
Mira keheranan melihat sahabatnya yang sedari pagi hingga pulang sekolah ini lebih banyak terdiam tidak seperti biasanya. Mira pikir gara-gara pelajaran di sekolah tadi, tapi sampai diakhir pelajaran inipun dia masih tak banyak bicara.
"Sebenarnya ada apa sih Al?" Mira mengubah posisi duduknya menatap Alya. Alya sendiri di sampingnya sedang berpangku tangan menatap ke depan. Mereka masih di dalam kelas usai bel pulang sekolah.
"Nggak ada apa-apa." Jawabnya tanpa menoleh.
Mira mencibir kesal. "Dari tadi bilangnya nggak apa-apa tapi masih aja diem terus!"
"Kenapa? Kangen gue ledekin?" Tanya Alya tersenyum miring pada Mira.
"Kalo gitu mending lo diem aja deh dari pada ngledekin gue!" Mira cemberut.
Alya terkekeh, ini pertama kalinya setelah sejak pagi tadi dia tidak berekspresi apapun.
"Hari ini gue nginep rumah lo ya Mir!" Ujar Alya tiba-tiba.
"Serius?" Mira menatap Alya tidak percaya. "Beneran kan Al?"
"Iyaaa." Alya meyakinkan.
Mira kegirangan. Dia sering meminta Alya tidur di rumahnya tapi selalu Alya tolak. Alasannya karena dia harus bekerja dan pulang dini hari. Dia tidak enak kalo harus membangunkan Mira. Sebenarnya sih Mira sendiri tidak keberatan karena selama ini dia hanya tinggal berdua dengan Papanya ditambah satu pembantu rumah tangganya. Dan Papanya lebih sering tidak pulang ke rumah karena harus mengurus pekerjaan di luar kota.
"Nanti lo bawa kunci sendiri aja kalo berangkat kerja. Takutnya gue atau Bibik nggak denger kalo lo pulang." Ucap Mira semangat.
Alya hanya tersenyum mengangguk.
"Tapi Al," Mira menggantungkan ucapannya.
Alya melirik ke arah Mira. "Kenapa?"
"Lo serius nggak ada masalah apa-apa?" Lanjut Mira dengan hati-hati.
Alya menghela nafas, dia tidak tahu harus memberi jawaban apa pada Mira. Pada kenyataannya hatinya memang sedang dalam suasana tidak baik karena perdebatan dengan Papanya semalam, tapi Alya malas membahasnya, terlebih lagi dia sudah sering bercerita pada Mira tentang masalah keluarganya.
Mira terdiam masih menunggu jawaban dari Alya. Setahu Mira hanya ada dua hal yang akan mengganggu pikirannya dan membuatnya murung, satu masalah di rumahnya dua masalah di tempat kerjanya. Ya, hidup Alya hanya dipenuhi dua hal itu, bahkan sekolahnya saja jarang dia pikirkan.
"Masalah seperti biasanya, nggak usah di bahas." Jawab Alya akhirnya.
"Sabar yaa Al." Mira mengusap bahu Alya pelan. Dia sudah menduga jika Alya sedang ada masalah dengan keluarganya. Mira tahu hubungan antara Alya dan Ibu tirinya tidak berjalan baik. Hal itulah yang sering menjadi pemicu perselisihan diantaranya.
Mira sendiri sudah sering menasehatinya untuk tidak terlalu mempermasalahkan Ibu tirinya yang menurut Mira, sepertinya Ibu tirinya itu bukan orang yang sering berbuat jahat seperti cerita orang-orang pada umumnya. Mira pernah bertemu beberapa kali dan memang begitu adanya. Tapi memang dasar Alya yang keras kepala, dia tidak pernah mau tahu jika sudah terlanjur membencinya.
"Makasih ya Mir."
Mira mengangguk dan tersenyum. "No problem, don't be sad!" Ucapnya memberi semangat.
Alya tersenyum datar. "Balik yuk, gue laper!" Lanjutnya beranjak dari tempat duduknya.
"Kita makan di rumah yaa, nanti gue suruh Bibik masakin tumis kangkung kesukaan lo.
"Gue maunya lo yang masak." Sela Alya.
"Boleh aja kalo lo mau makan tumis kangkung gosong asin." Mira sadar diri dengan kemampuan memasaknya.
"Enggak ah, ntar gue masuk rumah sakit lagi."
"Ngledek banget sih!"
"Katanya kangen gue ledekin? Udah yuk balik!" Alya melangkah duluan meninggalkan Mira.
"Tungguin!" Teriak Mira. "Kebiasaan banget sih ninggalin gue."
Alya tidak menjawab, membiarkan sahabatnya menyusul langkahnya dengan kesal.
---- BWY ----
Sementara itu Erosh dan Arga sedang menunggu seseorang di dalam mobil yang terparkir agak jauh dari gerbang sekolah dengan sebuah identitas yang terukir jelas bertuliskan SMA ANDROMEDA.
"Lo mau ngajak gue bunuh diri?" Protes Erosh begitu membuka mata dan tersadar bahwa dirinya ada di tempat yang tidak seharusnya. Dia memang tertidur selagi Arga menyetir tadi. Dan tujuannya adalah pergi ke bengkel, bukan ke tempat ini.
