
HAPPY READING
AUTHOR BY AXRANS
****************
"Elena!"
"Elena!"
"Pa, Mega nggak mau sama Mama!" Kata gadis yang ada di sebelah laki-laki setengah baya itu meronta tak ingin masuk ke dalam rumah.
"Diam Mega!" Bentaknya sambil menyeret tangan Mega menuju ke ruang tengah. "Elena!" Panggilnya lagi.
Dari dalam kamarnya sayup-sayup Elena mendengar suara bariton yang menggema di dalam rumahnya. Dia buru-buru mendatangi suara itu.
"Elena! Dimana kamu!" Teriak laki-laki itu kembali memanggil nama Elena.
"Mas Bram..." Elena sedikit terkejut dengan kedatangan laki-laki itu. Setelahnya pandangannya tertuju pada gadis yang berdiri di samping Bram. Dia bahkan tak mau membalas tatapannya. "Mega, kamu pulang sayang."
"Berhenti berpura-pura di depanku Elena!" Hardik Bram.
"Apa maksud kamu mas?"
"Ah, sudahlah! Aku tahu akal busukmu dan anak kesayanganmu ini."
"Akal busuk apa? Kita bahkan baru bertemu mas."
Bram tersenyum menyeringai. "Kamu tidak usah menutupinya lagi! Apa masih kurang harta yang sudah aku berikan kepadamu? Kamu ingin lebih?"
"Kenapa mas Bram bicara seperti itu, aku tidak pernah meminta harta mas sedikitpun."
"Alah, kamu ini memang pandai bersilat lidah El!" Bram menatap Elena tajam. "Dari mana kamu bisa menempati rumah semewah ini, memakai pakaian mahal, berbelanja barang mewah? Semuanya kamu dapatkan dari hasil kerja kerasku Elena!"
"Kerja keras kamu bilang mas?" Ulang Elena. "Maksudmu kerja keras mencurangi Alfian?"
"Cukup El! Kamu tidak tahu apa-apa!"
"Itu kenyataannya mas."
"Diam kamu! Sekarang sudah cukup jelas, siapa dalang dibalik penggugatan perusahaanku. Pasti kamu telah bersekongkol dengan Alfian! Kamu yang telah membocorkan semua rahasiaku!"
"Kejahatan tidak akan pernah menang mas!"
"Tau apa kamu soal kejahatan! Urus sendiri perbuatan anakmu ini! Aku tidak mau ikut campur!" Bram menarik lengan Mega kasar hingga dia terhuyung ke arah Elena.
"Mas Bram!" Elena tidak terima putri semata wayangnya diperlakukan dengan kejam. "Kamu boleh membenciku, tapi jangan sakiti Mega."
"Lepasin Ma!" Kata Mega dengan kasar bahkan setelah Elena berusaha menolongnya.
"Dengar Elena, caramu menggunakan Mega sebagai umpan untuk memancingku sama sekali tidak berhasil!"
"Pemikiranmu sungguh picik mas."
"Siapa yang lebih picik Elena?! Bukankah sekarang kamulah yang bermaksud menghancurkan perusahaanku?"
Elena membuang nafas jengah, "Apa selama ini kamu hanya bisa menilaiku negatif mas? Bahkan terhadap anak kamu sendiri?"
"Tidak ada satu orangpun yang bisa dipercaya di dunia ini!" Tandas Bram.
"Termasuk kamu mas!"
"Diam kamu El! Memang benar wanita itu hanya membuat masalah, harusnya aku sudah menyingkirkanmu dan anakmu itu dari dulu!"
Plak!
Sebuah tamparan mendarat di pipi Bram dan membuat suasana semakin memanas. Beberapa detik kemudian suara tamparan keras terdengar lagi namun kali ini pipi Elena yang berubah memerah, Bram membalas tamparannya.
"Kamu pikir kamu bisa menghancurkanku El?" Bram menudingkan jari telunjuknya ke arah Elena. "Kalau sampai penyidik menyentuh perusahaanku, aku tidak akan segan-segan menghancurkan kehidupanmu dan anakmu!"
"Kamu takut bukan?"
"Aku tidak akan pernah takut!"
"Lalu untuk apa kamu mengancamku mas?"
