I WANT TO BE WITH YOU

I WANT TO BE WITH YOU
CH 36 - JALAN KELUAR



HAPPY READING


AUTHOR BY AXRANS


**********


Erosh turun dari mobilnya kemudian bergegas memasuki sebuah gedung perkantoran yang sudah tak asing lagi baginya. Semua orang di kantor menyapanya dengan hormat ketika saling berpapasan dengannya. Erosh menuju ke lantai teratas di ruang wakil direktur.


"Selamat siang Pa." Sapa Erosh setelah mengetuk pintu dan orang yang ada di dalam ruangan mempersilahkan masuk.


"Selamat siang Rosh, kamu sudah datang?"


Erosh tersenyum mengangguk kemudian melangkah mendekat. "Papa nyuruh Erosh datang ke kantor, ada masalah apa Pa?"


"Duduk dulu Rosh." Pinta Alfian mempersilahkannya menempati sebuah kursi yang ada di hadapannya.


Erosh menurut, sekilas dia mengamati ruangan yang kini menjadi tempat Alfian bekerja sehari-hari, ruang wakil direktur yang sudah ditempati Alfian selama sebulan ini. Tidak diragukan lagi, kemampuan Alfian mengendalikan cabang perusahan Adam memang hebat. Erosh mendengar sendiri dari sekretaris Adam cara kerja Alfian sangat bagus. Tentu saja karena selama bertahun-tahun Alfian mengelola perusahaannya sendiri hingga begitu berjaya. Sayangnya, kerja kerasnya selama bertahun-tahun itu hancur karena kecemburuan partner kerja kepercayaannya yang telah menipunya.


"Ada hal yang harus Papa sampaikan ke kamu." Alfian mengawali.


"Tentang apa Pa?"


"Kamu masih ingat tentang rekan kerja Papa yang Papa ceritakan waktu itu?"


"Iya Pa," Erosh kembali mengingatnya. "Papa sudah menemukan kabar tentang dia?"


"Iya Rosh."


"Dimana orang itu sekarang Pa? Papa ketemu dia?"


Alfian menghela nafas panjang, "Papa belum ketemu, tapi kamu tahu? Ternyata Mega yang kamu kenal selama ini adalah anaknya." Ujarnya.


Erosh membelalak tak percaya? "Maksud Papa dia suami tante Elena?"


"Benar Rosh."


Om Brama? batin Erosh. "Jadi, Papa kemarin..."


"Ya, kemarin saat Papa bertemu Tante Elena, Papa sangat terkejut."


"Berarti perusahaan yang Om Brama dirikan itu berasal dari saham Papa yang dia curi?"


"Ya, setelah Papa simpulkan, bisa dibilang begitu."


Erosh sungguh tidak menyangka, bagaimana bisa Brama selama ini bisa hidup dengan tenang tanpa rasa bersalah dibalik kejahatan dan kecurangan yang sudah dia lakukan? "Tante Elena tahu semua ini Pa?"


"Tante Elena tahu semuanya Rosh, tapi dia tidak bisa berbuat apapun. Kamu tahu kan hubungannya dengan Brama tidak baik?"


"Tapi Pa," Erosh nampak tidak terima, Elena yang dikenalnya begitu baik, dia menyimpan rahasia buruk suaminya.


"Kamu jangan menyalahkan Tante Elena."


"Lalu apa yang akan Papa lakukan sekarang? Bahkan saat ini anaknya Om Brama membuat Bunda terbaring tak berdaya."


"Papa tahu, justru sekarang Papa bingung harus bersikap apa. Elena adalah teman baik Papa sejak dulu. Sebagai seorang Ibu, dia sangat menyayangi putri satu-satunya. Papa tahu apa yang dia rasakan, karena Papa juga orang tua. Tidak ada satupun orang tua yang ingin anaknya terluka." 


"Tapi sikap Mega sama sekali tidak bisa ditoleransi Pa,"


"Dia hanya belum bisa mengontrol sikapnya."


"Pa, Mega bahkan berusaha berbuat jahat sama Alya, dia..."


"Papa sudah tau semuanya dari Tante Elena. Papa tahu apa alasan Mega melakukan hal itu pada Alya."


Erosh terdiam sesaat, "Lalu apa yang akan Papa lakukan? Membatalkan penahanan Mega dan membiarkannya sewaktu-watu menyakiti Alya lagi?"


"Tentu saja Papa tidak akan membiarkan satu orangpun menyakiti Alya."


Erosh belum bisa memahami maksud perkataan Alfian.


"Tante Elena sudah berjanji sama Papa akan membawa Mega pergi jauh dari Alya."


