I WANT TO BE WITH YOU

I WANT TO BE WITH YOU
CH 8 - MENCARI TAHU



Alya menyantap siomaynya perlahan. Matanya menatap kosong ke depan. Pikirannya sedang bercabang antara pekerjaan dan juga keluarganya. Bahkan dia tidak bisa tidur semalaman. Alya masih tidak menyangka dia akan bertemu lagi dengan cowok itu di bar. Sekarang dia bahkan sudah tahu rahasia terbesarnya. Lalu akankah cowok itu membeberkannya pada Mega? Alya tahu betul Mega orang seperti apa walaupun dia belum mengenalnya dekat.


Alya benci harus dipertemukan dengan cowok itu. Dan untuk apa cowok itu harus mengingatnya bahkan sampai menemuinya di bar? Apa dia cowok baik-baik? Tapi bagaimana mungkin cowok baik-baik sering pergi ke klub? Alya juga sempat mengamati dia bersama teman-temannya yang terlihat urakan.


Dan bukan hanya itu saja. Masalah keluarganyapun masih membebani pikirannya. Dia masih malas harus kembali kerumahnya. Walaupun dia yakin Papanya sudah kembali ke luar kota, dia sedang tidak ingin bertemu dengan Ibu tirinya. Wajahnya selalu saja membuat Alya mengingat saat Mamanya meninggalkannya dulu. Rasa sakit hatinya bahkan bertambah karena pernikahan Papanya dengan Ibu tirinya.


"Al..." Panggil Mira membuyarkan lamunan Alya.


"Apaan?" Tanya Alya bersungut.


"Lo kenapa lagi? Makan kayak orang sakit gitu, wajah lo juga kenapa ikutan suram gitu?" Mira mengamati Alya seksama.


Alya memalingkan wajahnya. "Apaan sih lo? Ini gara-gara kurang tidur tau."


"Semalem lo nggak tidur? Apa lo malah ngliatin gue tidur?"


"Ngapain gue ngliatin lo tidur?" Alya memasang muka malas.


"Terus ngapain semalem lo nggak tidur?" Tanya Mira. Jangankan dia tahu Alya tidur atau tidak, baru jam sembilan malam saja matanya sudah tidak bisa diajak kompromi. Bahkan jam berapa Alya kembali dari bekerja dan tidur di kamarnyapun Mira tidak tahu.


"Lo tahu kan kalo tiap malem gue nggak pernah tidur?"


"Seenggaknya lo tidur beberapa jam kan?"


"Beberapa jam gimana? Tiap hari gue mulai tidur jam tiga pagi." Protes Alya.


Mira mengerutkan keningnya. "Tapi lo nggak ada masalah lagi kan?"


"Nggaklah." Alya mengelak. "Emang hidup gue bermasalah banget ya?" Ujarnya. Tapi benar juga sih, hidupnya memang selalu dipenuhi masalah yang bahkan terasa tak kunjung berakhir.


"Awas kalo bohong!" Ancam Mira.


Alya menarik sudut bibirnya. Untuk sementara waktu dia tetap akan merahasiakan masalah cowok itu dari Mira. Menurutnya saat ini dia masih bisa menanganinya sendiri dan Mira tidak perlu tahu.


"Ah iya Al, gue lupa." Mira menepuk jidatnya sendiri.


Alya hanya terdiam menoleh.


"Tadi pagi Bibik bilang sama gue, Bunda lo nelpon ke rumah. Lo nggak bilang ya kalo lo nginep di rumah gue?"


Alya membuang nafas pendek. "Ngapain gue harus bilang?"


Mira melongo tak percaya. "Lo emang bener-bener yaa? Bunda lo tuh khawatir sama lo. Tau gitu gue bilang dari sore kalo lo nginep di rumah gue. Gue kan jadi nggak enak Al."


"Yaudah lah Mir, ngapain juga jadi lo yang nggak enak? Kan gue yang nginep di rumah lo."


"Al..."