"Mengancam? Aku benar-benar akan menyingirkanmu kali ini El, kamu tunggu saja!" Bram menatap Elena penuh kebencian kemudian melenggang pergi.
"Papa tunggu!" Mega yang sedari tadi terdiam menyaksikan pertengkaran kedua orang tuanya bergegas mengejar Bram.
"Aku bukan Papamu!" Bentak Bram menepis tangan Mega. "Aku tidak pernah punya anak! Jangan pernah menggangguku lagi!"
"Tapi Pa, Mega anak Papa."
"Diam kamu!"
"Papa..." Mega berusaha menghentikan langkah Bram tapi selalu ditepis olehnya bahkan dengan kasar Bram mendorongnya hingga Mega terhempas ke lantai.
"Papa tunggu!" Mega berusaha bangkit namun Elena segera menahannya. Dia tidak akan membiarkan Mega memohon-mohon pada laki-laki yang sudah mencampakkan dia dan anaknya.
"Mega cukup!"
"Lepasin! Lepasin Mega!" Ucapnya meronta di hadapan Elena. "
"Mega!" Bentak Elena bahkan kini tangannya sudah mendarat di pipi Mega.
Mega terdiam dengan tatapan kosong, ini adalah kali pertamanya dia mendapat sebuah tamparan dari Mamanya. Semarah apapun Elena dia bahkan tidak pernah membentaknya.
"Apa kamu belum sadar juga Mega?" Elena menatap putrinya yang masih tak bergeming. "Bukan Papa yang tidak bisa mencintai Mama, tapi Mama yang tidak akan pernah mau mencintai laki-laki seperti itu."
"Tapi Mama mencintai hartanya kan?"
"Kamu pikir untuk siapa semua harta ini? Bagaimana jika Mama menempatkanmu dalam kehidupan yang serba kekurangan?"
"Itu hanya alasan Mama aja kan?"
"Apa belum cukup semua yang Mama berikan ke kamu Mega? Kamu pikir siapa yang melindungi kamu dari kejaran polisi selama beberapa hari ini? Papa kamu? Apa yang sudah Papa kamu lakukan untuk kamu selama ini?"
"Setidaknya Papa mencukupi semua kebutuhan Mega!"
"Dari hasil korupsi? Mencurangi orang?"
"Nggak Ma! Papa nggak seperti itu!" Potong Mega tak terima.
"Kamu tahu Mega, siapa Alya sebenarnya? Orang yang kamu sakiti itu?"
"Cukup Ma! Jangan sebut nama dia lagi!"
"Kamu harus tahu!" Kali ini Elena menyela. "Semua harta kekayaan ini adalah hasil dari jerih payah Papa Alya yang Papa kamu curangi!"
"Omong kosong, jangan bicara bohong di hadapan Mega Ma!"
"Omong kosong?" Ulang Elena. "Bagaimana kalau duniamu yang mewah ini terbalik seketika menjadi dunia Alya yang sekarang? Bagaimana jika kenyataannya memang Alya yang seharusnya ada di posisimu? Apa yang akan kamu lakukan Mega?"
"Nggak! Nggak akan Ma! Mama bohong! Ini nggak bener!"
"Tentu saja kamu tidak akan dengan mudah menerima bukan?"
Mega terdiam pasrah, bibirnya bergetar, entah mengapa rasa takut kini justru menyerangnya. Bagaimana jika yang dikatakan Mamanya memang terbukti? Apa dia akan berubah menjadi Mega yang terbuang?
Elena menghela nafas menahan emosinya kemudian mendekati putrinya, dia mengelus lembut kepalanya. "Sebelum semuanya terlambat, kita bisa perbaiki semuanya. Ini kesempatan terakhir yang Papa Alya berikan untuk kamu."
"Nggak!" Mega menghardik, perasaan cintanya untuk Erosh terlalu besar hingga menguasai seluruh akal sehatnya. "Mega nggak akan melepaskan Erosh untuk Alya!"
"Cinta itu tidak untuk menyakiti Mega. Kalau kamu menyakiti orang yang kamu cintai, kamu akan membuat dia semakin menjauh."
"Mega nggak peduli Ma, Mega nggak akan mengalah! Cuma Erosh satu-satunya yang Mega cintai!" Ucapnya parau, kedua matanya memerah menahan emosi.