"Dan Papa percaya kalo Mega akan menuruti semua perkataan tante Elena?"


"Seperti apapun Mega, dia tetaplah seorang anak. Papa yakin Tante Elena bisa dipercaya, sudah bertahun-tahun Papa mengenalnya. Kamu sendiri bagaimana? Bagaimana kamu mengenal tante Elena selama ini?"


Erosh membenarkan perkataan Alfian. Elena yang selama ini Erosh kenal memang berhati lembut. Dia begitu baik pada Erosh bahkan sejak pertama kali dia mengenal wanita itu. Dia tidak akan mungkin mengingkari perkatannya.


"Dan sebagai gantinya, Tante Elena menawarkan diri untuk membantu mengusut penggelapan dana yang dilakukan oleh Bram." Lanjut Alfian.


"Tante Elena bilang seperti itu Pa?" Tanya Erosh tak percaya.


Alfian mengangguk. "Sebenarnya Papa sudah mengikhlaskan semuanya. Papa sudah cukup bahagia dengan keadaan Papa sekarang. Tapi Papa pikir bagaimanapun juga, Bram harus mempertanggung jawabkan perbuatannya."


Erosh menyetujui semua ucapan Alfian. "Apa yang bisa Erosh lakukan untuk Papa?"


Alfian nampak tersenyum lega. "Kamu bersedia membantu Papa?"


"Tentu saja Pa."


"Pa..." Sergah Erosh. "Jangan bicara seperti itu lagi."


"Baiklah, Papa hanya berusaha mengatakan yang sebenarnya."


Erosh tahu, mungkin Alfian menganggap semua ini sebagai hutang budi. Tapi menurutnya, apa yang Erosh lakukan selama ini untuk keluarganya tidak akan pernah cukup untuk menggantikan apa yang sudah Nia lakukan untuknya. "Lalu, dokumen apa saja yang harus Erosh siapkan Pa?"


"Untuk masalah dokumen itu biar menjadi urusan Papa. Nanti Papa akan beri tahu apa saja yang harus kamu lakukan."


Erosh mengangguk paham. "Eng, apa ada lagi yang ingin Papa sampaikan ke Erosh?"


"Sepertinya untuk saat ini cukup itu dulu Rosh." Jawab Alfian setelah memikirkannya beberapa saat.


"Baiklah kalo gitu Pa," Erosh melirik jam tangannya. "Erosh harus pergi sekarang, setengah jam lagi Erosh ada kuliah."


"Ya, kamu bisa pergi sekarang."


Erosh menyunggingkan senyumnya.


"Hati-hati ya."


Erosh mengangguk kemudian melangkah meninggalkan ruang kerja Alfian.


"Erosh!" Panggil Alfian sebelum Erosh menyentuh gagang pintu.


Erosh menoleh, "Ya Pa?"


"Em, apa kamu serius dengan Alya?"


Erosh cukup terhenyak, nampak raut wajahnya berubah gugup. Dia terdiam beberapa saat sambil mengulum bibirnya.


"Papa hanya memastikan saja." Sambung Alfian dengan senyum mengembang di wajahnya.


Erosh menghela nafas lega, kemudian membalas senyuman Alfian.


ㅡBWY ㅡ


Alya sudah berganti pakaian steril agar bisa memasuki ruang IGD dimana Nia berbaring selama beberapa hari ini. Setelah dinyatakan sembuh dan diperbolehkan pulang hari ini, Alya bergegas ingin segera melihat kondisi Bundanya. Dia melangkah masuk perlahan lalu duduk di samping ranjang tidur Nia.


Ini adalah kali pertamanya Alya mengamati kondisi Nia dari dekat. Kedua mata Alya berkaca-kaca, tidak tega menyaksikan tubuh Nia yang tak berdaya.


"Bunda..." Alya menyentuh tangan Nia.


"Alya minta maaf, semua ini salah Alya." Ucapnya menyesal, butiran bening terjatuh membasahi pipinya.


"Bunda harus bangun, kita semua kangen Bunda. Papa, Erosh, Angga, Anggi, Alya, semuanya sangat menyayangi Bunda. Bunda cepet sembuh ya." Alya menghela nafas, hanya suara monitor detak jantung yang menggema di ruangan.


Alya membelai dengan lembut wajah Nia yang terlihat begitu pucat. Dia merindukan senyumnya, perhatiannya, dan kata-katanya yang selalu membuatnya merasa tenang. "Bunda, mau Alya ceritain tentang pertemuan pertama kita dulu?" Ujarnya pada sosok Nia yang hanya bisa berbaring tak berdaya.