"Diem deh, gue lagi makan nih." Potong Alya.


Mira menatap kesal pada sahabatnya. Untung saja, kesabarannya selalu berlipat saat dia menghadapi tingkah Alya yang memang keras kepala.


"Ah iya..."


"Apa lagi?" Kali ini giliran Mira yang memotong dengan sewot.


"Dih, galak banget sih lo Mir."


"Yang galak tuh lo apa gue Alya???" Tanya Mira kesal.


Alya hanya terkekeh. "Lo kan? Padahal gue mau bilang kalo gue libur kerja. Biasanya lo paling seneng kalo denger gue nggak kerja."


"Seriussss?" Pekik Mira.


Alya sedikit memundurkan wajahnya sambil menutup telinganya. "Pecah nih gendang telinga gue.."


"Lebay deh lo!"


Alya meringis.


"Tapi ngomong-ngomong tumben lo libur?" Mira penasaran.


"Pengen libur aja, tangan gue juga masih sakit." Jelas Alya. Dia memang sengaja meminta libur kerja dua hari. Dio yang memintakan ijin pada bosnya sehingga Alya bisa mendapat libur cuma-cuma. Maklum saja, Dio adalah karyawan sekaligus bawahan kesayangan bosnya.


Alya ingin membiarkan luka di telapak tangannya mengering terlebih dahulu agar tidak menganggu pekerjaannya, selain juga karena dia ingin menetralkan keadaannya sejenak setelah bertemu dengan cowok yang hampir menabraknya itu. Dia benar-benar takut jika rahasianya akan terbongkar.


Alya belum bisa keluar dari pekerjaannya karena tabungannya belum cukup banyak. Dia tidak ingin membebankan biaya sekolahnya yang lumayan mahal pada Papanya. Biaya hidup sehari-hari serta sekolah kedua adiknya saja sudah menguras seluruh gaji Papanya yang hanya bekerja sebagai karyawan swasta di perusahaan kecil. Sekalipun kadang dia membenci Papanya, tetap saja dia tidak tega melihat kondisi keuangannya sekarang ini.


"Sekali-kali lo memang harus libur." Kata Mira langsung setuju.


Alya manggut-manggut. "Tapi Mir, nanti malem gue nginep rumah lo lagi ya?"


Mira langsung menatap Alya selidik. "Lo masih nggak mau pulang?"


"Mumpung gue libur juga kan? Jarang-jarang lho gue mau nginep rumah lo."


"Gue sih nggak masalah, asal lo bilang sama Bunda lo."


Bibir Alya langsung mengerucut seketika. "Iya Mir, gue tahu."


"Gitu dong..." Senyum Mira mengembang. "Eh, Mega cs lewat tuh! Jangan-jangan mau berantem lagi." Bisik Mira beralih menatap tiga orang cewek yang tengah berjalan menuju kantin.


Alya menoleh, kedua matanya kini juga beralih menatap Mega dan dua orang temannya. Mereka terlihat sinis dan angkuh. Alya jadi bergidik. Cewek seperti dia, bagaimana jika suatu saat tiba-tiba dia tahu rahasianya dari cowok itu dan membongkarnya? Dia pasti tidak akan tinggal diam, bagaimana kalo dia membeberkan ke seluruh sekolah? Nasibnya di sekolah ini bisa terancam.


"Al.." Mira menyenggol tangan Alya yang sedang menatap Mega cs tanpa berkedip.


"Eh.. Apa?" Tanya Alya terkejut. "Ada apa lagi?"


"Kok bengong sih, nggak biasanya lo ngliatin Mega kayak gitu."


Alya gugub. "Emangnya gue kenapa?"


"Tatapan mata lo, kayak ada sesuatu."


Alya mencibir. "Sesuatu apa? Kenal sama dia juga nggak."


"Kali aja suatu hari nanti lo kenalan."


Alya langsung melotot. "Makasih, mending nggak! Lagian mana mau cewek kayak dia kenalan sama gue?"