"Kamu tidak mencintainya, kamu hanya terobsesi dengan Erosh."
"Nggak, Mega nggak akan dengerin omongan Mama!"
"Kalau kamu memang mencintai Erosh, biarkan dia bahagia,"
"Kamu tidak akan menderita hanya dengan kamu membiarkan Erosh bahagia. Percaya sama Mama, kamu bisa lebih bahagia mencintainya." Elena menangkup pipi Mega yang kini basah air mata. "Apa selama ini Erosh bisa bersikap baik sama kamu dengan semua yang kamu lakukan?"
Tentu saja jawabannya tidak! Mega bahkan tak pernah mendapatkan sedikitpun balasan dari cinta yang selalu dia berikan pada Erosh.
"Erosh tidak bisa bersikap baik karena selama ini yang kamu lakukan hanya membuatnya terkekang."
Air mata Mega semakin mengalir deras mendengar ucapan Elena. "Kenapa Erosh tidak bisa melihat usaha Mega selama ini?"
"Benarkah kamu sudah berusaha? Kamu hanya membuat Erosh semakin membenci kamu dan dia semakin menjauh."
Mega terisak dan jatuh ke pelukan Elena. Semua yang dikatakan Elena benar, setiap hari kebencian Erosh bertambah dan dia semakin menjauh.
"Sebelum terlambat, buktikan sama Erosh kalo kamu memang mencintainya. Tapi bukan dengan mengekangnya melainkan dengan merelakannya bahagia. Mama yakin dia akan sangat bahagia dengan apa yang kamu lakukan."
"Maafin Mega Ma, Mega bersalah."
"Kamu tidak perlu minta maaf, belajarlah dari kesalahan Papa kamu. Tapi sayangnya dia memilih untuk tetap hidup dalam kesalahannya. Mama nggak mau kamu hidup dalam penyesalan. Mama ingin kamu bahagia, kamu satu-satunya harta yang paling berharga untuk Mama."
Kini keduanya saling terisak dan berlinangan air mata. Perasaan tulus dari seorang Ibu dan tak tergantikan yang mampu mencairkan keangkuhan seorang anak membuat suasana menjadi haru. Mega tahu betapa Mamanya sangat mencintainya, dia hanya tidak mau tahu karena kerasnya hatinya selama ini. Kebencian dan keegoisan yang selalu membelenggunya membuatnya hidup jauh dari perasaan yang lembut. Dan itu semua karena perasaan cintanya kepada Erosh dan Papanya tak pernah terbalaskan.
Sekarang dia sadar, bahwa mencintai itu bukan hanya tentang menunggu balasan dari orang dicintai tapi juga tentang pengorbanan. Bagaimana Mamanya bisa mengorbankan perasaannya kepada laki-laki yang menyakitinya hanya untuk dirinya. Begitu juga dia yang harus mengorbankan perasaannya untuk Erosh agar dia bahagia bersama seseorang yang dicintainya.
ㅡBWY ㅡ
"Papa tuh lebay, lagian ngapain sih lo nurutin kata-kata Papa gue? Harusnya lo kan masuk sekolah." Alya mengomel sementara Mira hanya terkikik, pasalnya dia memang lebih senang menemani Alya dari pada harus berangkat sekolah. Kali ini dia sedang merasa jengah dengan semua pelajaran di sekolah. "Emangnya nggak apa-apa lo bolos sekolah?" Tanya Alya.
"Bukannya lo sering gitu ya?"
"Itu kan gue, bukan lo! Lagian gue kan cuma balik ke rumah doang buat ngambil barang-barang Bunda. Ngapain harus dianterin coba?" Ucap Alya sembari masuk ke dalam rumahnya setelah mereka berdua pulang dari rumah sakit. Mira mengekor di belakangnya.
"Lo nggak denger tadi Papa lo bilang apa? Lo itu masih butuh pendamping. Gue di sini nggantiin posisi Erosh." Mira nyengir.
"Apa?" Alya mencibik. "Nggantiin dalam hal apa Mir?"
"Njagain lo dong!"
"Kalo ada musuh mendekat yang ada gue yang bakalan jagain lo!"
