
Hari Minggu pagi, Daniel yang kerja malam sudah pulang ke rumah. sudah di sambut oleh Hitto sang anak laki - laki, ayah nampak lelah habis kerja bagai kuda.
Akhirnya dirinya mengistirahatkan badannya, ayah masuk ke dalam kamarnya. Kamarnya selalu terkunci rapat dan kuncinya dibawa Daniel sendiri. Sang anak Hitto ingin mengajak ayahnya untuk mengobrol tapi tidak di bukakan pintunya segera.
"Ayah....Baik - baik saja kan yah?" Lirih Hitto sambil duduk di sofa.
Akhirnya Hitto pergi menuju ke rumahnya Felycia untuk mengajak Felycia jalan - jalan.
"Sayang....Aku nanti ke rumah kamu ya, kamu ada kan dirumah?" ucap Hitto sambil memainkan handphonenya.
^^^"Hai juga sayang....Aku ada di rumah nih, kenapa memangnya?" Tanya Felycia lagi.^^^
"Aku mau mengajak kamu jalan - jalan ke sebuah taman, sekalian aku mau ngomong sesuatu kepadamu kamu memakai baju yang sopan yaa yang tertutup. Aku otw ya mulai sekarang..."
Felycia yang mengetahui bahwa Hitto akan mengajaknya jalan - jalan ke sebuah taman, bergegaslah Felycia memakai baju yang tertutup dan sopan.
Hitto sudah membawa sekotak merah yang berisikan cincin untuk melamar Felycia.
Sesampainya di rumah Felycia, Hitto memanggil nama Felycia dan sudah di sambut oleh keluarganya dengan ramah.
"Eh...Hitto, mau manggil Felycia yaps?"
"Hehe....Iya Tante, Felycia ada tidak?"
"Ada...Tunggu sebentar yah..."
Hitto pun duduk di ruang tamu sambil melihat televisi.
Akhirnya Felycia pun turun ke bawah, dengan dandanannya yang sangat cantik sekali.
Beberapa menit kemudian, Felycia duduk di samping Hitto. Nampak jelas Hitto hatinya berbunga-bunga dan dag Dig dug.
"Wow...Cantik sekali dia, nikmat mana yang engkau dustakan Tuhan...." Lirih hati Hitto.
Felycia yang melihat Hitto melamun menggoyangkan pundak Hitto dan mencoba untuk bertanya - tanya.
"Hitto..."
"HITTO..."
Tiba - tiba Hitto terbangun dari melamun.
"E - eh sayang ada apa?"
"Dirimu ngapain ko melamun gitu...."
"A - anu, nggak apa-apa Felycia..."
Akhirnya mereka berdua pun pergi ke sebuah taman yang begitu sangat indah, ada danaunya
"Wahh...Hitto, ini tempat yang sangat indah sekali. Aku suka sekali tempat ini..." Felycia melihat taman sangat kegirangan sekali saking takjubnya.
"Kamu suka sayang?" Hitto yang melihat tingkah laku Felycia pacarnya.
"Felycia seperti anak kecil yang dikasih mainan..." Ujar Hitto di dalam hatinya
Beberapa menit kemudian mereka pun, ngobrol tentang masa depan bersama mereka berdua.
Hingga waktunya telah tiba, saatnya Hitto mengeluarkan sebuah kotak merah.
Hitto bilang sesuatu kepada Felycia, lutut kanan di tekuk dan kaki kiri di belakang.
"Felycia, sejak awal kita bertemu aku jatuh cinta kepadamu...Kamu pantas untuk menjadi istri aku dan ibu dari anak - anakku..."
"Felycia....Will You Marry Me?"
Felycia terkejut atas apa yang di lakukan oleh sang kekasihnya itu, dan betapa bahagianya Felycia berada di samping Hitto.
"Gimana sayang?" Ucap Hitto untuk memastikannya lagi.
"Sayang...Beneran ini?" Felycia masih terkejut dan masih belum percaya.
Dirinya menangis bahagia karena, sang pujaan hati Hitto melamar dirinya.
Air matanya yang menetes dari pipi Felycia cantik dan halus, kini ia mengelapnya.
"A -aku menerima lamaran dari kamu sayang..." ucap Felycia dengan terbata - bata.
"Beneran sayang?"
"Beneran sayang, aku menerima lamaran dari kamu..."
Hitto pun memasangkan cincin di jari manis sebelah kiri.
Kali ini Felycia menangis terharu, sang doi akhirnya melamar dirinya dengan sedikit agak kaget dan terkejut tidak menyangka akhirnya sampai di titik ini.
Akhirnya mereka resmi jadi calon suami dan calon istri, mereka sama - sama saling mencintai dan menyayangi.