Mira terkekeh. Benar juga sih! Mira langsung menyetujuinya walaupun sebenarnya dia masih tidak yakin dengan tatapan Alya. Alya tidak biasanya menatap orang seperti itu, dia cenderung cuek dan tidak peduli. Lalu apa yang sebenarnya terjadi dengan Alya?


---- BWY ----


Malam ini Erosh pergi ke Logo. Gara-gara pertemuannya dengan cewek yang sempat hampir ditabraknya itu, dia benar-benar dibuatnya penasaran. Dia keheranan mengapa cewek itu bekerja di bar, bukannya dia masih sekolah? Dan bukan hanya itu saja, cewek itu terlihat berbeda dan membuat Erosh ingin mengenalnya. Dia sendiri juga bingung, dari sekian banyak cewek yang dikenalnya dan bekerja di bar ini, dia satu-satunya yang membuat Erosh ingin tahu semua tentangnya. Apa dia begitu istimewa di matanya?


Erosh memilih duduk di depan konter. Dia pasti bisa melihat cewek itu dengan jelas dari tempat duduknya sekarang.


"Biasa aja Yo." Jawab Erosh. Dia mengenal baik bartender yang bernama Dio itu.


"Oke bos." Dio beraksi dengan botol-botol minumannya dan beberapa saat kemudian Erosh sudah menerima pesanannya.


"Sendirian aja?" Tanya Dio. Malam ini bar tidak seramai biasanya jadi Dio bisa lebih bersantai.


Erosh mengangguk sambil menikmati Blue Hawainya.


"Mega kemana?" Tanya Dio lagi.


Erosh melirik ke arah Dio. "Gue lebih seneng kalo dia nggak muncul di dekat gue."


Dio tertawa mendengar jawaban Erosh. "Udahlah bos, kenapa nggak sama dia aja? Mega cantik, pinter bergaul, tajir lagi."


"Kalo gitu lo aja yang sama dia."


"Bisa digorok istri gue nanti!"


Giliran Erosh yang tertawa mendengar jawaban Dio.


"Dia naksir berat sama lo. Hampir setiap dia ke sini pasti hal yang ditanyakan ke gue lo. Dia pikir gue emaknya kali?"


"Cewek sinting! Bilang aja gue udah nggak di bumi."


Lagi-lagi Dio tertawa.


Erosh menyerutup minumnya lagi. Kedua matanya masih terus mencari sosok yang dia cari. Erosh yakin dia pasti akan muncul di sini, mungkin sebentar lagi.


"Lo ngliatin apa?"


Erosh beralih menatap Dio di depannya."Nggak ada."


"Alah, udah deh, nggak usah bohong, gue tau dari tadi mata lo ini melirik ke kanan kiri. Nyari gebetan baru?"


"Sialan lo!"


Lagi-lagi Dio terkekeh. "Mau cari yang kayak gimana lagi sih Rosh, Mega itu sempurna buat lo."


"Udah deh, jangan sebut nama itu, gue bosen."


"Jadi itu alesan lo nyari gebetan baru? Karena bosen sama Mega?"


"Terserah lo deh Yo." Jawab Erosh malas. Dia masih celingukan mencari cewek yang sejak tadi ditunggunya namun tak kunjung muncul. Ah iya, Erosh sampai tidak terfikir untuk bertanya pada Dio. "Yo, gue mau nanya sesuatu."


"Nanya apa?"


"Lo pasti tau salah satu cewek yang kerja di sini." Ujar Erosh.


Dio mengerutkan kening sambil tangannya sibuk dengan gelas-gelas di depannya. "Cewek?"


"Dia waiters, lumayan tinggi, berponi miring... dan cantik." Jelas Erosh.


Dio mengingat satu per satu waiters yang bekerja di bar ini dan mencocokkan ciri-cirinya seperti yang Erosh sebutkan. "Rata-rata sih mereka cantik, tinggi... emm berponi miring?" Dio mencari siapa waiters yang rambutnya berponi miring.


