I WANT TO BE WITH YOU

I WANT TO BE WITH YOU
CH 4 - TAK SENGAJA



Murid-murid SMA Andromeda sengaja dipulangkan lebih awal karena guru-guru akan mengadakan rapat rutin akhir bulan. Dan hari ini Alya menemani Mira pergi ke toko buku usai pulang sekolah. Sebenarnya dia malas! Kalau tidak dipaksa Mira, dia lebih memilih untuk tidur di rumah mumpung ada waktu yang lebih panjang.


"Udah belum Mir?" Alya mengikuti langkah Mira yang sedari tadi mondar-mandir dari rak satu ke rak buku yang lainnya.


"Bentar lagi Al."Jawab Mira. "Sante aja, masih jam sebelas kok. Waktu tidur siang lo masih banyak." Tangannya masih sibuk memilah-milah buku.


Alya mendengkus kesal. "Gue capek nih!"


"Lo duduk aja dulu, tuh di depan ada kursi kosong!"


"Gue bukan capek mondar-mandir Mir, mata gue pegel ngliatin buku!" Keluh Alya.


Mira menghela nafas, " Yaudah lo merem aja deh, ribet banget." Tuturnya.


"Masak gue merem di sini?" Protes Alya. "Udah yuk, balik sekarang aja."


"Sebentar lagi Al, gue belum nemuin buku yang gue cari. "


"Sebenernya lo mau beli buku apaan sih?" Tanya Alya tidak sabar.


"Ada deh pokoknya, kalo gue kasih tau juga lo nggak bakal ngerti." Jelas Mira.


Alya melotot kesal, tapi Mira ada benarnya juga. Dia memang tidak tahu menahu soal buku-buku bacaan. Alya tidak suka membaca bahkan buku pelajarannya sekalipun.


"Entar gue traktir es krim deh, gimana?" Sogok Mira melihat sahabatnya mulai kesal.


Alya terdiam, nampak berpikir sebentar. Lumayan juga siang-siang panas gini makan es krim.


"Mau kan Al?" Bujuk Mira sekali lagi.


"Hmm... La Ricchi yaa?" Pinta Alya kemudian setengah tersenyum licik.


Mira melirik tajam, "Lo malakin gue yaa?" Tanya Mira mendengar permintaan sahabatnya. Bagaimana tidak? La Ricchi adalah kedai es krim yang terkenal di Surabaya dengan harga lumayan fantastis.


"Please..." Alya pasang muka memelas.


Mira terdiam, dia menimbang-nimbang permintaan Alya. Apa boleh buat! Dari pada gue nggak bisa tenang nyari bukunya.


"Gimana?" Alya menaikkan kedua alisnya.


Mira memperlihatkan muka pasrah. "Iyaa deh, gue beliin..."


"Yess!!!" Pekik Alya sumringah. Sekali-kali ditraktir es krim mahal sama Mira, Batinnya.


Dan setelah itu, Alya mengikuti langkah Mira lagi menyusuri seluruh penjuru toko dan ikut melihat-lihat buku yang terjejer rapi di sekitarnya. Mulutnya sudah tidak bawel lagi semenjak sogokan yang dia terima dari Mira. Dasar Alya! 


---- BWY ----


Satu jam kemudian...


"Thank you Mira!" Ucap Alya gembira. "Ini enak banget!" Dia menguras habis Baked MarsmallowSmorenya yang dia pesan setelah nangkring di La Ricchi Gelato bersama Mira usai dari toko buku. Jelas saja, semua menu di sini memang terkenal dengan kelezatannya yang menggiurkan.


"Iyaa, sama-sama. Gue juga makasih udah ditemenin ke toko buku. Walopun ujung-ujungnya beliin lo eskrim juga!" Jawab Mira nyengir. Dia memesan Banana Flambe.


Alya terkekeh. "Lo emang yang paling baik deh Mir!"


Mira tersenyum datar menanggapi.


"Habis ini kita langsung balik yaa..." Kata Alya sambil melirik jam yang sudah menunjukkan pukul dua siang. Lumayan, masih ada waktu buat tidur siang, pikir Alya.


"Sekarang aja yuk! Gue juga udah selesei makan nih." Mira mengambil tas yang tergeletak di kursi sebelahnya dan bersiap menyelempangkannya. "Lo berangkat kerja dari rumah gue kan?"


"Iya dong! Mau balik ke rumah males." Jawab Alya.


"Yaudah kita balik sekarang." Mira melangkah keluar dari kedai es krim dan Alya mengekor di belakangnya.


"Kita mau naik apa nih?" Tanya Alya celingukan melihat di sekitar tempatnya berjalan tidak ada kendaraan umum yang lewat.


"Naik bis aja yuk, nyari taksi di sini agak susah. Tuh haltenya di ujung sebrang jalan." Mira menunjuk ke arah kanan, beberapa meter dari tempatnya dan Alya berdiri.