Mira meringis, "Iya sih." Dia memang sangat penakut dibandingkan Alya. Bahkan saat Papanya memarahinya saja dia akan langsung menangis. Mira memang lebih sensitif, apalagi semenjak Mamanya meninggal.
"Gitu mau jagain gue! Bilang aja lo males sekolah kan? Ketularan penyakit siapa lo?"
"Penyakit lo lah, siapa lagi?"
"Enak aja!"
"Eh, Al! Gue hampir lupa! Besok kan masa skorsinglo berakhir!"
"Terus?"
"Oh My God! Gue seneng banget dong, partner gue balik!"
Alya tersenyum lebar mendengar penuturan Mira, sebenarnya dia juga sudah menunggu waktu ini lama sekali. Apalagi setelah semua yang terjadi selama masa skorsingnya ini membuat Alya benar-benar tersadar untuk lebih memperbaiki diri lagi termasuk urusan sekolahnya.
"Malah bengong lo!" Mira mengagetkan.
"Apaan sih! Lo mau minum apa? Gue bikinin!" Tawar Alya.
"Nggak usah, udah sana buruan kemasi barang-barang Bunda. Kita kan janji cuma pergi sebentar."
"Iya, bawel sih lo sekarang!" Tukas Alya kemudian berlalu meninggalkan Mira di ruang tamu. Dia akan segera mengemasi barang-barang Nia untuk persiapan tinggal di rumah sakit beberapa hari ke depan. Dokter belum mengijinkannya pulang apalagi mengingat kondisi Nia setelah mengalami kelumpuhan pada kakinya.
Beberapa saat setelah Alya berlalu, Mira mendengar langkah kaki mendekat ke arah ruang tamu. Mira segera berdiri dan melongok ke teras. Benar saja, seorang perempuan paruh baya mendatangi rumah Alya.
"Permisi..." Perempuan itu menyapa dan tersenyum pada Mira setelah disambut kedatangannya.
Mira balas tersenyum, "Maaf mau cari siapa?"
"Ini benar rumahnya pak Alfian?" Tanyanya agak ragu karena melihat orang asing ada di rumah yang dia kunjungi.
"Ya benar, tapi pak Alfian sedang tidak ada." Jawab Mira sopan. "Sebentar saya panggilkan anaknya dulu."
"Siapa Mir?" Terdengar langkah kaki Alya mendekat.
"Em, ada tamu Papa lo Al."
"Siapa yang..." Alya berdiri mematung setelah kedua matanya melihat sosok yang kini ada di dalam ruang tamu bersama Mira.
Mereka saling menatap beberapa saat, "Alya..." Wanita itu memanggil lirih namanya.
Alya masih tak bisa membuka mulutnya, dia menelan salivanya berat. Jantungnya tiba-tiba berdebar kencang, nafasnyapun semakin berat.
Melihat perubahan pada wajah Alya, Mira terheran. Siapa wanita yang yang datang ini bahkan tahu nama Alya? "Em, Al, gue ke kamar lo ya." Pamitnya merasa tidak nyaman berdiri di antara Alya dan wanita itu.
Alya hanya memberi tatapan mengiyakan, kemudian beralih pada wanita itu. "Maaf, Papa saya sedang pergi. Anda bisa datang lain lagi." Ucap Alya ketus.
"Mama..."
"Jangan sebut diri Anda Mama saya!" Potong Alya cepat.
"Alya..."
"Untuk apa Anda kemari?"
"Mama minta maaf Al." Ucap wanita itu penuh penyesalan.
"Untuk apa? Tidak ada yang perlu dimaafkan."
"Mama tahu Mama salah sudah meninggalkan kamu."
Alya melengos, mengalihkan pandangannya. "Kalau begitu Anda bisa pergi selamanya. Saya tidak pernah mengharapkan kehadiran Anda lagi."
"Mama benar-benar minta maaf Al, Mama tahu mama salah, Mama benar-benar minta maaf."
"Lebih baik Anda pergi dari sini."
"Alya," Wanita yang mengaku dirinya Mama Alya itu melangkah mendekat pada Alya.
"Pergi!" Hardik Alya. "Itu kan yang Anda inginkan bertahun-tahun yang lalu." Kedua matanya memerah menahan amarah, hatinya pilu teringat semua masa lalunya.
