
Pendidikan anak usia dini, jurusan yang diambil oleh Inayah. Sudah sejak kecil ia memiliki cita-cita menjadi guru. Ia yang penyayang dan penyuka anak-anak, ditambah dengan kesabaran nya menjadikan ia pun disukai oleh anak-anak. Setelah kepulangan nya, ia pun dipadatkan kembali dengan kesibukan bimbingan skripsi nya yang harus diselesaikan tahun ini juga, itu menjadi target nya.
Inayah ingin sebelum usia nya genap 25 tahun, ia sudah bekerja. Dan sebenarnya, dukungan abah dan mamah ratih untuk nya membangun Raudhatul Athfal atau dikenal RA sudah ia dapatkan. Dana kucuran dari kedua orang tua nya juga sudah didapatkan, sekarang tinggal kesiapan Inayah memanajemenkan nya saja.
Perjalanan menuju ruang dekan dari gerbang kampus memang cukup memakan waktu, sesekali Inayah melirik jam tangan berwarna merah maroon kesukaan nya. Siang ini begitu gerah, cuaca kota Banda memang sedang masuk musim panas. Beruntung nya ia sempat membuat lemon jus dengan madu yang ditambah es di dalam termos mini nya. Minuman penyegar dikala dahaga melanda.
Bruuukkk
Buku-buku panduan skripsi berjatuhan, tabrakan yang tak disengaja nya pun tak terelakkan. Inayah terburu ketika waktu yang ia miliki berkurang 10 menit dari janji nya pada sang dosen. "Maaf, maaf, maaf". Masih tertunduk dengan mengumpulkan barang-barang yang berjatuhan di lantai keramik itu. Sepasang tangan memberikan beberapa buku nya, Inayah menaikkan pandangan nya.
Alis nya mengerut.
"Kamu mengikuti ku". Suara maskulin mengintrupsi dengan pede nya.
"Hah?".
"Kamu inayah kan. Mahasiswi KKN di kabanjahe".
"Maaf kita tidak saling mengenal untuk sampai tahap mengikuti mu, permisi".
Ia pun berlalu sebab sudah sangat terlambat untuk bertemu dosen pembimbing nya.
#####
Beberapa jam berlalu, semua terselesaikan dengan baik. Walau sempat diburu waktu, beruntung sang dosen tidak mempermasalahkan.
"Tunggu...".
Inayah menghentikan langkah nya. Menunggu seseorang dibelakang nya untuk melanjutkan ucapan.
"Kenapa kamu menghindar?".
Membalikkan badan nya dengan anggun.
"Anda bicara dengan saya?".
"Kamu lupa dengan saya? Saya Entrepreneur yang di undang pihak kampus di kabanjahe bulan lalu".
Inayah menundukkan pandangan nya.
"Saya masih ingat".
"Lalu kenapa kamu acuh?".
"Saya pikir kamu adalah laki-laki yang taat, laki-laki yang mampu menjaga aurat. Terlihat dari pakaian mu dan cara mu bersikap. Tapi setelah beberapa kali, saya semakin yakin kamu bagian dari laki-laki ajnabi yang merindukan belaian. Maaf, saya harus kembali".
"Astaghfirullah....,"
Inayah segera beranjak dari kampus nya ketika matahari kian turun, sebentar lagi fardhu ashar menyambut.
#####
Muhammad Ramdani, orang terdekat nya banyak yang memanggil nya Ramdan. Ini pertama kali nya ia di pertemukan dengan perempuan bernama Inayah yang bersikap acuh pada nya. Tiga hari ini ia mendapat panggilan seminar di beberapa kampus termasuk kampus Inayah.
Bertemu kembali dengan wanita shalihah itu, meyakinkan bahwa ia harus mengenal nya lebih dekat lagi. Walau sangat sulit sebab semua pesan dan panggilan telepon nya selalu diabaikan. Ia tersenyum ketika mengingat betapa kekanak-kanakan sikap nya.
"Namanya Inayah Qolby, Jurusan Pendidikan Anak Usia Dini, Semester akhir. Sedang menyelesaikan skripsi nya. Ada yang bapak ingin ketahui lagi?".
"Alamat nya? Boleh saya tahu". Wajah nya mengharap, pupil nya yang teduh membuat si lawan bicara tidak bisa menolak.
"Baik, terimakasih. Semoga hari mu menyenangkan".
#####
Ting.
Satu pesan kembali menghampiri handphone miliknya. Ia mengabaikan.
"Nay, handphone mu dari tadi bunyi loh".
Mamah Ratih mendekati Inayah yang masih terlihat sibuk dengan berkas-berkas dan laptop nya.
"Biar aja mah, mungkin orang iseng. Atau mungkin grup kampus".
"Coba dilihat dulu, siapa tahu penting nay".
Terlihat Inayah menarik nafas nya kemudian menghembuskan nya dengan pelan.
Ia pun menuruti perintah mamah Ratih.
Assalamu'alaikum,,, boleh saya berkunjung besok? Maaf jika kamu sibuk.
Ramdan.
Huuufffhh
"Siapa nay?".
Inayah menggeleng. "Bukan siapa-siapa mah. Mamah istirahat gih, udah malam. Dedek syakil udah bobok?".
Mamah Ratih mengangguk.
#####
Hari minggu menjadi hari berkumpul nya keluarga. Abah, adik-adik tiri Inayah, mamah Ratih dan si kecil syakilla.
Terdengar suara deruan mobil parkir di depan rumah mereka.
Abah mengintip dari sebalik tirai. "Teman mu nay?"
"Hah?"
"Siapa bah?". Mamah Ratih menghampiri.
"Seperti nya laki-laki".
Kami saling pandang.
Inayah menggeleng-gelengkan kepala.
#####
Bersambung,,,,