Alya mengangguk setuju. Mereka bersiap menyebrang jalan menuju halte ketika dengan tiba-tiba dari arah kiri sebuah mobil sedan sportymelaju kencang ke arah Alya dan Mira.


Alya terlonjak kaget. Dia menarik tangan Mira yang berada di depannya. Mira yang saat itu tidak fokus karena memperhatikan tas kresek yang ditenteng berisi buku yang baru saja dia beli langsung terhempas ke arah Alya. Seketika itu juga mereka berdua jatuh tersungkur dengan posisi badan Mira menindih Alya.


"Oh My God!!!" Pekik Mira. Dia buru-buru bangun melihat Alya tertindih oleh badannya.


Alya meringis kesakitan, telapak tangannya lecet karena bergesekan dengan aspal lumayan keras.


Mira membantunya berdiri. "Al, lo nggak apa-apa kan?" Tanya Mira panik. Dia bahkan belum menyadari apa yang terjadi.


Alya tidak menggubris pertanyaan Mira. "Kurang ajar banget sih tuh orang! Naik mobil nggak aturan! Emang dia pikir jalanan ini punya nenek moyangnya!" Maki Alya.


Mobil yang melaju kencang itu berhenti beberapa meter di depan Alya dan Mira jatuh. Alya berjalan menghampiri mobil itu.


"Alya, lo mau ngapain?" Mira membuntutinya.


Lagi-lagi Alya menghiraukan pertanyaan Mira, dia bermaksud menyembur orang yang hampir menabraknya. Begitu mendekati mobil itu, Alya langsung menggedor kaca depannya. "Keluar lo!" Panggilnya pada sosok pemilik mobil dengan penuh emosi.


Mira terperanjat kaget. Untung saja jalanan lumayan sepi jadi tidak ada orang yang menyaksikan adegan Alya yang tengah berteriak sambil menggedor kaca mobil orang.


Seseorang keluar dari pintu kiri mobil, cowok berwajah tampan dengan kaos oblong putih dan celana jeans hitam lengkap dengan sepatu Conversenya. Alya menatapnya dengan kaget sementara Mira terpana melihat ketampanannya yang memang tidak diragukan lagi.


"Sorry, lo nggak apa-apa?" Ucap si cowok tampan tadi.


"Ehhh?" Mira terkejut. "Tapi Al..." Kata Mira protes.


"Rosh, gimana?" Satu orang cowok lagi yang nggak kalah tampan keluar dari pintu kanan mobil dan mendekat pada Erosh ㅡcowok yang masih kebingungan dengan sikap cewek yang baru saja hampir tertabrak oleh mobilnyaㅡ.


Mira terus menoleh ke belakang, ke arah dua orang cowok tampan yang hampir menabraknya dan Alya. Sementara, tangannya masih berada di genggaman Alya dan dia melangkah mengikuti Alya yang mengajaknya pergi. Mira tidak tahu apa yang salah dengan dua cowok tadi sehingga Alya memilih meninggalkannya dan tidak jadi memakinya. Apa karena Alya tersihir oleh ketampanannya sehingga dia tidak tega untuk memakinya? Karena Mirapun juga tak akan tega untuk melakukan hal yang sama.


Erosh tidak menjawab pertanyaan orang yang ada di sebelahnya. Dia menatap Alya dan Mira yang mulai menjauh.


"Tuh cewek nggak apa-apa kan? Sorry tadi gue nggak fokus." Katanya lagi.


"Mungkin... " Jawab Erosh. "Lain kali lo harus lebih ati-ati Ga." Katanya lagi mengingatkan Arga, orang yang berdiri di sebelahnya.


"Oke bos, siap! Eh, tapi kenapa mereka berdua malah pergi? Lo kenal?" Tanyanya kemudian.


Erosh menggeleng. "Kita cabut!" Dia masuk lagi ke dalam mobil dan mengajak Arga melanjutkan perjalanannya yang tertunda.


---- BWY ----


Sesampainya di rumah Mira, Alya langsung mengobati luka di telapak tangannya. Untung saja lecetnya tidak terlalu parah. Setelah diberi antiseptik, Mira membantunya menutup lukanya dengan kain kassa. Tadinya dia ingin membawa Alya ke klinik namun langsung ditolak Alya mentah-mentah.


"Gue masih bingung Al. Penjelasan lo tadi bener-bener nggak masuk akal." Tutur Mira setelah selesai membantu Alya mengobati lukanya.


"Udah deh Mir, ngapain juga lo pikirin. Kita kan nggak kenal sama tuh cowok." Jawab Alya. Sebenarnya dia masih kesal, gara-gara cowok tadi telapak tangannya kini terasa perih.