"Terimakasih Tuhan...Sudah mengirimkan aku seorang bidadari yang begitu sangat cantik...."
Felycia yang berada di samping Hitto nampak tersipu malu salah tingkah di buatnya.
Hitto mengantar Felycia kembali ke rumahnya dengan selamat dan memberitahukan kepada keluarganya Felycia.
...****************...
Hitto kembali ke rumahnya, di rumah sudah ada ayah yang menanti sang putra.
"Haii nak...kamu habis darimana?"
"Ayah ingin nikahi Felycia gimana nak?"
Tiba - tiba saja Hitto sang anak pun kaget dan mulai marah dengan Mata yang melotot.
"APA...Aku nggak mau kasihkan dia untuk ayah..."
"Kenapa memangnya nak?"
"Ya...karena aku udah melamar Felycia duluan, jadi aku yang bakalan nikah sama Felycia..."
"Ya sudah deh nak gak apa - apa deh...Bagi dua aja ya kalau begitu..."
"Idih...bagi dua, pokoknya setelah aku nikah aku mau kontrak aja daripada ikut sama ayah bahaya yang ada..."
Ayah pun hanya bisa terdiam melihat sang putra berbicara seperti itu kepadanya.
Hitto masuk ke dalam kamarnya karena sudah muak terhadap ayahnya yang ingin merebut Felycia dari Hitto, di banting lah pintu kamar Hitto.
"BRAK..."
Ayah pun terkejut dan menatap ke arah suara tersebut, ternyata arah tersebut dari kamar sang anak Hitto.
"Apakah aku berbuat salah kepadanya?" Ayah menyesali atas perbuatannya.
Ayah mencoba untuk datang menghampiri Hitto dan mengetuk sebuah pintu.
"Tok..."
"Tok..."
"Tok..."
Hitto berteriak-teriak kepada ayahnya.
"PERGI AYAH....AKU MASIH BENCI SAMA AYAH...."
"Nak...Maafkan ayah nak, ayah tidak tahu lagi harus bagaimana. Ibu kamu sudah meninggal dunia...."
"KENAPA AYAH TIDAK MENYUSUL BUNDA SAJA! POKOKNYA HITTO BENCI SAMA AYAH!"
Ayah pun hanya bisa terdiam dan pasrah, dia juga benci sama dirinya.
"Maafkan aku nak...aku nggak mau seperti ini, aku sayang sama kamu Hitto..." Lirihnya
Ayah kembali ke kamarnya untuk menangis juga, dan menyesali perbuatan terhadap dirinya.
Beberapa menit kemudian, Hitto pun keluar dari kamar untuk makan siang. Disitu ada Kaka yang sedang memasak di dapur.
Kali ini pakaian sang Kaka tertutup sempurna, dan sudah bertaubat tidak melakukan hal tidak senonoh.
"Heyy Hitto...Mau makan?" Tanya Kaka.
"Hehe...Iya nih ka, ada makanan tidak?"
"Nihh...makanannya ada di Tudung saji..."
Di sela makanan, sang Kaka bertanya soal suara tadi.
"Hitto....Apakah kamu berantem lagi sama ayah kamu?"
Hitto yang sedang makan pun tersedak.
"Uhuk..."
"Uhuk..."
Kaka yang mengetahui Hitto tersedak, dirinya langsung membawakan air putih untuk Hitto.
"Ehh maaf...Nih air putih..." Kaka menyerahkan air putih ke Hitto.
Langsung Hitto minum sampai habis.
"Glek..."
"Glek..."
"Ah..."
Tersedak nya pun sudah hilang.
"Kenapa Kaka tanya gitu?"
"Soalnya, suara berantem kalian terdengar sampai dapur dek..."
"Hehe..." Hitto hanya tertawa kecil.
"Ceritakan aja sama Kaka..."
Akhirnya Hitto pun menceritakan semua apa yang dialami olehnya.
"Astaga...jahat bener ayahmu ingin merebut Felycia dari kamu, kamu harus tetap lindungi dia yaa dek..."
"Iya siap Kaka... Terimakasih kaa sudah mendengarkan curhatan aku..."
"Sama - sama dek, kalau ada apa - apa bilang ke Kaka yaa..."
"Siap Kaka, aku bantuin beres - beres rumah yah..."
"Bolehh...Anak rajin kamu dek, sifat kamu seperti bunda kamu. Lemah lembut, sopan dan ramah..."
"Hehe..."
Hitto pun beres - beres rumah, yang isi rumahnya lebih besar dan lebar lagi. Dirinya beres - beres mulai dari ruang tamu sampai halaman belakang.
TO BE CONTINUED