Yessi terdiam di tempatnya dengan kedua matanya berlinang air mata, sekarang dia sadar seperti inilah rasa sakit yang harus diterima. Sama seperti orang-orang yang ditinggalkannya dulu. "Baiklah, Mama akan pergi. Mama hanya ingin meminta maaf."
"Baik, sudah saya maafkan. Anda bisa pergi sekarang." Ujar Alya.
Yessi tertunduk sedih, sepertinya Alya benar-benar membencinya. Seharusnya dia sadar sedari awal bahwa melakukan hal ini hanya akan sia-sia. Sudah terlalu terlambat baginya bahkan untuk meminta maaf. "Mama akan pergi Al, tapi asal Alya tahu, cinta Mama untuk anak-anak Mama tidak akan pernah berkurang sedikitpun."
"Kalau Anda menyayangi anak-anak Anda, Anda tidak akan pernah meninggalkannya bahkan dalam keadaan yang sangat sulit sekalipun!"
"Mama menyesal, Mama ingin kembali saat itu tapi Mama sudah terlambat Al."
"Harusnya Anda tahu bahwa keputusan sekecil apapun bisa merubah segalanya."
"Ya, Mama tahu sekarang." Yessi menghela nafas berat. "Mama tahu semuanya sudah tidak bisa berubah. Mama hanya ingin bilang kalo Mama tetap menyayangi anak-anak Mama dengan tulus. Mama yang melahirkan anak-anak Mama, merawatnya dalam kandungan selama sembilan bulan, Mama tidak bisa tidak menyayangi kalian semua. Mama juga merasa sakit saat kamu kesakitan."
Alya menggigit bibir bawahnya, mencoba menahan air matanya yang sudah menumpuk di sudut matanya. Kenapa semuanya harus terjadi sekarang? Di saat dia benar-benar ingin pergi dari masa lalunya, di saat dia ingin mengubur dalam-dalam kenangan pahitnya. Alya ingin membiarkannya tetap hilang agar semua terasa mudah untuk melupakannya tapi hatinya meronta.
Wajah sayu di hadapannya yang dia rindukan bertahun-tahun ini membuatnya ingin memeluknya. Kenapa justru kata-kata kasar yang keluar dari mulutnya? Bukankah dia sudah memaafkannya? Bahkan dia sudah menemukan kebahagiaan yang lebih, tapi mengapa kehadiran wanita ini justru membuatnya membenci semua yang terjadi sekarang.
"Mama akan pergi Al," Ucap Yessi pasa akhirnya. "Mama ingin kamu bisa lebih bahagia, Mama selalu berharap seperti itu. Mama lebih tenang sekarang, melihat kamu dengan seseorang yang bisa merawat kamu. Sekali lagi maafkan Mama."
Alya terdiam sementara Yessi memilih untuk berbalik pergi. Walapun Alya belum bisa memaafkannya, tapi setidaknya akhirnya dia bisa mengatakan permintaan maafnya.
"Mama pikir Alya bisa langsung bahagia seperti ini? Mama pikir Alya tidak pernah menanti Mama setiap hari seperti seseorang yang kehilangan harapan? Mama bilang Mama bisa tenang sekarang?" Teriak Alya lantang di balik sosok Yessi yang membelakanginya. "Kenapa Mama baru datang sekarang? Kenapa Mama harus datang saat Alya sudah bisa melupakan semuanya?" Air mata mengalir deras membasahi pipinya.
Tubuh Yessi bergetar, tak sanggup menahan air matanya yang kembali mengalir deras. Dia berbalik dan memeluk Alya mencurahkan kerinduannya yang terpendam selama ini. Rasanya sudah tak tertahankan lagi. Alya pasrah menerima pelukan dari orang yang paling dirindukannya. Dan diam-diam sedari tadi ada seseorang yang ikut menangis haru bahagia melihat mereka berpelukan saling memaafkan. Mira menatapnya dari balik pintu kamar Alya.
ㅡBWY ㅡ
***************
JANGAN LUPA LIKE, COMMENT, DAN VOTE BIAR AUTHOR SEMAKIN SEMANGAT BUAT UPDATE SETIAP HARI ❤️