"Tapi dari mana lo tau dia bukan cowok baik-baik?" Selidik Mira. Dia masih terbayang ketampanan dua cowok yang tadi hampir menabraknya. Sayangnya Alya bilang mereka itu cowok berandalan yang pernah Alya temui di tempat kerjanya.


Alya terdiam sesaat, mengingat salah satu cowok yang hampir menabraknya tadi. Wajahnya yang sudah tak asing lagi membuatnya khawatir. Tidak salah lagi, cowok itu adalah orang yang sama dengan yang dilihatnya beberapa saat lalu di klub dan di depan sekolahnya. Bagaimana bisa dia bertemu dengannya lagi bahkan Alya hampir berurusan dengannya kalo saja dia tidak segera menghindar.


Alya benar-benar takut jika suatu saat dia akan bertemu dengannya di klub saat bekerja sedangkan tadi dia berseragam sekolah. Cowok itu adalah orang yang dekat dengan Mega, teman satu sekolahnya. Dia bisa jadi ancaman untuknya jika dia tahu Alya satu sekolah dengan Mega dan cowok itu mengadu. Alya berharap cowok itu tidak akan mengingat wajahnya.


"Kok bengong sih Al?" Mira membuyarkan pikiran Alya.


Alya nyengir. "Siapa juga yang bengong?!"


"Ah, gue tau. Pasti lo masih mikirin dua cowok ganteng tadi kan?" Selidik Mira. "Gue bilang juga apa, mereka itu emang ganteng Al, dan gue yakin mereka itu juga baik."


"Emangnya semua cowok ganteng itu baik?" Alya balik bertanya tak terima.


Mira menggumam, "Ya enggak sih Al."


"Denger ya Mir, lo tuh jangan mudah ketipu sama tampang." Alya menambahi.


"Tapi lo bilang cowok itu pernah nongkrong di bar tempat lo kerja. Nggak semua orang yang ada di sana jahat kan? Nyatanya lo orang baik." Mira masih saja tak setuju dengan pendapat Alya.


Alya menatap Mira sinis. "Lo nyamain gue sama cowok tadi?"


"Eh, nggak! Bukan gitu maksud gue Al." Jawab Mira meringis.


"Udah ah nggak usah dibahas lagi. Gue capek! Gara-gara dia gue kehilangan banyak waktu istirahat, tangan gue lecet lagi." Gerutu Alya.


Mira balas menatapnya kesal, "Sekarang aja lo ngeluh, tadi kenapa lo nggak jadi maki tuh cowok?"


"Udah gue bilang kan, gue males berurusan sama dia." Jawab Alya bohong, dia pikir mungkin Mira tidak perlu tahu jika cowok itu ada hubungannya dengan Mega. Bisa-bisa dia tidak akan membiarkan Alya bekerja di klub lagi.


"Masak?" Mira tak percaya. "Apa jangan-jangan lo tersihir ketampanannya?"


Alya langsung melengos. "Idih, enggak! Masih tampanan dia tuh." Alya melemparkan boneka buaya milik Mira dan mengenai kepalanya tepat.


Mira merengut kesal. "Al, tadi lo nggak ngliat mereka berdua bener-bener tampan?"


"Nggak!" Jawab Alya singkat sekaligus acuh.


"Siapa tahu salah satu dari mereka itu jodoh kita. Masih inget kan waktu itu gue bilang soal mas-mas ganteng, tajir, baik hati..."


"Yaa bla bla bla... Dan lo mulai lagi mengkhayal!" Sela Alya tidak sabar mendengar celotehan Mira.


Mira langsung memanyunkan bibirnya seketika. "Tapi siapa tahu kita dapet jodoh yang model begitu."


Alya menatap Mira dan terkekeh geli. "Thank youMir, tapi gue nggak mau yang di khayalan lo, gue maunya kenyataan."


"Cowok tadi kan nyata Al."


"Tapi gue nggak mau.. "


"Jangan gitu lo, awas kalo ntar lo naksir!" Ancam Mira.


"Nggak!" Sanggah Alya yakin.


Dasar keras kepala. Mira menghela nafas panjang, lagi-lagi dia hanya bisa mengalah dengan Alya.


"Bangunin gue jam setengah tujuh ya." Pinta Alya sebelum dia membenamkan kepalanya di atas bantal tempat tidur Mira.


"Lo tetep berangkat?" Tanya Mira memastikan. Seharusnya Alya tidak perlu bekerja sementara tangannya sedang terluka. "Tapi tangan lo Al..."


"Ntar juga sembuh!"


"Lo serius? Emangnya ijin sehari aja nggak bisa?" Protes Mira.


Alya tidak menjawab, dia meletakkan telunjuk tangan kirinya di depan mulutnya. Lagi-lagi Mira dibuatnya kesal. Gue perlu tidur sebentar... Batin Alya sambil berusaha memejamkan matanya. 


---- BWY ----