
Abah mempersilahkan laki-laki yang mengenalkan dirinya bernama Ramdan itu duduk di sofa yang beberapa bulan lalu abah beli. Kata abah, sofa ini mengisi kekosongan rumah. Siapa tahu tamu yang datang membawa berkah.
Ia terlihat menggaruk-garuk kepala nya.
"Abang ketombe an? Celutuk si bungsu, furqon.
Abah tersenyum. Inayah dan mamah Ratih menahan tawa. Sedangkan si sulung, raihan menyenggoli lengan adiknya.
Pemuda di depan abah itu melongok.
"Eh...Ehhmm, Bukan gitu".
"Jadi, abang gerogi?".
"Huuussst, jaga sopan mu fur". Raihan memerintah.
"Yuk kita main sama dedek syakilla di kamar". Inayah mengajak ketiga adik nya sebelum ia beranjak ke dapur.
Abah melihat pemuda ini terus memperhatikan gerak-gerik Inayah, ia mulai paham tujuan pemuda ini datang ke rumah nya.
"Kamu teman inayah?"
Abah mempersilahkan hidangan di meja untuk disantap.
Ramdan mengangguk.
"Saya mengenal nya ketika berada di kabanjahe, pak".
"Panggil abah saja, tidak usah sungkan".
Ia kembali mengangguk.
"Tidak ada laki-laki yang tahu rumah ini, kecuali teman kampus nya". Abah berbicara sambil menatap lawan nya.
"Saya dapat alamat Inayah dari bagian informasi, bah. Maaf, jika lancang".
"Kamu bukan asli sini?". Abah menaikkan kedua alis nya.
Ramdan mengangguk.
"Saya dari kota siantar, bah. Sedang menghadiri acara seminar kampus di banda". Ia menjawab dengan takjib, tanpa menutupi.
"Maa syaa Allah, jauh sekali. Tamu kehormatan bagi kami, Terima kasih sudah bersedia berkunjung ke gubuk kecil kami ini". Abah tersenyum menimpali.
#####
Dia berbeda. Saat aku berjalan mendekat, dia semakin menjauh.
Saat aku mengulurkan tangan, ia pun abai. Perempuan ini, apakah aku jatuh cinta?
~~
Apa syarat agar saya bisa mengenal mu lebih dekat lagi? Ramdan.
Pesan singkat sore ini.
Semenjak kedatangan nya, furqon terus meledek Inayah.
Hampir tiap hari, kalimat itu diulang-ulang oleh furqon.
"Apa kamu ingin ber ta'aruf dengan Ramdan?". Inayah dikejutkan oleh suara abah yang tiba-tiba sudah duduk di samping nya. Memang sedari tadi Inayah memain-mainkan handphone nya dengan melempar-lempar kecil di telapak tangan nya.
"Maksud abah?"
"Abah tahu dia punya niat baik, nay. Kalau kamu setuju abah akan menghubungi nya lagi agar dia dan keluarga nya bisa datang kesini".
"Bah?".
"Dalam sebuah hadits dikatakan ;
إذا جاءَكم من ترضَونَ دينَهُ وخلُقَهُ فأنكِحوهُ إلَّا تفعَلوا تكُن فتنةٌ في الأرضِ وفسادٌ
Bila orang yang agama dan akhlaknya kamu ridhai datang melamar anak gadis mu, maka nikahkan lah dengannya. Sebab bila tidak, akan terjadi fitnah di muka bumi dan banyak kerusakan".
"Abah rasa dia laki-laki shaleh".
"Tapi dia tidak menjaga aurat bah". Abah mengerutkan alis nya.
"Hmm?".
"Menjaga pandangan termasuk aurat bagi laki-laki, bukan?".
"Ghadhdul bashar?". Abah menahan tawa mendengar penuturan Inayah.
"Abah rasa tidak. Abah tidak memaksa nay, tapi setidak nya coba lah dulu mengenal dari sisi baik nya. Mungkin kamu terlalu mendapati sisi buruk nya dalam pandangan mu".
Inayah terdiam. Benar yang dikatakan abah.
#####
Pembicaraan beberapa hari lalu, masih menimbulkan bekas dalam ingatan Inayah.
Abah menyetujui niat baik Ramdan. Sedangkan Inayah masih melangkah ragu, tapi hati nya mengingini. Mungkin sebab kegagalan berulang-ulang di masa lalu membuat ia sedikit tidak percaya diri.
Hal apa yang disukai oleh keluarga mu, nay ? Boleh saya mengetahui. Ramdan.
Ini pesan entah yang ke berapa kali nya, ingin mengabaikan tapi rasa iba mendominasi. Harus kah ia membalas nya?
Tidak ada. Semua hal insyaa Allah disukai oleh keluarga saya, kecuali "kebohongan". Inayah
Ramdan mengirim emot tertawa.
Kamu terlalu serius nay, sesekali rileks lah sedikit.
Dunia ini bukan tempat orang-orang bergurau. Sesungguhnya orang yang suka berlebihan dalam bergurau termasuk orang-orang munafik.
Tidak ada jawaban dari pesan Inayah.
#####
Bersambung,,,,