"Bunda ingat nggak, waktu pertama kali Alya ngliat Bunda, Alya pikir Bunda itu pembantu baru Alya. Bahkan di hari pertama kita bertemu Alya sudah terlalu jahat sama Bunda ya?" Alya tersenyum pilu, sepilu hatinya saat ini.


"Alya juga sering banget nyuruh Bunda nemenin Alya nungguin Mama di tepi jalan, dan setiap kali penantian Alya sia-sia Bunda selalu menghibur Alya. Bunda juga selalu datang ke rumah untuk menenangkan Angga sama Anggi kalo mereka rewel. Bunda terlalu baik untuk kita." Tidak terasa air mata Alya mengalir deras seiring dia bercerita, semua ingatan tentang dia dan Bundanya dulu perlahan memenuhi pikirannya. Membuat dia begitu menyesal dengan apa yang telah dilakukannya selama ini.


"Dan mulai hari itu, dimana Papa memutuskan menikah dengan Bunda, Alya terlalu bodoh untuk menyadari bahwa Bunda begitu berharga. Harusnya Alya sadar, Mama nggak akan mungkin kembali pada Alya, Mama nggak peduli sama Alya. Tapi Bunda, Bunda selalu ada untuk Alya. Harusnya Alya tidak marah saat itu, harusnya Alya bahagia karena memiliki sosok Bunda yang begitu tulus menyayangi Alya."


Alya menangis sesenggukan, bahkan dia merasa tidak sanggup meneruskan kata-katanya. Dengan rasa sakit yang sangat menyesakkan dadanya dia menatap sosok Nia, tiba-tiba air mata mengalir dari sudut mata Nia. Alya terkejut, tubuh Nia bereaksi. Dia yakin Bundanya pasti bisa mendengar semua ceritanya.


"Bunda jangan sedih." Alya mengusap sisi wajah Nia yang sedikit basah oleh air mata. "Mulai sekarang Bunda nggak boleh sedih lagi. Alya janji akan selalu bikin Bunda bahagia. Alya nggak akan bikin Bunda kecewa lagi."


"Alya berharap, Tuhan memberi kesempatan kedua untuk Alya. Alya belum sempat membalas semua jasa Bunda. Alya belum jadi anak yang berbakti untuk Bunda. Bunda harus sembuh, Bunda harus bangun ya, Bunda mau lihat anak-anak Bunda ini tumbuh semakin besar kan?" Alya beralih mengecup punggung tangan Nia dan menggenggamnya erat seolah tak ingin kehilangannya.


Beberapa saat setelah suasana hening, tiba-tiba Alya dikagetkan dengan suara monitor yang berderit panjang menandakan bahaya. Alya tersadar kemudian panik seketika. Tubuh Nia mengejang. "Bunda, Bunda kenapa? Bunda!"


Alya segera menekan tombol darurat yang ada di dekat ranjang tidur dan tak lama kemudian seorang dokter bersama dua perawat memasuki ruangan.


"Dokter, Bunda saya kenapa? Apa yang terjadi?" Tanya Alya panik.


"Sebaiknya Mbak tunggu di luar." Perintah salah satu perawat itu menggiring Alya.


"Tapi suster, apa yang terjadi sama Bunda? Kenapa bisa begini?"


"Kami akan segera menanganinya. Mari silahkan tunggu di luar."


"Tapi sus," Alya bersikukuh tidak mau meninggalkan ruangan. Dia sangat mengkhawatirkan kondisi Nia yang tadinya terlihat baik-baik saja. Apa yang sebenarnya terjadi?


"Biarkan kami bekerja dengan maksimal untuk menangani Ibu Anda." Ujar perawat tadi dan Alya tidak punya pilihan lagi selain menurutinya.


Dengan berat hati Alya melangkah keluar dan hanya bisa menatap Nia dari balik pintu, membiarkan dokter dan dua perawat tadi menanganinya. Perasaan khawatirnya tidak bisa tergambarkan apalagi saat defribilator yang dokter gunakan menyentuh tubuh Bundanya dan membuatnya semakin mengejang. Apa Bundanya itu akan baik-baik saja?


Alya hanya bisa menangis dan terus menangis sembari berharap akan sebuah keajaiban mengembalikan keadaan Nia dan menyembuhkannya. Jangan sampai hal buruk terjadi pada Bundanya dan mengambil kesempatan keduanya.


ㅡBWY ㅡ 


***************


JANGAN LUPA LIKE, COMMENT, DAN VOTE BIAR AUTHOR SEMAKIN SEMANGAT BUAT UPDATE SETIAP HARI ❤️