"Dia anak SMA." Tambah Erosh.


Dio mendadak kaget. Untung saja, gelas yang dipegangnya tidak terjatuh. "Dari mana lo tau Alya anak SMA?" Tanya Dio kemudian. Hanya Alya satu-satunya waiters yang masih berstatus pelajar.


"Jadi namanya Alya?" Erosh memastikan.


"Lo tau dari mana Rosh?" Dio mengulang pertanyaannya. Selama ini tidak ada seorangpun yang tau jika Alya adalah anak SMA. Dio merekrut Alya diam-diam karena Alya yang memintanya dan dia sangat butuh pekerjaan.


"Gue pernah liat dia pakai seragam sekolah." Jawab Erosh santai.


Dio mengulum bibirnya sedikit khawatir. "Karena lo udah terlanjur tau, gue minta rahasiain ini dari siapapun Rosh. Dia butuh kerjaan ini." Pintanya. Dio sudah berjanji pada Alya tidak akan memberitahukan rahasianya pada siapapun. Lagi pula standar kontrak kerja di bar inipun melarang pekerjanya berstatus pelajar.


Erosh menatap Dio penuh tanya. "Okee, no problem... Lagi pula gue nggak mempermasalahkan latar belakangnya. Jadi lo tau Alya?" Tanya Erosh.


"Gue kenal baik Alya. Kenapa lo tanya tentang Alya?"


Erosh bergumam. "Gue pengen tau aja."


"Pengen tau tentang Alya?" Selidik Dio. "Lo naksir Alya?"


"Gue cuma pengen tau." Erosh mengelak.


"Alya anak baik-baik. Jadi lo nggak boleh main-main sama dia." Tandas Dio.


"Gue tau Yo.."


"Jadi itu alesannya lo nolak Mega?" Tanya Dio kemudian.


"Dia lagi dia lagi." Jawab Erosh kesal. "Gue emang nggak ada rasa sama dia, bukan gara-gara Alya."


"Ya tapi tetep kan, lo suka sama Alya?"


"Gue cuma pengen tahu dia aja." Jawab Erosh juga tak yakin pada dirinya sendiri.


"Tapi sorry, gue cuma bisa ngasih tau namanya, karena informasi karyawan di sini adalah privasi mereka." Jelas Dio. "Kalo lo pengen kenalan, langsung aja ke orangnya."


"Gue paham Yo. Thank you." Ucap Erosh. "Jadi dimana Alya sekarang? Kok gue nggak ngliat dia dari tadi."


"Oh, dia lagi libur, lusa baru balik kerja lagi." Jelas Dio.


"Libur?"


"Dia jatuh, tangannya terluka. Jadi nggak bisa kerja maksimal, makanya dia ngambil libur dua hari."


"Jatuh?" Tanya Erosh lagi. Setaunya tangannya terluka karena dia hampir tertabrak mobilnya.


Dio mengangguk. "Iya, kenapa? Lo khawatir?" Godanya.


Erosh hanya diam tak menanggapi. Pikirannya justru tertuju pada Alya. Dia bahkan berbohong pada Dio jika tangannya terluka karena jatuh, bukan karena ditabrak oleh cowok tak dikenal. Mengapa sepertinya cewek itu menghindarinya? Apa Alya terlalu marah karena hampir saja dia menabraknya? Atau mungkinkah dia takut rahasianya terbongkar?


"Bos?" Dio membuyarkan lamunannya. "Kenapa? Mikirin Alya?"


"Enggak lah!" Jawab Erosh bohong.


"Lagak lo! Awas kalo jatuh cinta sama dia." Dio menyumpahi.


"Itu urusan gue dong." Erosh langsung menyahut. Satu pertanyaannya sudah terjawab. Dan sekarang dia benar-benar ingin mencari tahu lebih dalam mengenai Alya. Tidak bisa dipungkirinya lagi bahwa dia memang penasaran dengan cewek itu.


---- BWY ----