
Seminggu berlalu setelah pertemuan itu. Abah dan mamah Ratih disibukkan dengan membeli barang-barang yang diperlukan untuk akad nanti. Abah yang bolak-balik dihubungi oleh ramdan, menanyakan apa saja yang harus disiapkan, apa saja yang perlu dibawa dan lain-lain nya.
Inayah masih disibukkan juga dengan skripsi nya. Kampus, musholla, rumah adalah tempat nya saat ini.
Minggu depan, mereka akan datang mengkhitbah Inayah sesuai kesepakatan bersama.
Di kampus, Inayah menyempatkan bertemu dengan teman perjuangan nya di KKN Kabanjahe. Vivi, teman terdekat nya saat itu. Menyampaikan juga bahwa Inayah akan menikah. Vivi terharu, memeluk Inayah, ikut merasakan kebahagian nya juga.
Mereka juga menyempatkan makan bersama di sebuah cafe di depan kampus mereka. Vivi, semakin cantik dengan tampilan syar'i nya. Wajah nya teduh, manis khas gadis Jawa.
"Bulan depan, aku pulang nay." Vivi memulai pembicaraan selepas menyeruput segelas air es dari sedotan kecil.
Inayah tersenyum.
"Kamu balik lagi kan?"
Vivi menggeleng.
"Kalau akhir bulan ini, skripsi ku kelar. Kayak nya balik pas wisuda aja."
Vivi tampak muram.
"Papa ku sakit nay, kecelakaan kerja."
Inayah mendekat, memeluk bahu sahabat nya itu.
"Yang sabar ya. Syafahullah laa ba'sa thohuurun insyaa Allah."
Artinya : Semoga Allah memberi kesembuhan kepada nya (ditujukan untuk orang ketiga (laki-laki)
"Setiap penyakit pasti memiliki obat. Bila obat sesuai dengan penyakitnya, maka dia akan sembuh dengan seizin Allah Subhanahu Wa Ta’ala”. (HR. Muslim)
Mereka mengamini.
Mereka berpisah di cafe itu. Inayah kembali ke kampus sedangkan Vivi menuju asrama.
**
Inayah masih berada di kampus sampai menjelang senja. Menunggu giliran untuk bimbingan skripsi, hal biasa bagi mahasiswa-mahasiswi tingkat akhir. Setelah ini ia berniat singgah ke minimarket dekat rumah membeli keperluan mandi syakilla, bayi kecil kesayangan keluarga.
Butuh waktu hampir satu jam bersama dosen pembimbing. Lembaran demi lembaran diperhatikan kembali setelah keluar dari ruang dosen. Sedikit lagi, ia menyemangati.
Berjalan menjauh dari area kampus, menaiki angkot yang berhenti menunggu penumpang. Inayah menyebutkan alamat yang dituju. Beberapa menit ia sampai di depan minimarket.
Menyebrang jalan dengan hati-hati. Ia dikejutkan dengan seorang wanita baya menangis memegangi kepala nya. Berteriak meminta tolong.
Buru-buru Inayah menghampiri.
"Ada apa bu?"
Innalillahi wa inna ilaihi raji'uun. Allahumma ajirni fi mushibati wa akhlif li khairan minha.
Artinya :
"Sesungguhnya kami adalah milik Allah, dan sungguh hanya kepada-Nya kami akan kembali. Ya Allah, karunia kan lah padaku pahala dalam musibah yang menimpaku dan berilah aku ganti yang lebih baik daripadanya."
"Kepala saya, tolong."
Inayah membantu wanita itu berjalan, kemudian mendudukkan wanita itu di depan teras minimarket.
Mata nya berkeliling. Melihat begitu banyak orang. Namun tidak ada satu pun yang membantu.
Inayah beristighfar.
Wa qur rabbi a'uzu bika min hamazaatisy-syayaatiin.
Artinya :
"Dan katakanlah: "Ya Tuhanku aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan syaitan."
"Ibu tidak apa-apa?" Inayah memberikan sebotol air mineral yang baru dibeli nya di dalam minimarket itu.
Wanita itu menggeleng.
"Penjambret nya memukul kepala saya menggunakan tas."
"Astaghfirullah."
"Ibu tinggal di daerah sini."
Wanita itu kembali menggeleng.
"Saya sedang berkunjung. Sembari menunggu jemputan, saya berkeliling. Qodarullah tas saya di jampret." Wajah nya muram.
Inayah menenangkan.
"Qodarullahi wamaa syaa 'afa'ala."
Artinya : ini adalah takdir Allah dan apa yang Dia kehendaki, Dia perbuat.
"Ibu yang sabar ya."
Inayah seperti mengenal wajah perempuan baya ini, tapi dimana?
Bersambung,,,,