"Tenang aja bos, mereka nggak bakal ngenalin kita." Jawab Arga dengan santainya.
"Kenapa janjiannya harus di sini? Lo kan bisa ketemu di luar." Erosh menatap Arga kesal. "Dan gue nggak perlu ikut!"
"Gue cuma mau ngasih ini doang Rosh, bentar aja kok. Emangnya lo mau gue turunin di jalan?" Arga membela diri sambil menunjukkan kotak berwarna maroon ukuran sedang yang dipegangnya.
"Kalo gue tau lo mau ketemuan, mending gue turun di jalan!"
"Bukan ketemuan, cuma mau ngasih hadiah doang Rosh." Jawab Arga, dia agak heran melihat tingkah Erosh yang mendadak sensi. "Lagian gue nggak ada waktu lagi, dia mau pemotretan di luar kota."
"Emangnya harus dikasih sekarang?"
"Gue udah janji Rosh."
"Terserah lo deh!" Erosh akhirnya mengalah dan memilih menyibukkan diri dengan ponselnya. "Inget ya, kalo sampe kita ketahuan, lo bakal gue gantung!" Ancamnya.
Arga justru tertawa mendengarnya. "Siap bos! Tapi, ngomong-ngomong lo lebih takut ngadepin cewek ya dari pada Alex yang serem itu?"
"Sialan!" Erosh meliriknya sinis.
Beberapa menit kemudian yang ditunggu datang. Seorang cewek berseragam SMA, berparas cantik dengan tinggi semampai, dan memiliki mata yang indah menghampiri Erosh dan Arga. Cewek itu melambaikan tangannya dari luar kaca mobil, Arga segera menurunkan kaca mobil depannya.
"Erosh?" Cewek itu terkejut melihat Erosh ada di samping Arga.
Erosh melemparkan senyum pada cewek itu. "Hai Rin.."
Cewek yang dipanggil Rin atau lengkapnya Karina itu tersenyum. "Gue pikir Arga sendirian aja."
"Dia mana berani Rin." Jawab Erosh yang langsung disambut pelototan Arga.
Karina terkekeh. "Kalian udah lama?"
"Belum kok." Arga mewakili. "Oh iya, ini buat lo." Katanya sambil menyerahkan kotak yang sedari tadi dibawanya tanpa basa-basi.
Karina menerimanya dengan senang. "Makasih ya Ga."
"Sama-sama." Arga sumringah, sepertinya Karina menyukai hadiah yang diberikannya.
Erosh yang tengah menatap kedua insan ini terpisah jarak diantaranya langsung merasa tak enak diri. Harusnya gue nggak di sini. Pikirnya, dan dia langsung menyalahkan Argayang telah membawanya ikut
bersamanya.
"Um, yaudah gue balik sekarang yaa, nanti gue telpon." Pamit Karina melemparkan tatapannya pada Arga.
"Lo nggak nebeng sekalian Rin?" Tawar Erosh basa-basi.
"Makasih Rosh, tapi gue dijemput sopir dan buru-buru mau ke Malang, ada pemotretan."
Erosh manggut-manggut.
"Makasih Ga. Kalian berdua mau langsung balik? Atau..."
"Iya Rin, gue spesial nganter Arga ketemu lo." Goda Erosh.
"Sebenarnya dia seneng sih nganter gue, biar sekalian ketemu gebetannya."
Erosh langsung menatap Arga kesal.
Karina mengernyit sesaat dan... Ah ya, dia ingat kalo Mega dekat dengan Erosh. Dia ketua geng cewek sinting yang melabraknya tempo hari karena dia dekat dengan Arga. Karina pastikan kalo sampe Mega cs tau dia sedang bersama Erosh dan Arga, mereka akan langsung bertingkah gila lagi. Tapi bodo amat sih! Pikir Karina kemudian. Toh bukan dia juga yang memintanya.
"Lo mau digantung beneran?" Erosh mengancam Arga untuk kedua kali.
"Gue hampir aja lupa kalo lo cowoknya Mega." Arga tertawa lebar mendengar penuturan Karina, merasa dirinya telah mewakilkan pembalasan ejekan Erosh tadi.
"Yah, terserah lo berdua deh." Erosh memandang dengan muka malas.
Karina menautkan alisnya heran. "Tapi kalo Mega tau lo di sini.."
"Kalo sampe ketahuan, Arga yang bakal gue gantung!"
Karina tertawa, "Gue rasa dia emang tergila-gila sama lo Rosh." Dia tahu betul Mega sering membangga-banggakan diri sebagai ceweknya Erosh. Kasian juga cewek itu. Batinnya.
Erosh tidak terkejut. Dia bahkan sudah hafal sifat Mega. "Biarin aja Rin." Jawabnya tidak peduli.
"Kasian kan sahabat gue ini." Komentar Arga dengan nada mengejek.
"Lagian kenapa nggak lo kasih kesempatan aja sih Rosh?" Goda Karina.
"Tuh, gue bilang juga apa bos. Kesempatan!"
