar siang ini, tepat sekali dengan datangnya lamaran dhuha beserta keluarganya dari kota.
Tanpa berucap salam, tanpa permisi, tanpa sopan dan santunnya, Damar menampar hati Inayah dengan kata-kata mengecewakan.
"Begini kah perempuan itu?" Pandangan damar beralih kepada dhuha dan keluarganya. "Perempuan yang ku agungkan, ku jaga martabatnya dengan cinta, dengan ketulusan. Dan dengan teganya dia berkhianat?"
"Maaf, dengan siapa? Ah, aku pikir setelah melihat penampilanmu, kamu laki-laki baik, sholeh mungkin. Ah, iya bukan kah Inayah menginginkan laki-laki seperti ini?
Damar menatap tajam Inayah.
Inayah menunduk dalam, tak hentikan tangisan itu merajai hatinya, sungguh ini memalukan sekaligus menyakitkan.
"Kenapa? Kenapa?" Damar berteriak.
" Damar, istighfar nak." Tergopoh-gopoh umi menghampiri Damar dengan didampingi abi, laki-laki baya itu tidak bisa berbuat apa-apa seolah-olah tidak ada kekuatan lagi untuk menghentikan kelakuan anaknya. Ia hanya ingin istrinya tenang.
"Kenapa?". Sedikit lembut Damar berucap. Memandang satu persatu orang yang mengisi ruang tamu itu. " Kenapa?
Bisa jelaskan kenapa kamu mengakhiri pernikahan kita sepihak tanpa menunggu penjelasanku." Ia beralih menatap laki-laki bernama dhuha itu.
Tidak ada jawaban dari Inayah, ia masih menangis pilu dipelukan ine, ibunya.
Inayah menggelengkan kepalanya.
"Kamu tahu, aku bertarung nyawa di luar sana, di desa yang sangat terpencil. Bahkan nyaris mati memendam rindu. Berwindu kunantikan. Andai kita tidak terpisah. Andai kubawa kau kekota. Andai pernikahan kita tak mendadak. Andai... Andai... Dan andai...kamu, menghancurkannya dalam sekedip mata. Bahkan tulangku nyaris menggigil merasakan sakitnya, sungguh.. Oh.. Tuhan, sungguh sakit. Kenapa Inayah?" Damar meremas kuat bahu Inayah. Menarik pergelangan tangannya. "Ikut aku!"
"Damar... Ya Allah nak, Damar. Tidak. Ya Allah nak. Hentikan nak, hentikan! Umi meraung, menangis mencoba mengentikan Damar yang setengah menyeret Inayah.
" A.. A.. Abah." Suara ine tercekat. "Sa..Sa Kit."
"Astaghfirullah ine.. Ine kenapa, ine? Abah kelimpungan menahan tubuh ine, mendadak lemas. Seketika mata ine terpejam.
Damar terhenti. Tubuhnya menegang. Inayah memaksa melepas pergelangan tangannya yang perih akibat tarikan dan genggaman kuat Damar.
"Ine..
####
ada apa dengan ine ya ? bantu like, komen dan vote nya ya teman-teman baik hati.
sayang kalian