
#flasback
6 bulan yang lalu...,,
Naya, ine, abi dan umi, mertuanya. Berangkat pagi-pagi sekali ke pelabuhan rinon sebelum fajar menyongsong terbitnya dari timur. Mereka berempat akan mengunjungi batalyon angkatan Darat banda Aceh dimana damar bertugas. Umi, mertuanya membawakan beberapa makanan kesukaan damar serta berkas-berkas yang tak sengaja tertinggal di pulau. Perjalanan yang mereka tempuh dari pelabuhan rinon menuju dermaga lampulo, banda aceh sekitar 3 jam an, mereka menumpang pada boat-boat nelayan yang akan melaut. Hanya kendaraan inilah yang bisa mengantarkan mereka sampai ke banda, tidak ada kapal lain.
Naya yang memang terbiasa dengan perjalanan laut, tidak merasakan mual ataupun muntah. Sementara inenya, semenjak berangkat sampai akhir di dermaga terasa lemas tak bergairah sebab ine jarang melakukan perjalanan-perjalanan seperti ini. Padahal sebelumnya, Naya sudah menolak ketika ine akan ikut juga ke banda, namun inenya memang bersikeras untuk mengunjungi damar, ia ingin memberikan petuah-petuah kepada menantunya itu.
Selama dalam perjalanan, Naya berusaha menguatkan hati dan dirinya akan kenyataan yang ia dapati nanti. Ia merasa bahwa damar tak berada di Banda. Walau begitu ia tidak menampakkan gurat-gurat kekecewaan dan kekhawatiran pada ine dan kedua mertuanya.
Tepat pukul 07.00 wib, mereka tiba di dermaga lampulo, Banda Aceh. Sesampainya, ada seseorang yang memang sudah tiba untuk menjemput mereka berempat, sebab satu hari sebelumnya, abi, mertuanya sudah memberikan kabar pada kerabat dekat yang ada di Banda kalau mereka akan berkunjung ke batalyon.
Butuh waktu 15 menit dari dermaga lampulo menuju ke Batalyon angkatan Darat infanteri raider 112 banda Aceh. Dan disinilah mereka. Inayah yang mulai gemetar akan rasa khawatir sekaligus gugupnya, Ia meremati jari-jari tangannya sesekali membenahi cadar yang ia kenakan untuk menutupi rasa gugupnya.
"Abi dan umi kepusat informasi dulu ya nay, ne. Kalian istirahat saja disini." Tutur abi, mertuanya. Naya dan ine duduk pada ruang tunggu atau lebih tepatnya samping pos keamanan yang tak jauh dari gerbang Batalyon. Tak lama, selang beberapa menit kedua mertuanya kembali dengan raut menyesal.
"Maaf kan abi, nay. Damar sedang bertugas ke pulau Jawa, ia ditunjuk sebagai tim relawan untuk menangani bencana yang terjadi di pulau Jawa. Mungkin beberapa bulan lagi ia akan kembali." Tutur abi, begitu menyesal.
Naya tersenyum, mengelus pundak abi, mertuanya.
"Dan benar, pernikahan kalian belum terdaftar disini." Lanjut abi, mertuanya dengan raut wajah kecewa.
Deg.
Inayah yang saat ini bagai ditimpa bebatuan dan dihujani Duri, ia meringis. Raut wajahnya tergambar kecewa, setetes airmata menjatuhi kain cadar menandakan bahwa ia terluka. Bukan hanya terluka tapi teramat luka. Apa maksud damar dengan menikahi nya namun menyembunyikan pernikahan dengannya? Dadanya sesak. Sungguh, ia begitu pilu. Ia merasa terhina sebagai wanita.
Umi, mertuanya. Memeluk Inayah, mengelus bahu yang bergetar itu. Ya, Inayah menangis, terdengar sangat pilu.
Hiks... Hiks... Hiks...
"Ayo kita pulang! Tenangkan dirimu nay, tidak baik dilihat banyak orang disini." Ine yang diam saja sejak percakapan antara Naya dan mertuanya, mulai ikut menenangkan. Ine tau Naya terluka dan kecewa.
Naya membawa kembali kecewa nya dalam perjalanan pulang ke pulau bereuh.
Sungguh... Dimanakah letak salahku?
Hingga menanyakan kabar ku kau pun enggan?
Kau anggap apa pernikahan kita?
Bukankah kau yang pinta?
Kau yang tiba-tiba hadir dan kau pula yang tiba-tiba menghilang?
Sungguh... Aku terluka.
#flasback off
#dermaga lampulo, kuta Alam, Banda aceh