Erosh menghela nafas panjang, dia benar-benar kalah telak dari Arga dan Karina kali ini. Dia terdiam pasrah dan mengalihkan tatapannya ke depan.
"Yaudah deh gue balik dulu ya, gue harus buru-buru, lo berdua hati-hati!" Pamit Karina. "Yang tadi itu just kidding Rosh, lo nggak marah kan?"
"Lo berdua tunggu aja pembalasan dari gue!" Ancam Erosh membuat Arga dan Karina terkekeh lagi.
"Gue tunggu Rosh, bye..."
"Eh, tunggu!" Erosh mengagetkan Arga maupun Karina yang sudah bersiap melangkah pergi.
"Ada apa?" Tanya Arga melihat ekspresi terkejut terpancar dari wajah Erosh.
"Itu... Cewek yang kemarin kan?" Jawab Erosh tanpa menoleh. Dia menatap tajam ke arah dua orang cewek yang tidak asing di pandangannya sedang melintas.
"Cewek yang kemarin?" Ulang Arga. Dia dan Karina ikut menatap ke arah Erosh menunjuk dua orang cewek tadi.
"Mereka cewek yang hampir ketabrak itu kan?"
Arga hanya menatapnya, pasalnya dia tidak begitu paham dengan dua orang cewek yang memang hampir tertabrak mobilnya beberapa saat lalu.
"Hampir ketabrak?" Karina tidak paham.
"Iya, gue sama Arga hampir nabrak mereka kemarin." Jelas Erosh.
"Itu anak SMA Andromeda Rin?" Tanya Arga.
Karina mengamati dua cewek yang mulai melangkah jauh itu dengan seksama. "Iya, mereka anak sini, kayaknya satu angkatan sama gue. Tapi gue nggak tau namanya siapa, gue nggak kenal."
Erosh menyunggingkan senyumnya. "Jadi dia sekolah di sini." Gumamnya.
"Emangnya kenapa Rosh?" Tanya Karina penasaran.
"Nggak apa-apa Rin." Erosh masih tak percaya melihat cewek yang cukup membuatnya penasaran semenjak kejadian dia hampir menabraknya waktu itu. Erosh merasa wajah salah satu cewek itu tak asing diingatannya, seperti mereka pernah bertemu sebelumnya.
"Alah bilang aja lo suka kan?" Sentil Arga.
"Yang bener Rosh? Gue bisa cari tau tentang dia kalo lo mau." Tawar Karina.
"Nggak usah Rin." Tolak Erosh. "Nggak usah dengerin si Arga!" Dia meliriknya kesal.
Arga terkekeh. "Udah cariin infonya aja Rin, dia emang suka malu-malu gitu. Mendingan lo sama dia dari pada status lo nggak jelas sama Mega. Iya kan?"
Erosh langsung melayangkan tinjunya di lengan Arga. "Berisik lo!"
"Aduh!" Lumayan sakit sih, Arga sampai meringis mengelusnya.
Karina tertawa kecil melihat perdebatan antara dua orang sahabat itu.
---- BWY ----
Setelah selesei acara memberi hadiah pada Karina, gebetan Arga, dia dan Erosh menepi sebentar di sebuah kafe pinggir jalan untuk memesan kopi. Arga sedang mengobrol lewat telponnya dengan Karina sedangkan Erosh sendiri duduk di sampingnya sambil mengutak-atik HPnya.
"Jadi lo udah yakin sama Karina?" Tanya Erosh setelah Arga menutup telponnya.
Arga langsung tertawa lebar. "Menurut lo gimana bos?"
Erosh menyunggingkan senyum tipisnya. "Bagus deh! Jadi lo udah tobat beneran!"
"Sialan lo!" Balas Arga.
"Terus gimana nasib cewek lain yang lo PHP-in?"
Arga tahu yang dimaksud Erosh adalah Irin, dia memang sempat dekat dengannya, namun entah mengapa Arga sendiri lebih nyaman dekat dengan Karina. "Lo sendiri gimana? Lo masih betah ngadepin sikap Mega?" Arga balik bertanya. Dia heran bahwa sampe sekarang hanya Mega satu-satunya cewek yang bertingkah mesra terhadap Erosh. Padahal jika dia mau, ketampanannya bisa membuatnya mendapatkan lebih banyak cewek.
"Kalo bukan karena tante Elena, mungkin gue udah pergi menjauh dari dia."
"Udahlah Rosh, jangan terlalu dipaksain. Apa selamanya lo akan diem aja?"
"Gue nggak pernah maksain Ga, gue juga nggak pernah nyatain perasaan gue." Jawab Erosh.
"Kalo lo mau terbebas dari Mega, lo harus nyari cewek lain."
"Gue bukan lo!" Celutuk Erosh.
Arga mengernyitkan keningnya.
"Lo bisa aja suka sama banyak cewek dan deket sama mereka, tapi gue nggak. Belum ada cewek yang bisa bikin gue jatuh cinta." Jelas Erosh.
"Tapi lo bukan..."
"Sialan lo!" Potong Erosh cepat. "Lo pikir gue udah nggak normal?"
Arga langsung tertawa ngakak.
---- BWY ----